12 Alasan Harus Mendaki Gunung Sebelum Berusia 25 Tahun

Berkibarnya Sang Sak Merah Putih di ketinggian. Foto oleh Acen

acenphoto

photo by Acen

Seorang teman bertanya: ngapain sih lo, manjat gunung melulu? Ntar juga turun lagi!

Bukan hanya seorang teman, bahkan manajer juga berkomentar hal yang sama ketika ingin mengajukan cuti kerja untuk mendaki gunung.

Kadang membuat saya jadi berpikir ulang, kenapa ya saya terus-terusan mendaki gunung? Padahal, mendaki gunung adalah kegiatan yang jelas-jelas melelahkan, nyusahin diri sendiri, merepotkan, dan juga membuat badan pegal-pegal. Belum lagi, biaya untuk akomodasi mendaki gunung yang tidak sedikit.

Yang paling masuk akal sih, di era traveling yang semakin maju, semakin banyak lokasi yang bisa dikunjungi, saya justru tetap memilih mendaki gunung lewati lembah di tengah hutan belantara. Mungkin, mendaki gunung sudah menjadi habit yang saya lakukan semenjak masih di bangku kuliah. Mungkin juga, karena banyak alasan kenapa saya mendaki gunung semenjak masih berusia muda.

Makanya, sebelum usiamu menjadi 25 tahun, paling tidak, kamu juga harus mendaki salah satu gunung di Indonesia. Kenapa?

1.    Masih muda

Membawa ransel gunung (carrier)berukuran 75 liter tidak menjadi halangan buat saya mendaki gunung Cikuray yang mempunyai elevasi cukup tinggi. Usia yang masih muda memberikan saya banyak keuntungan, yaitu kondisi tubuh yang masih prima, semangat yang masih membara, dan tidak cepat lelah. Sehingga trek gunung Cikuray yang cukup berat dipenuhi tanjakan dengan akar-akar pohon yang melintang dimana-mana, tidak menggentarkan langkah kaki saya untuk mencapai puncak gunung Cikuray.

2.    Masih banyak waktu luang

Waktu masih kuliah, banyak jadwal tidak beraturan sehingga saya mempunyai waktu luang untuk lebih sering mendaki gunung. Saya bisa mendaki 3 gunung sekaligus dalam waktu sebulan. Seperti gunung Papandayan di Garut yang makan waktu sekitar 3 hari 2 malam. Lalu mendaki gunung Sindoro di Jawa Tengah yang makan waktu 4 hari 3 malam, plus pulang pergi Jakarta-Wonosobo.Lalu gunung Gede di Bogor yang menghabiskan waktu 2 hari 1 malam. Kesemuanya dilakukan bukan di weekend.

3.    Mengenal diri sendiri lebih cepat

Ketika mendaki gunung, kita menyadari kelemahan dan kelebihan diri kita sendiri. Seperti yang terjadi pada diri saya saat mendaki gunung Raung.

“Saya menyadari bahwa sebenarnya saya sangat takut ketinggian”

Sebisa mungkin saya mengalahkan ketakutan agar dapat kembali dengan selamat.

4.    Menambah teman

Terutama dengan mengikuti open trip maupun sharing cost trip, seperti perjalanan saya ke Gunung Bromo, saya selalu mendapatkan teman baru. Di Bromo, bahkan teman yang saya dapatkan adalah teman internasional, seperti orang Filipina, Singapura, India, dan Jepang.

Kami tetap terhubung di sosial media dan bahkan sedang merancang perjalanan pendakian bersama ke Gunung Pulag di Filipina.

acen-siluet

photo by Acen

5.    Jiwa petualang masih utuh

Usia saya masih 21 tahun ketika mendaki gunung Semeru. Sayamasih bisa sangat menikmati duduk berbelas jam di dalam kereta ekonomi Matarmaja.

Saya masih penasaran akan berbagai hal yang saya temukan selama perjalanan dari Jakarta menuju Stasiun Malang. Rasanya saya tidak mau kehilangan momen untuk makan nasi pecel di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta.

Memotret pemandangan dari kaca jendela kereta. Merasakan angin langsung di pintu masuk kereta. Dan juga, tidur di lantai beralaskan koran.

6.    Menghilangkan galau

Saya mendaki gunung Sindoro hanya karena galau baru saja putus dari pacar. Iya, putus cinta memang dapat membutakan orang untuk melakukan hal-hal yang nekat.

Karena galau, saya tidak pikir panjang menerima ajakan teman untuk mendaki gunung Sindoro. Namun di pendakian, justru saya lupa sama sekali soal kesedihan dan kegalauan sehabis putus. Yang ada, hanya rasa sangat gembira karena melihat hamparan luas kebun teh, padang sabana, terang bulan, dan juga lautan awan saat sunrise.

7.    Menemukan jodoh

Seorang teman bercerita bagaimana caranya dia bertemu dengan pacarnya sekarang. Ternyata mereka bertemu di pendakian bersama gunung Gede. Awalnya mereka dekat hanya karena teman saya selalu menjadi sweeper sehingga mengharuskannya berada di belakang, menjaga rombongan yang mostly adalah wanita. Sampai akhirnya, ada seorang wanita yang selalu mengajak ngobrol teman saya, berjalan bersama-sama, saling bercerita tentang diri masing-masing, lalu merasa klik dan berlanjut dengan menjalin hubungan.

8.    Belajar mengatur waktu

Mendaki gunung  Gede di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango membuat saya belajar satu hal: time-management. Karena, gunung ini mempunyai jadwal ketat dimana para pendaki hanya boleh menginap maksimal 2 hari 1 malam, yang artinya, saya dan rombongan harus benar-benar memastikan timing yang tepat.

Saya biasanya mulai mendaki dari basecamp Gunung Putri maupun Cibodas di hari Jumat malam, sekitar pukul 23.00.Artinya, saya dan rombongan diharuskan sudah berada di basecamp Gunung Putri atau Cibodas lagi maksimal di hari Sabtu malam pukul 23.59, lebih dari itu, sudah tentu kami akan didenda.

9.    Pengalaman baru

Dulu, sebelum mendaki gunung, saya selalu merasa iri dengan kakak kelas saya yang dengan bangganya menggendong ransel gunung yang terlihat sarat muatan. Saya bercita-cita, bahwa sekali saja dalam hidup dapat merasakan pengalaman mendaki gunung.

Ternyata cita-cita saya dikabulkan!

Pengalaman pertama saya mendaki gunung adalah gunung Merbabu, yang langsung membuat saya jatuh cinta pada kegiatan ini. Saya bisa merasakan berhadapan langsung dengan alam liar, tidur di dalam tenda di tengah dinginnya malam, bahkan terpaksa minum air yang sedikit mengandung belerang. Pengalaman baru yang tak akan bisa saya lupakan seumur hidup.

acen-sunrise

photo by Acen

10.    Belajar bertanggung jawab

Saat berada di gunung, ada satu hal yang selalu saya lakukan, yaitu mengantongi plastik bekas makanan ringan sehabis dimakan.

Tak segan-segan juga saya mengingatkan teman satu rombongan yang membuang sampahnya sembarangan. Karena buat saya, membuang sampah pada tempatnya merupakan contoh nyata kecil kita dapat bertanggung jawab. Selain itu, karena gunung juga bukan tempat sampah!

11.    Belajar untuk tidak menyerah

Pendakian Gunung Rinjani saya lakukan saat berusia 22 tahun. Saat itu saya sedang berada dalam kebuntuan mengerjakan skripsi. Yang saya ingin lakukan hanyalah pergi sejauh-jauhnya dan melupakan skripsi saya. Bahkan, saking tidak pedulinya, saya sempat memutuskan langsung mencari kerja tanpa menyelesaikan skripsi dan kuliah saya.

Saya nekat mendaki gunung Rinjani alih-alih menyelesaikan skripsi. Pendakian gunung Rinjani justru menjadi titik balik. Medan gunung yang terkenal dengan Bukit Penderitaannya itu ternyata sangat berat, namun saya lewati hambatan demi hambatan hingga akhirnya mencapai puncak. Hal ini menyadarkan saya bahwa, saya harusnya bisa menyelesaikan skripsi tanpa kenal lelah seperti saya akhirnya mencapai puncak Gunung Rinjani.

12.    Because it’s there!

Salah seorang teman di komunitas saya pernah melontarkan pertanyaan soal kenapa kalian mendaki gunung, dengan iming-iming hadiah voucher pulsa senilai 50ribu rupiah, jika ada orang yang dapat menjawab seperti keinginannya.

Lalu semua orang memberikan jawaban-jawaban mulai dari jawaban yang paling absurd, seperti: karena pipis di gunung gak perlu bayar 2000. Sampai jawaban yang paling mendayu-dayu, seperti: karena mendapatkan ketenangan jiwa ketika berada di gunung.

Tapi rupanya bukan itu jawaban yang diinginkan teman saya tadi. Lalu, ada teman saya yang menjawab: karena gunungnya ada. Teman saya yang memberi pertanyaan menyatakan bahwa itulah jawaban yang dia inginkan.

Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya, pertanyaan retorik sekaligus jawabannya tadi cukup populer di kalangan pendaki. Karena itu adalah pertanyaan retorik yang ditanyakan kepada George Mallory, yaitu: “Why do you want to climb Mount Everest? “Kemudian, ia jawab dengan, “Because it’s there!”

So, kenapa harus mendaki gunung sebelum berusia 25 tahun?

“Because it’s there!”

Dapatkan ulasan menarik tentang dan tulisan Lain dari Acen Trisusanto

Tags: , ,

Paket Produk Penawaran