Alasan Mengapa Desa Penglipuran Bali Menjadi Desa Terbersih di Dunia

Desa Penglipuran Bali dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia, bersama dengan Desa Giethoorn di Belanda, dan Desa Mawlynnong di India.

SHARE :

Ditulis Oleh: Desti Artanti

Foto dari sini

Potensi desa wisata sebagai ide perjalanan bersama teman maupun keluarga kini makin dikembangkan. Di setiap daerah, kini mudah dijumpai tempat-tempat wisata yang dikelola oleh masyarakat setempat. Dengan bantuan dana pengembangan dari pemerintah, desa wisata jadi salah satu magnet baru untuk menggaet wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Tak ketinggalan, Desa Penglipuran di Bali menjadi salah satu pionir desa wisata yang sukses di Indonesia, bahkan di kancah internasional. Awal tahun 2016 ini, Desa Penglipuran dan 2 desa lainnya yaitu Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India, dinobatkan sebagai desa terbersih di dunia. Jika Anda pernah mengunjungi desa Penglipuran Bali ini, pasti Anda juga setuju kan dengan penghargaan tersebut? Pasalnya, ketika Anda berjalan menyusuri desa, Anda tak akan menemukan sampah di mana pun!

Berikut adalah alasan bagaimana Desa Penglipuran Bali menjadi desa wisata terbersih di dunia.

Terbiasa Bermusyawarah

Masyarakat Desa Penglipuran yang terletak di Banjar Penglipuran, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali ini, rupanya mempunyai kebiasaan bermusyawarah untuk mencapai suatu keputusan tertentu, atau mengatasi solusi dari masalah yang terjadi di lingkungan desa. Jika ada permasalahan seperti got tersumbat, kerja bakti, maupun semua masalah yang terkait dengan lingkungan.

Dengan begitu, masalah sepele maupun besar pun akan diselesaikan secara bergotong royong, karena masyarakat setempat memiliki kesadaran akan Desa Penglipuran sebagai milik bersama. Maka tak heran, predikat desa terbersih juga lahir dari kebiasaan bermusyawarah ini.

Menganut Falsafah Tri Hita Karana

Selain menjunjung tinggi kerukunan dan kebersamaan antar warga, masyarakat desa wisata Penglipuran ini juga menjunjung tinggi falsafah hidup Tri Hita Karana, yaitu sebuah falsafah yang senantiasa menjaga keharmonisan dalam relasi antar sesama manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan. Meskipun para generasi penerus Desa Penglipuran menempuh pendidikan formal sampai ke tingkat universitas, namun mereka tetap diajarkan untuk selalu melestarikan tradisi yang diwariskan para leluhurnya.

Tak heran, bila arsitektur desa ini sangat kental dengan nuansa budaya Bali dan Hindu yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat. Bangunan-bangunan di sana pun juga ditempatkan secara konsisten dari masa ke masa. Misalnya, bangunan suci harus selalu terletak di hulu, perumahan di tengah, sedangkan ladang usaha berada di pinggir atau hilir.

Berkomitmen dengan Aturan yang Berlaku

Ketua pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Nengah Moneng menuturkan, kebersihan Desa Penglipuran ini sudah terjalin secara turun-temurun di kepribadian masyarakat. Moneng mengatakan, seluruh warga merasa memiliki tanggung jawab untuk melestarikan ajaran leluhurnya secara turun temurun.

Desa Penglipuran yang mempunyai 243 kepala keluarga ini mempunyai aturan desa atau yang akrab disebut awig-awig yang mengatur soal kebersihan desa. Meski menyantumkan aturan soal kebersihan, nyatanya tak ada aturan mengenai sanksi di dalamnya. Dalam awig-awig ada diatur kewajiban menjaga lingkungan, kebersihan, keasrian, keindahan Desa Penglipuran.

Jika ada yang ketahuan membuang sampah sembarangan, tidak akan dikenakan sanksi, hanya teguran saja. Meski tak ada sanksi, bukan berarti masyarakat setempat lantas meremehkan awig-awig. Justru, masyarakat menjadi berkewajiban untuk menjaga kearifan luhur yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

 

Baca juga:

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU