Traveling Kini Tak Sekadar Untuk Hiburan dan Bersenang-senang Seorang Diri

Traveling pada dasarnya adalah kegiatan hiburan untuk bersenang-senang. Namun sebetulnya, lebih dari itu, traveling bisa berdampak luas. Seperti yang terjadi sekarang, makin banyak kegiatan galang dana traveling untuk kegiatan amal.

SHARE :

Ditulis Oleh: Shabara Wicaksono

Pada dasarnya traveling memang untuk bersenang-senang. Namun kini, traveling tak sekadar bersenang-senang seorang diri. Jika Anda tahu, ada banyak sekali aktivitas traveling di luar sana di mana traveling memiliki dampak lebih luas, seperti misal para relawan yang melakukan perjalanan ke Indonesia timur untuk berbagi buku dan mengajari anak-anak di sana membaca, atau mereka yang mengumpulkan dan membawa alat sekolah dari para donatur seluruh Indonesia untuk dibagikan ke anak-anak di Flores, atau ada juga aksi galang dana untuk kegiatan seven summit dunia yang membawa nama negara dan menginspirasi.

Traveling tak lagi jadi sekadar untuk kesenangan diri. (Foto/leetchi).

Baca juga: Dua startup Indonesia raih penghargaan pariwisata internasional

Saya Prasetyo Nurhardjanto atau biasa dipanggil Pras. Sehari-hari saya bekerja di salah satu perusahaan Multinasional di Jakarta. Bulan Maret ini, tepatnya dimulai tanggal 23 Maret. Saya akan melakukan pendakian ke Everest Basecamp. Saya akan menembus ganasnya alam pegunungan Himalaya hingga pada ketinggian 5364mdpl.

Tulisan di atas merupakan salah satu unggahan di platform crowdfunding Indonesia, kitabisa.com.

Prasetyo Nurhardjanto, ingin melakukan pendakian ke base camp Everest dengan biaya sendiri demi kegiatan amal.

Dari tulisan Prasetyo, ia melakukannya untk mendukung yayasan Komunitas Taufan.

Menurut tulisan Prasetyo, Yayasan Komunitas Taufan adalah yayasan yang bergerak mendampingi keluarga pasien anak penderita kanker dan penyakit beresiko tinggi lainnya agar mereka bisa mendapatkan dukungan moral, material, maupun finansial dari relawan dan donatur selama menjalani hari-hari pengobatan.

Maka untuk kali ini, saya ingin meminta bantuan dari teman-teman dari untuk mendukung saya agar terus semangat dalam melakukan pendakian ke Everest Base Camp dengan berdonasi untuk adik-adik pejuang kanker dan penyakit beresiko tinggi lainnya di Komunitas Taufan.

Prasetyo melakukan galang dana di Kitabisa.com untuk membantuk anak-anak di Komunitas Taufan, bukan untuk kegiatan pendakiannya.

Ada juga aktivitas outdoor yang memang melakukan galang dana untuk membiayai kegiatan itu sendiri. Biasanya kegiatan yang dilakukan karena membawa nama negara, seperti yang dilakukan kelompok pencinta alam WISSEMU dari Mahitala Unpar, Jawa Barat.

Seperti dalam unggahan mereka masih di platform yang sama:

Misi kami untuk menjadi perempuan seven summiters Indonesia pertama yang menapakkan kaki di 7 gunung tertinggi di 7 benua tinggal selangkah lagi untuk dicapai. Setelah memulai pada tahun 2014 dan 6 kali bendera Indonesia kami kibarkan di 6 puncak gunung, kini kami semakin dekat untuk mengibarkan sang saka di puncak tertinggi dunia, Gunung Everest.

Namun sampai saat ini, kami belum mendapatkan dana untuk mewujudkan mimpi bagi kita, bagi Unpar, bagi Indonesia, untuk menciptakan sejarah bagi bangsa Indonesia. Perjalanan pendakian gunung terakhir ini membutuhkan dana sekitar 4,9 miliar rupiah yang harus kami kejar sebelum tanggal pendakian dimulai. Kami percaya bahwa ini akan menjadi kebanggaan bagi kita semua, dan kami ingin mengajak rekan-rekan sekalian untuk ikut mewujdkan mimpi ini.

Baca juga: Cerita Trinity The Naked Traveler saat nekad menekuni travel blogging.

Saat kami konfirmasi ke pihak Kitabisa.com, Chief Product Officer Kitabisa.com, Vikra Ijas, menjelaskan hal semacam ini masih baru di Indonesia.

“Aktivitas galang dana bertema outdoor masih tergolong baru di Kitabisa. Umumnya, galang dana bertema outdoor dilakukan dengan tema “Hiking for charity” atau menggunakan momentum mendaki gunung untuk menggalang dana untuk kegiatan amal/sosial,” tutur Vikra.

Vikra menambahkan, tren semacam ini akan menjalar lebih luas.

“Berdasarkan data kami, ternyata memang hal baik itu menular. Contoh, ketika ramai orang melakukan marathon untuk amal, di Kitabisa pun meningkat jumlah inisiatif galang dana yang menggunakan momentum marathon. Harapan kami, dengan meningkatnya jumlah teman-teman pendaki yang juga melakukan kegiatan amal dengan menggalang dana, semakin banyak pula masyarakat yang terinspirasi dan melakukan inisiatif serupa,” ujar Vikra.

Kita bisa melihat, penggalangan dana untuk aktivitas traveling sebetulnya telah ada sebelumnya di mancanegara, seperti di situs gofundme.com di mana orang melakukan galang dana untuk perjalanan yang akan mereka lakukan.

Ketika ditanya apakah tren serupa akan tumbuh di Indonesia, Vikra memiliki pandangan tersendiri.

“Jika melihat tren yang terjadi di Kitabisa, prediksi kami akan semakin banyak orang yang melakukan penggalangan dana dengan tema outdoor/travelling di Indonesia. Namun, dengan karakter bangsa Indonesia yang gemar menolong, kami prediksi tema outdoor/travel akan lebih banyak digunakan untuk kegiatan sosial dan amal, tidak seperti di GoFundMe yang banyak digunakan untuk membiayai perjalanan sendiri,”pungkas Vikra.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU