Hutan Kampung Enggros, Hutan Adat Khusus Perempuan di Papua

Hutan Kampung Enggros merupakan hutan adat di Teluk Youtefa yang sangat disakralkan dan hanya boleh dikunjungi oleh kaum perempuan saja.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Hutan Perempuan di Kampung Enggros Papua (BBC.com/Alfonso Dimara).

Hutan Kampung Enggros merupakan hutan adat yang sangat disakralkan dan hanya boleh dikunjungi oleh kaum perempuan saja. Terletak di Teluk Youtefa, sebelah timur Abepura di kawasan pesisir Jayapura. Hutan ini memiliki luas mencapai 8 hektare dengan dominasi pohon bakau yang sangat diajaga oleh masyarakat lokal. Biasanya kaum para perempuan Enggros datang ke hutan ini untuk berburu bia atau kerang.

Masyarakat Kampung Enggros menyebut aktivitas ke hutan perempuan ini dengan Tonotwiyat, Tonot punya bmakna hutan bakau dan Wiyat bermakna ajakan untuk datang. Para perempuan akan masuk ke Tonotwiyat untuk mencari kerang dengan berkelompok 3-5 orang menggunakan kole-kole, sejenis perahu kayu. Kerang-kerang tersebut akan dikonsumsi sendiri atau dijual per tumpuk di pasar tradisional yang terdekat.

Satu yang unik, para perempuan akan melepaskan seluruh pakaiannya alias telanjang saat mencari kerang. Karena Tonotwiyat terlarang untuk laki-laki, tak akan ada yang berani mengintip aktivitas para perempuan Enggros. Selain menjadi tempat perburuan, hutan adat ini juga menjadi tempat untuk bercengkerama dan curhat. Selama Tonotwiyat, mereka akan saling ngobrol tentang keluarga, urusan dapur, hingga anak.

Baca juga: Kenapa Papua Barat Ingin Merdeka? Ternyata Ini Alasannya

(liputan6.com/Katharina Janur)

Sanksi Adat untuk Laki-Laki

Laki-laki sangat diharamkan menginjakkan kaki di hutan perempuan. Siapapun yang melanggar akan dikenai sanksi adat berupa manik-manik yang dianggap berharga. Terdapat tiga jenis manik-manik, yaitu warna biru, hijau, dan putih. Manik-manik warna biru menjadi yang paling mahal. Masyrakat Kampung Enggros memakai manik-manik ini sebagai mahar atau mas kawin oleh kaum laki-laki ketika prosesi pernikahan.

Keberedaan hutan Kampung Enggros menjadi simbol pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan di struktur sosial. Kaum laki-laki bertugas mencari ikan di laut, sedangkan perempuan mencari kerang di hutan bakau. Prinsip ini sangat dipegang teguh oleh masyarakat Enggros. Dalam hukum adat Enggros, perempuan adalah makhluk yang istimewa sehingga tidak boleh diperlakukan layaknya budak atau semena-mena.

Orgenes Maraudje, seorang tokoh masyarakat Kampung Enggros kepada BBC.com menuturkan perempuan adalah makhluk yang paling bersih, mereka tidak boleh mendengar kata-kata kasar dan dijaga dalam prinsip hukum adat. Hutan perempuan telah lestari selama tujuh generasi dengan tradisi yang mistik. Apapun yang terjadi di hutan ini tak boleh diceritakan kepada siapapun kecuali dia datang langsung ke hutan.

Baca juga: Kenapa Papua Nugini Tidak Masuk Indonesia? Simak Penjelasannya

(liputan6.com/Katharina Janur)

Semakin Terancam dan Terlupakan

Seiring kemajuan zaman, tradisi hutan perempuan semakin terlupakan. Semakin sedikit perempuan muda yang peduli pada nilai-nilai luhur hutan perempuan Kampung Enggros, sehingga tumpuan harapan berada di para perempuan-perempuan yang lanjut usia. Belum lagi sampah-sampah dari Abepura, Hamadi, serta Entrop yang bermuara ke hutan ini. Sampah-sampah sebagian besar berasal dari limbah rumah tangga.

Teluk Youtefa yang mencakup Enggros, Tobati, dan Nafri telah ditetapkan sebagai Kawasan Wisata Alam sejak 1976. Kampung Enggros adalah area pemukiman terapung di atas lautan. Akses menuju ke Kampung Enggros hanya dapat ditempuh denga speedboat selama 10 menit dari Pantai Ciberi. Hutan perempuan di tempat ini menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati yang sebagain sudah terancam punah.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU