Desa Adat Bawomataluo di Nias Selatan, Desa Purba Tertua di Indonesia

Desa Adat Bawomataluo merupakan desa purba di Nias Selatan yang populer setelah tradisi Lompat Batu dalam lembar uang Rp 1.000 tahun 1990-an.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Desa Adat Bawomataluo merupakan desa purba di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Berjarak sekitar 30 Km dari Bandara Binaka Gunung Sitoli. Pemukiman Bawomataluo mempunyai nilai yang tinggi dan bersifat universal, ini dapat terlihat dari budaya dan lingkungan alam maupun sosialnya yang masih lengkap dan utuh terjaga.

Lokasinya terletak di ketinggian 270 mdpl, di atas perbukitan yang aman dari gemlombang tsunam setinggi 4 meter sekalipun. Masuk ke kampung harus menapaki empat buah anak tangga di teras pertama, dan 70 anak tangga di teras kedua. Setiap rumah saling berdapan dengan jarak empat meter, di bagian tengah terdapat halaman dari susunan batu untuk ritual.

Baca juga: Awuwukha, Pemenggal Kepala dalam Sejarah Nias

Nama Bawomataluo menjadi sangat populer setelah tradisi Lompat Batu atau Hambo Batu/Fahombo terlukis dalam lembar uang Rp 1.000 di tahun 1990-an. Tradisi Lompat Batu lahir dari kebiasaan masyarakat Nias pada zaman dahulu, setiap desa membentengi wilayahnya dengan benteng dari batu atau bambu setinggi dua meter. Lompat Batu menjadi bentuk latihan.

Uang Rp 1.000 tahun 1990-an (shopee.co.id).

Seiring waktu, setelah perang antar-desa tidak terjadi, tradisi Lompat Batu kemudian mengalami perbuhan menjadi simbol kedewasaan bagi seorang laki-laki. Tidak akan dikatakan dewasa dan diizinkan menikah sebelum mampu melewati batu setinggi dua meter ini. Lompat Batu diajarkan pada seorang anak laki-laki sejak kecil, tapi tidak semua mampu melakukannya.

Selain itu, Desa Bawomataluo juga memiliki satu lagi tradisi tiak bisa, yaitu Tari Perang yang disebut Tari Fataele. Kesenian ini tidak bisa terpisahkan dengan tradisi Lompat Batu. Dipimpin oleh seorang panglima, gerakan tari ini sangat dinamis menggambarkan formasi dan pergerakan tangkas dari kesatria di arena perang. Teriakan garang sesekali juga disuarakan penari.

Baca juga: Wisata Nias Sandang Predikat The Paradise on Earth

Situs Purba dari Zaman Megalitikum

Nama Bawomataluo dalam bahasa setempat berarti Bukit Matahari. Desa Adat Bawomataluo merupakan salah satu perkampungan tradisional yang tertua di Indonesia. Menjadi bagian dari tradisi Megalitikum ribuan tahun lalu. Beberapa situs era Megalitikum masih dapat dilihat hingga sekarang, terbagi menjadi dua jenis berdasarkan posisi, yaitu daro-daro dan naitaro.

Beberapa situ Megalitikum di Desa Bawometaluo (travel.kompas.com).

Daro-daro berupa batu dengan posisi mendatar sehingga menyerypai meja, sedangkan naitaro dalam posisi tegah mirip tiang batu. Yang terbesar yaitu berada di depan rumah kepala suku, bagian pintu gerbang diapit dua meja batu berbentuk perahu dengan ornamen bunga, sulur daun, serta manusia. Meja bulat ditopang empat tiang juga terdapat tak jauh dari lokasi tersebut.

Baca juga: Kebudayaan Nias Ditakuti oleh Para Kolonial

Kedua situs Megalitikum tersebut hingga sekarang masih digunakan untuk ritual, salah satunya adalah upacara untuk memperingati meninggalnya kepala suku pertama. Konon di waktu tertentua, roh kepala suku menjelma kembali, kemudian duduk di meja batu purba untuk melihat kondisi anak cucunya. Seluruh situs Megalatikum di desa ini dianggap sakral serta suci.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU