Bali Terancam Kekeringan Bila Bisnis Pariwisata Abai pada Lingkungan

Statistik menyebutkan bahwa 65 persen air tanah di Bali diserap oleh bisnis pariwisata. Kamar-kamar hotel, resor, maupun penginapan terkait mengonsumsi hingga 3.000 liter air tanah setiap harinya.

SHARE :

Ditulis Oleh: Himas Nur

Bisnis pariwisata kita rupanya masih perlu evaluasi lebih lagi. Pembangunan resor dan penginapan-penginapan terkait ternyata bertanggung jawab atas krisis air di Bali masa mendatang. Mengapa demikian?

Baca Juga: Traveling Ternyata Meninggalkan 8% Jejak Karbon Pemicu Perubahan Iklim

Pariwisata mendominasi 80 persen perekonomian Bali, meski diperkirakan 85 persen di dalamnya adalah milik investor dari luar pulau.

Statistik menyebutkan bahwa 65 persen air tanah di Pulau Dewata diserap oleh bisnis ini. Kamar-kamar hotel, vila, resor, dan penginapan-penginapan itu mengonsumsi hingga 3.000 liter air tanah setiap harinya.

Nominal tersebut belum termasuk dengan air yang digunakan pada kolam-kolam, pemandian, proyek pembangunan seperti bangunan dan bahkan kini banyak dibangun lapangan golf, termasuk untuk resor Donald Trump.

Akibat dari industri ini, 260 dari 400 sungai di Bali mengalami kekeringan selama satu dekade terakhir. Praktik ekstrasi air tanah menurunkan pasokan air tanah hingga 60 persen.

Sumber air segar terbesar di Bali, Danau Buyan, telah menurun 3,5 meter, sementara akuifernya sekarang dengan cepat mencapai titik yang tak bisa kembali saat air laut mulai memasuki sumber air bersih.

industri pariwisata di Bali (Foto/Bisnis Wisata)

“Dampak penyusutan air sangat signifikan,” ujar satu peneliti senior asal Bali, dilansir Vice.

“Semakin banyak kita mengambil air dari tanah, semakin kita menciptakan celah untuk air laut mengisi celah tersebut karena ada tekanan konstan bahwa air laut memasuki tanah.”

“Dengan meningkatnya pariwisata, tingkat permukaan air akan semakin menurun,” ujar peneliti dari Politeknik Negeri Bali, Ida Bagus Putu Binyana, dilansir dari sumber yang sama.

“Jadi, dalam jangka pendek, air bukan masalah. Namun dalam jangka panjang, ini akan menjadi isu yang lebih besar karena tingkat permukaan air menurun, dan di banyak area coastal ada intrusi air laut,” ujar Ida menambahkan.

Baca Juga: Pembangunan Bandara Kulon Progo dan Penggusuran Lahan Petani Temon; Darah dan Tanah Milik Siapa?

IDEP, lembaga swadaya yang membela hak petani mengakses air bersih, menyampaikan bahwa sebuah sistem “sumur isi ulang” dapat mengarahkan air bawah tanah hasil hujan buat mengisi pasokan air di Bali.

Solusi ini bisa dibilang tidak murah, sebab sistem ¨sumur isi ulang¨memakan biaya hingga US$1 juta. Namun tetap saja, sistem ini bisa saja berjalan bila ada pergerakan dan dukungan nyata dari pemerintah atau bisnis pariwisata itu sendiri.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU