Dampak Negatif Pariwisata yang Memperhatikan Pembangunan Satu Sisi

Pengembangan pariwisata yang tidak seimbang dapat menyebabkan berbagai dampak negatif (Flickr/

Dewasa ini, kebutuhan akan pariwisata seakan menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Peningkatan kebutuhan ini diikuti dengan meningkatnya pembangunan destinasi-destinasi wisata baru. Tak hanya pemerintah, pihak swasta dan masyarakat pun berlomba-lomba mengembangkan pariwisata lokal daerahnya untuk menarik minat wisatawan.

Dalam mengembangkan daerah menjadi destinasi wisata harus dilakukan secara seimbang dengan memperhatikan berbagai aspek seperti aspek sosial, lingkungan, ekonomi dan budaya yang berlaku. Namun karena kurangnya pengetahuan, rata-rata pihak pengembang hanya memperhatikan aspek ekonomi tanpa memperdulikan sisi lainnya. Dikutip dari I. Mokuginta dan E. Maryani dalam tulisannya yang berudul Rencana Pengembangan Pariwisata Propinsi Jawa Barat, pengembangan pariwisata yang tidak seimbang dapat memicu berbagai dampak negatif sebagai berikut.

  1. Sulit menciptakan civil society – mengingat bahwa pariwisata merupakan kegiatan intrusive, pengaruh positif maupun negatif dari wistawan yang berkunjung akan sangat mempengaruhi kehidupan dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat. Pengembangan pariwisata yang hanya mementingkan aspek ekonomi akan mempermudah masuknya pengaruh negatif pada kehidupan dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat.
  2. Masyarakat cenderung pasif – ketika kegiatan pariwisata yang tumbuh berbenturan dengan nilai-nilai sosial budaya yang dianut oleh masyarakat setempat maka akan menyebabkan terjadinya penolakan. Pada kasus yang lebih parah, hal ini dapat memancing amarah masyarakat bahkan memicu terjadinya bentrokan yang berujung kekerasan fisik.
  3. Sulit untuk mencapai kondisi yang berkelanjutan (sustainability) – pengembangan pariwisata yang hanya menitikberatkan sisi ekonomi mendorong kecenderungan terjadinya over exploitation pada sumber daya alam, sehingga menyebabkan penurunan kualitas destinasi wisata dan minat wisatawan.
  4. Sulit menciptakan kegiatan ekonomi masyarakat – hal ini disebabkan karena biasanya masyarakat setempat belum memiliki cukup keahlian, sehingga dalam praktiknya aspek keuntungan ekonomi perlu dikorbankan terlebih dahulu.

Lalu bagaimana pengembangan pariwisata sebaiknya dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu memperluas pemahaman pelaku pengembang tentang pariwisata. Sehingga aspek sosial, budaya, dan lingkungan di luar ekonomi dapat menjadi tiang utama dalam pengembangan suatu daerah menjadi destinasi wisata baru. Sejatinya pariwisata merupakan pengembangan potensi dari ketiga aspek tersebut.

Dapatkan ulasan menarik tentang pariwisata dan tulisan Lain dari Taufiqur Rohman

Tags: , ,

Paket Produk Penawaran