Setop Penyebaran Virus Corona dengan Basmi Kelelawar, Benarkah?

Pemerintah daerah di Indonesia, seperti Solo dan Subang yang melakukan pembasmian kelelawar di alam untuk menekan penyebarannya ke manusia.

SHARE :

Ditulis Oleh: Taufiqur Rohman

Wabah Virus Corona (Covid-19) telah menjadi pandemi di hampir seluruh negara di dunia. Korbannya terus bertambah setuap hari, hingga artikel ini ditulis tercatat 378.741 kasus dengan 16.502 diantaranya meninggal dunia dan 101.608 dinyatakan sembuh. Sejak pertama kali menyebar di akhir tahun 2019 lalu, menyebar kabar bahwa Covid-19 merupakan virus yang ditularkan dari hewan liar di alam, seperti kelelawar dan ular. Pernyataan ini didasarkan atas karakteristik kelompok Coronavirus, sedangkan penelitian ilmiah belum ada yang mampu untuk mengkonfirmasinya.

Berdasar pada pernyataan yang belum teruji kebenarannya secara ilmiah ini, banyak pemerintah daerah di Indonesia, seperti Solo dan Subang yang kemudian melakukan langkah pembasmian besar-besaran kelelawar jenis kalong dan codot di alam untuk menekan penyebarannya ke manusia. Lalu sudah tepatkah langkah pemusnahan tersebut? 

Sejauh ini, hasil penelitian dan analisis genomik yang terbaru menunjukkan bahwa penyebaran Covid-19 terjadi antar manusia ke manusia. Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) juga menjawab polemik ini. Pembasmian kelelawar di alam bukanlah cara yang tepat untuk mengatasi permasalahan wabah Covid-19 ini, bahkan justru salah besar. Solusi paling tepat untuk mencegah terjadinya wabah Covid-19 di masa depan adalah justru dengan tidak mengganggu serta merusak satwa liar di habitat alaminya.

Pembasmian kelelawar akan mengganggu keseimbangan ekosistem alam dan rantai makanan. Setiap makhluk hidup yang diciptakan tuhan memiliki peran dan nilai pentingnya masing-masing. Setiap darinya menjalankan tugas untuk menjaga agar alam tetap seimbang. Jika salah satunya hilang akan menyebabkan bencana baru yang tentu saja merugikan manusia. Kelelawar di alam adalah pemakan buah dan serangga, serta menjadi penyerbuk bagi bunga-bunga di alam. Selain itu, kelelawar juga merupakan bagian penting dari hutan yang menyebarkan biji-bijian yang kemudian tumbuh menjadi pohon-pohon baru yang menghasilkan oksigen bagi seluruh makhluk hidup di bumi.

Jika keberadaan kelewar di alam menurun, atau bahkan hilang maka tidak ada lagi yang dapat menjalankan peran-peran itu. Bunga-bunga tidak akan mengalami penyerbukan, layu tanpa mampu menghasilkan buah maupun biji. Penyebaran biji-bijian akan terhambat, begitu pula dengan perluasan hutan yang kini tengah menjadi tren pariwisata Indonesia. Ketersediaan oksigen juga akan menipis. Parahnya, tidak ada lagi pengendali hama pertanian. Hilangnya keberadaan kelelawar dapat memicu terjadinya ledakan populasi serangga yang menjadi hama pertanian. Efek domino yang mungkin terjadi adalah para petani mengalami gagal panen, lalu menipisnya persediaan beras nasional, hingga bencana kelaparan.

Pembantaian kelelawar dapat membahayakn ekosistem alam (Instagram.com).

Kejadian semacam ini hendaknya bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk tidak bertindak serampangan terhadap alam. Mengganggu keseimbangan alam berarti mengganggu juga tempat hidup manusia. Bukannya menyelesaikan masalah, tindakan bodoh seperti justru dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Pemerintah sebelum mengambil kebijakan, hendaknya melakukan koordinasi dan mendiskusikannya dengan para ahli atau pihak terkait terlebih dahulu. Semoga pemerintah dapat belajar dari hal ini.

Belajar dari Kegagalan

Dahulu Amerika Serikat pernah melakukan upaya pembasmian kelelawar untuk mengontrol penyebaran peyakit rabies. Bukannya berhasil, tindakan tersebut malah memicu benacana yang lebih besar lagi. Kasus yang berbeda, Australia pernah mendatangkan kelinci dari luar untuk mengontrol rumput-rumput di padang savannanya. Karena perkembangbiakan kelinci yang cepat dengan tanpa predator, populasi kelinci justru mengalami ledakan dan berubah menjadi hama pertanian. Semua jenis tanaman kebun pun dimakan habis tanpa sisa, hingga menyebabkan gagal panen di sejumlah daerah.

Perubahan ekosistem akibat campur tangan manusialah yang menjadi penyebab utama dari kemunculan berbagai jenis penyakit–penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Menjaga populasi kelelawar yang sehat dengan tidak mengganggu dan tidak membasminya menjadi salah satu cara untuk mencegah penyebaran wabah penyakit serta menjaga keseimbangan ekosistem.

Beragam daging eksotis yang dijajakan di Pasar Beriman, Tomohon, Manado, Sulawesi Utara (Instagram/vsamperuru).

Pasar Tomohon, Konsumsi Kelelawar Sejak Ratusan Tahun dan Masih Sehat

Pasar Beriman yang berada di Tomohon, Manado, Sulawesi Utara. Pasar ini begiu fenomenal dan menjadi tujuan hampir semua wisatawan yang berkunjung. Alasannya, di pasar ini menjual berbagai kuliner ekstrem, mulai dari kelelawar, ular, anjing, monyet, dan tikus sawah. Namun sayang, setelah adanya wabah Covid-19 beberapa daging eksotik seperti kelelawar dan ular dihentikan sampai waktu yang belum ditentukan.

Masyarakat Minahasa, sudah terbiasa mengonsumsi daging ekstrem ini sejak turun-tumurun. Konon kebiasaan ini bahkan sudah ada sebelum kedatangan Agama Kristen dan Islam. Meskipun demikian, tak ditemukan penyakit-peyakit tertentu yang ditularkan dari hewan ke manusia. Jadi apakah benar Covid-19 di China ditularkan dari kelelawar ke manusia? Menurut salah seorang peneliti dari LIPI, Sigit Wiantoro, menyatakan bahwa kemunculan wabah Covid-19 bermula dari perdagangan satwa liar di Wuhan yang tidak diregulasi dengan baik. Karena diambil dari alam, hewan-hewan tersebut mengalami stress tinggi dan fisiologinya melemah.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU