5 Festival Bertema Perang di Indonesia yang Harus Kamu Rasakan Keseruannya

Yuk intip kemeriahan festival bertema perang di Indonesia ini!

Ditulis Oleh Ahmad Nursani

Kebanyakan festival yang ada seringkali hanya berupa suguhan acara seni dan budaya dalam bentuk musik dan tarian, berbeda halnya dengan 5 daerah di Indonesia ini yang memiliki festival-festival unik berupa pagelaran perang.

Berikut ini adalah 5 festival bertema peperangan yang ada di Indonesia. Dari yang seru hingga yang paling menegangkan.

Perang Air di Riau

Keseruan festival Cian Cui di Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Sumber foto

Dalam menyambut hari raya Imlek, warga kota Riau selalu menggelar perang air yang dikenal juga dengan istilah Cian Cui. Tidak hanya diikuti oleh warga Tionghoa di Kota Riau, festival ini ternyata telah mendunia karena setiap tahun, warga Tionghoa dari Malaysia, Singapura, Thailand, Australia bahkan dari China berkunjung ke Riau untuk mengikuti perang air. 

Baca ulasan menarik mengenai tradisi-tradisi unik dan nyeleneh beberapa negara di dunia dengan klik di sini.

Perang Topat di Lombok

Dalam Perang Topat, kedua kubu yang berperang saling melemparkan ketupat. Sumber foto

Jika di Spanyol ada festival seru berupa perang tomat yang bernama La Tomatina, di Indonesia juga ada festival serupa, lho! Tepatnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bedanya, perang ini tidak menggunakan tomat tetapi topat atau ketupat. Diambil dari nama senjata perang yang digunakan, festival ini dikenal dengan Perang Topat.

Ritual ini selalu dirayakan di Pura Lingsar pada setiap pertengahan bulan Desember oleh umat Islam dan Hindu di Lombok, yang menggambarkan keharmonisan hidup antar kedua agama.

Bukannya saling bermusuhan, persaudaraan semakin melekat setelah perang topat ini berlangsung. Usai ritual saling lempar topat, warga memungut ketupat-ketupat tersebut untuk ditebarkan pada sawah dan ladang. Mitos ini dipercaya dapat membawa kesuburan dan keberkahan rezeki oleh masyarakat setempat.

Perang Pasola di Sumba

Bambu tumpul jadi senjata utama pada Perang Pasola. Sumber foto

Festival yang diikuti oleh umat Hindu di Sumba ini digelar pada setiap bulan Maret atau April setelah musim penghujan berakhir. Dalam perang ini, mereka menggunakan sebilah bambu tumpul berukuran 1,5 meter yang akan dilemparkan ke arah lawan dari atas tunggangan kuda.

Festival ini berlangsung di empat kampung, yaitu Kodi, Lamboya, Wonokaka dan Gaura. Dalam setiap peperangan, akan ada dua kelompok yang masing-masing beranggotakan 100 anggota sebagai perwakilan desa. Meski bambu yang digunakan telah tumpul, tak jarang ada yang terluka hingga darah bercucuran di tanah. Warga setempat percaya bahwa setiap tetesan darah tersebut akan menyuburkan tanah mereka.

Perang Pandan di Bali

Setiap laki-laki yang usianya sudah memasuki usia remaja diwajibkan mengikuti perang ini. Sumber foto

Berlokasi di desa Tenganan Pegeringsingan, Bali Timur, Perang Pandan digelar setiap pertengahan tahun, yang disesuaikan dengan kalender desa Tenganan, yaitu bulan kelima. Ritual Perang Pandan ini pun dikenal dengan nama Mekare-kare.

Dengan iringan musik gamelan suci, berbondong-bondong pria Desa Tenganan masuk ke arena perang untuk menunjukkan kegagahannya. Dengan modal memegang daun pandan di tangan kanan dan tamiang atau perisai bundar yang terbuat dari rotan di tangan kiri, perang satu lawan satu dimulai dengan aba-aba dari sang penengah.

Baca juga ulasan konser-konser unik di Indonesia yang berlokasi di tengah alam dengan klik di sini

Perang Suku di Wamena

Ini dia Tradisi ‘Perang’ Suku Dani, Lani, dan Yali di Tanah Papua. Sumber foto

Ini adalah salah satu inti acara yang paling ditunggu-tunggu dalam Festival Budaya Lembah Baliem setiap tahunnya yang digelar di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Masyarakat suku Dani dari 30 distrik akan terjun ke arena perang untuk memeriahkan festival ini dengan menggunakan pakaian dan aksesoris khas suku Dani serta peralatan perang berupa panah dan tombak. Uniknya, perang ini memiliki skenario yang lucu-lucu. Salah satunya adalah perlombaan berburu cicak yang menyebabkan perang antar suku.

Ritual perang suku yang telah dijalankan sejak tahun 1990 ini bertujuan untuk menampilkan kehebatan kompetensi dan antusiasme berperang serta memamerkan kemewahan pakaian adat dengan aksesorisnya. Bukan ajang saling memusuhi. Perang ini pun tidak memakan korban karena hanya berupa simulasi perang. Bukan perang sesungguhnya. Meski pun hanya simulasi, perang ini tetap seru untuk ditonton.

Dapatkan ulasan menarik lainnya tentang FESTIVAL BUDAYA, tulisan lain Ahmad Nursani

Gabung dengan Phinemo Community, kumpulkan poin dengan membagikan pengalaman jalan-jalan kamu dan tukarkan dengan reward dari Phinemo Partner. Gabung Sekarang ->
Next Post