Orangutan Kalimantan Tewas dengan 130 Peluru Ditubuh, Ini yang Harusnya Kita Lakukan

Fakta bahwa jumlah populasi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) mengalami penurunan hingga 25% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Ditulis Oleh Echi

Bayi-bayi orangutan Kalimantan dalam kawasan konservasi. Sumber foto

Seekor orangutan Kalimantan tewas dengan cara mengenaskan di Taman Nasional Kutai (TNK) Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Melansir dari kompas.com, Direktur Center Orangutan Protection (COP), Ramadhani mengatakan setelah diotopsi ditemukan fakta bahwa orangutan tersebut tewas setelah dihujami 130 peluru.

orangutan kalimantan

Bayi-bayi orangutan Kalimantan dalam kawasan konservasi. Sumber foto

Baca juga: kisah perjalanan di Taman Nasional Tanjung Puting

Sudah dipastikan, orangutan yang tertembak berjenis kelamin jantan dengan usia 5-7 tahun. Hasil rontgen menunjukkan total 130 peluru senapan angin bersarang ditubuh orangutan. Meski demikian, pihak tim otopsi baru mampu mengeluarkan 48 peluru.

Masih menurut Ramadhani, 130 peluru yang bersarang di tubuh orangutan ini merupakan kasus penyerangan orangutan dengan jumlah peluru terbanyak sepanjang sejarah konflik orangutan dan manusia yang pernah terjadi di Indonesia.

Pemandangan ironis ini menjadi kasus yang tak kunjung terselesaikan. Keberadaan orangutan makin terancam oleh manusia dengan adanya perambahan lahan di Taman Nasional Kutai.

Perubahan fungsi hutan menjadi ladang atau perkebunan besar, pemukiman, pertambangan dan diambil kayunya merupakan ancaman terbesar bagi keberadaan orangutan. Hutan menjadi semakin sempit dan rusak. Ketersediaan makanan menjadi berkurang akibatnya banyak orangutan terpaksa memasuki ladang, kebun masyarakat bahkan perkebunan kelapa sawit untuk mencari makanan. Manusia kemudian menganggap orangutan sebagai hama.

Baca juga: fakta tentang orangutan yang belum diketahui

Populasi orangutan di Kalimantan bahkan mengalami penurunan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Bahkan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Truly Santika bersama 46 ilmuwannya termasuk The Nature Conservation Indonesia dengan riset berjudul First integrative trend analysis for a great ape species in Borneomenemukan fakta bahwa jumlah populasi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) mengalami penurunan hingga 25% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Saat ini, tercatat hanya 7500 orangutan Sumatera dan 57.000 orangutan Kalimantan yang tersisa di habitat aslinya.

Fakta yang ironis. Jika nanti orangutan benar-benar tak ada lagi di muka bumi ini, tak ada lagi yang diwariskan untuk generasi penerus.

Untuk membantu melestarikan orangutan di Indonesia, terdapat lembaga-lembaga sosial yang membuat program penyelamatan orangutan. Misalnya WWF Indonesia. Lembaga konservasi berlogo panda ini memiliki program Sahabat Orangutan untuk membantu menjaga keberadaan orangutan di Indonesia. Kita bisa membantu menjaga keberadaan orangutan dengan berikan donasi. Jika ingin ikut berdonasi bisa kunjungi website resmi wwf.

Selain berdonasi, cara lain untuk membantu menjaga orangutan adalah dengan menghemat penggunaan kertas, jangan membeli produk yang dihasilkan dari hutan atau pun perkebunan kelapa sawit yang tak ramah lingkungan, dan sebarkan pula seruan untuk menjaga orangutan.

Sebagai warga negara dan pencinta jalan-jalan yang baik, sudah seharusnya ikut turut serta dalam menjaga warisan ini. Jika bukan kita, siapa lagi? Ketika orang-orang kenal kanguru sebagai hewan endemik Australia, panda berasal dari China, maka jika orangutan di Indonesia tak diselamatkan tak ada yang tahu kalau orangutan berasal dari Indonesia.

Dapatkan ulasan menarik lainnya tentang ORANGUTAN, tulisan lain Echi

Tag : ,



Berikan Komentar Dibawah

Next Post