Sidebar

Dampak Pembangunan Jurrasic Park di Pulau Rinca, Komodo Punah?

Dampak pembangunan Jurrasic Park Komodo di Pulau Rinca dapat mengganggu kelestarian satwa Komodo. Selama pembangunan akan banyak pepohonan yang ditebang.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Pembangunan geopark bertajuk ‘Jurrasic Park Komodo’ di Pulau Rinca, NTT mendapatkan tentangan dari berbagai kalangan. Sejumlah pihak khawatir, pembangunan ini akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan alam sekitarnya, mengingat Pulau Rinca masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Satwa purba langka, Komodo dan berbagai spesies satwa lain yang berada di ambang kepunahan.

Dilansir dari VOA Indonesia, Aloysius Suhartim, Ketua Forum Masyarakat Peduli dan Penyelamat Pariwisata (Formapp) di Maggarai Barat berusaha mengingatkan bahwa dampak pembangunan Jurrasic Park Komodo dapat mengganggu kelestarian satwa Komodo (Varanus komodoensis). Tak bisa dipungkiri, selama pembangunan Jurrasic Park di Pulau Rinca akan banyak pepohonan di sekitar lokasi yang ditebang.

Padahal pohon-pohon dari jenis Kesambi, Bidara, dan Asam menghasilkan buah-buahan yang menjadi sumber makanan bagi Monyet Ekor Panjang. Monyet inilah salah satu hewan buruan Komodo di alam liar. Jika pohon-pohon tersebut ditebang maka para Monyet akan kesulitan menemukan makanan, ini bisa membuat jumlah populasinya kian menyusut. Komodo akhirnya juga akan kesulitan mencari buruan.

Rancangan Jurrasic Park Komodo di Pulau Rinca (properti.kompas.com).

Selain itu, pepohonan adalah tempat berlindung anak-anak Komodo dari Komodo dewasa. Komodo yang baru menetas memiliki insting memanjat pohon untuk melindungi dirinya dari predasi Komodo dewasa. Para bayi Komodo tersebut akan tinggal di atas pohon selama dua hingga tiga tahun dengan memakan serangga, tokek, dan cicak. Jika pepohonan ini hilang, maka bayi-bayi Komodo akan menjadi santapan Komodo dewasa.

Tidak sampai di situ, Aloysius menuturkan bahwa lokasi pembangunan geopark Jurrasic Park Komodo merupakan tempat bagi beberapa hewan liar seperti, Babi Hutan, Kuda Liar, dan Kerbau Liar mencari makanan. Hewan-hewan itu adalah buruan Komodo. Kehadiran manusia dengan segala kebisingan pembangunan membuat hewan-hewan tersebut tidak nyaman sehingga pindah ke tempat lain.

Merusak Ekosistem Alam

Dilansir dari properti.kompas.com, Direktur Walhi NTT, Umbu Wulang Tanaamahu Peranggi, menilai pembangunan Jurrasic Park Komodo akan memberi dampak sangat besar terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Menurut Umbu, setidaknya ada tiga jenis potensi gangguan yang mungkin disebabkan oleh pembangunan geopark di Pulau Rinca.

Komodo diprediksi akan kesulitan mencari mangsa jika pembangunan Jurrasic Park Komodo terus dilanjutkan (bobo.grid.id).

Pertama adalah perubahan bentang alam yang memicu gangguan pada biodiversitas alam. Hal ini juga bisa berefek pada ketersediaan air tanah dan potensi residu pembangunan seperti sampah dan limbah. Jika tidak dikelola dengan baik, maka dampak kedua dapat menyebabkan adanya pencemaran yang mengganggu kehidupan biota laut. Tentu saja, jumlah ketersediaan air bersih di kawasan ini akan kian langka.

Ketiga, sebagai kawasan Taman Nasional sudah selayaknya dilakukan pengkajian yang lebih mendalam terkait dampaknya terhadap alam dan lingkungan. Pembangunan infrastruktur ini juga berpotensi menyulut konflik sengketa sumber daya lahan dan perebutan sumber daya air dengan masyarakat di sekitar. Konflik ini muncul karena ada potensi berkurangnya wilayah kelola masyarakat karena privatisasi.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Awal Penemuan Komodo yang Gegerkan Dunia, Reptil Purba Legendaris!

Suku Komodo di Pulau Rinca, Saudara Kembar Komodo yang Terasingkan

Taman Nasional Komodo di NTT, Tujuh Keajaiban Dunia yang Terlupakan

6 Hewan Langka di Pulau Komodo yang Tidak Pernah Diketahui Dunia

Kenapa Komodo Hanya Ada di Indonesia? Ternyata Ini Alasannya

Wanita Haid Tidak Boleh ke Pulau Komodo di NTT, Kenapa?

FALLBACK
The END