Fakta Tentang Kebudayaan Nias yang Pernah Ditakuti Kolonial Belanda

Keragaman budaya Indonesia sangat unik! Salah satunya Suku Nias, bangsa petarung sejati yang kaya akan tradisi.

SHARE :

Ditulis Oleh: Echi

Tanö Niha alias Pulau Nias adalah tempat tinggalnya para sparta Indonesia. Kebudayaan warisan leluhur yang masih terjaga hingga sekarang telah membentuk pemuda-pemuda dengan nyali sebagai petarung sejati. Melompati Hombo Batu, tarian perang Foluaya, Oma Sebua, sejarah suram Belanda yang sulit menaklukan Nias, dan lainnya.

Baca juga rekomendasi kegiatan seru yang bisa dilakukan selama liburan ke Pulau Nias

Untuk lebih jelasnya, berikut kami rangkum ulasan tentang fakta-fakta menarik Pulau Nias yang pernah ditakuti kolonial Belanda;

1. Hombo Batu, tradisi lompat batu sebagai ajang bergengsi untuk mengukur kekuatan dan ketangkasan para pria Nias

Hombo Batu, tradisi untuk menguji ketangkasan pemuda Nias. Foto dari sini

Awalnya, tradisi lompat batu ini dilakukan untuk membuktikan kematangan dan kedewasaan seorang pria. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini telah berubah menjadi ajang adu ketangkasan bagi para pemuda Nias. Uji fisik dan mental para pemuda Nias diuji dengan melompati susunan batu megalitik membentuk piramid setinggi dua meter. 

Melompati batu setinggi dua meter dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm bukanlah hal yang mudah. Tak sedikit yang gagal melakukan lompatannya. Maka, ketika terdapat seorang pria yang sukses melompati Hombo Batu dalam satu kali lompatan merupakan suatu kebanggaan yang harus disyukuri. Agar kesuksesan bisa direngkuh, para pemuda suku Nias mulai melatih fisik dan mental sejak usia 7 hingga 12 tahun. 

Tradisi Hombo Batu bisa ditemukan di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari), Nias.

2. Mereka yang sanggup melewati Hombo Batu akan dijadikan prajurit untuk melindungi desa 

Prajurit siap melindungi desa dan rakyatnya. Foto dari sini

Para pemuda yang telah berhasil melewati Hombo Batu akan ditugaskan untuk menjaga desa dari konflik peperangan antar desa. Kekuatan fisik dan mental yang telah dilatih selama proses pelatihan melompati Hombo Batu menjadi modal yang kuat untuk menangkis serangan lawan. Harapannya, para pemuda terpilih tersebut sanggup melawan serangan lawan. 

Baca juga kuliner asli Nias yang wajib dicicipi saat liburan di sana

3. Banyak yang percaya, keberhasilan para pria melewati Hombo Batu dipengaruhi oleh garis keturunan 

Keren! Foto dari sini

Meskipun sudah berlatih dengan keras, tidak semua laki-laki bisa melewati Hombo Batu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, berhasil tidaknya melampui Hombo Batu pun dipengaruhi oleh faktor garis keturunan. Konon, jika ayah atau kakek dari laki-laki pelompat batu sudah handal melewati Hombo Batu, maka anak laki-laki tersebut bisa sukses melakukannya juga. Begitupun sebaliknya, ketika dulu ayah atau kakeknya mengalami kesulitan saat melompati Hombo Batu, warga setempat percaya anak lelaki mereka pun juga akan mengalami hal yang sama. 

Maka, agar tradisi berjalan lancar, warga setempat melakukan upacara lompat batu Fahombo untuk meminta izin pada roh-roh nenek moyang yang telah mendahului. 

4. Nias punya tarian adat Faluaya, tari perang sebagai lambang ketangguhan suku Nias

Penari tarian perang. Foto dari sini

Suku Nias memang dikenal sebagai spartan-nya Indonesia. Selain tradisi Hombo Batu sebagai bukti ketangkasan para pria-nya, Nias punya tarian perang bernama Foluaya. 

Tarian perang Foluaya ini merepresentasikan sejarah peperangan antar suku Nias yang sempat terjadi. Selayaknya seorang kesatria dalam peperangan, setiap penari membawa tameng (baluse), pedang (gari), dan tombak (toho) sebagai alat pertahanan. 

Kemunculan tarian perang Foluaya tak bisa dijauhkan dari pengaruh Hombo Batu. Tarian adat ini muncul setelah berakhirnya masa peperangan antar desa di Nias. Sebelum tarian ini ada, pemimpin desa berinisiatif mengumpulkan pemuda desa untuk dilatih perang. Mereka dikumpulkan untuk melindungi desa dari serangan suku lain. Salah satu latihan fisik yang dilakukan adalah dengan cara melompati Hombo Batu. Mereka yang terpilih, akan dikelompokan menjadi sekumpulan prajurit yang melindungi desa. 

Setelah konflik peperangan antar suku sudah tak lagi ada, pergerakan lincah para pemuda saat melawan serangan lawan kemudian diterapkan sebagai tarian adat untuk menyambut para tamu terhormat. 

5. Ono Niha, sparta Indonesia yang bahkan sulit ditaklukan Belanda 

Tangguh dan mengerikan. Foto dari sini

Ono Niha yang artinya anak keturunan Nias memang memiliki jiwa petarung yang mengerikan. Pelatihan fisik dan mental yang kuat menciptakan karakter-karaketer pejuang yang siap membela tanah leluhurnya.

Sejarah mencatat, Belanda harus melakukan tiga kali ekspedisi militer untuk menguasai Nias. Tepatnya pada tahun 1756, 1855, dan 1856. Masyarakat Nias memang pejuang hebat. Ketiga ekspedisi militer yang dilancarkan Belanda tak berbuah manis. Para pasukan Belanda akhirnya harus mengakui kekuatan para pejuang Nias yang dipimin oleh Raja Orahili. Maka, pantas lah kalau orang-orang Belanda menjuluki Raja Orahili sebagai “De Verdijver der Hollanders” (Pengusir orang-orang Belanda). 

 

Setelah melewati perlawanan yang sengit ratusan tahun lamanya, barulah pada tahun 1912, Nias jatuh ke dalam kekuasaan Belanda. Benar-benar bangsa pejuang yang sangat mengagumkan!

6. Omo Sebua, rumah adat suku Nias memiliki konstruksi bangunan yang kuat dan tahan gempa

Omo Sebua, rumah adat tahan gempa. Foto dari sini

Suku Nias memang sudah terlahir sebagai suku petarung sejak dulu kala. Lihat saja rumah adat suku Nias, Omo Sebua. Rumah adat Omo Sebua ini didirikan tanpa paku dan didesain khusus untuk melindungi penghuninya dari serangan lawan saat terjadi peperangan antar suku. 

Dengan tiang-tiang kayu ulin yang besar, rumah adat Omo Sebua terlihat kokoh berdiri. Rumah adat Omo Sebua memiliki atap curam dengan ketinggian 16 meter. Akses masuk ke rumah adat Omo Sebua pun hanya ada pada tangga kecil yang ada di bagian pintu depan. Minimnya akses menuju ke dalam rumah merupakan strategi para leluhur suku Nias untuk meminimalis serang suku lain. 

Selain untuk melindungi diri dari musuh, Omo Sebua pun tahan dari guncangan gempa.Pondasi rumah yang berdiri di atas lempengan batu besar dan balok-balok diagonal berukuran besar dapat meningkatkan fleksibilitas dan stabilitas konstruksi bangunan terhadap gempa. 

7. Nias memiliki bahasa daerah Li Niha yang tidak memiliki konsonan di akhir katanya

Bahasa Li Niha dipengaruhi oleh rumpun bahasa Melayu – Polinesia yang ada pada bahasa Li Niha. Setiap akhir katanya tidak memiliki akhiran konsonan. Misalnya seperti pada kata “Ono Niha yang berarti anak keturunan Nias, Manga yang artinya makan, atau fofo yang berarti burung. 

Keunikan lainnya, Bahasa Li Niha memiliki 6 huruf vikal yaitu a, i, u, e, o, dan huruf ö. Pengucapan huruf ö seperti saat kita mengucapkan kata “enam, seperti, dan senang”.

8. Ya’ahowu, kata salam yang diucapkan suku Nias 

ya’Ahowu! Foto dari sini

Jika punya teman yang berasal dari Nias, pasti sudah tidak asing dengan ucapan salam ini. Ya’ahowu merupakan salam yang biasa disampaikan masyarakat setempat untuk menyapa masyarakat Nias lainnya. Jika diartikan, Ya’ahowo memiliki makna “semoga diberkati”. 

 

9. Menurut arkeolog Puslitbang Arkeologi Nasional, leluhur suku Nias berasal dari daratan di Asia Tenggara yang sekarang bernama Taiwan 

Suku asli Nias. Foto dari sini

Ono Niha yang berarti keturan anak manusia Nias ini memiliki kulit langsat dan memiliki mata lebih kecil dibandingkan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Setelah dilakukan penyelidikan dan penelitian genetika, ditemukan bukti bahwa leluhur Suku Nias berasal dari Taiwan. 

Hasil penelitian ini diungkapkan oleh mahasiswa doktoral dari Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pada 2013 lalu. Menurutnya, masyarakat Nias berasal dari bangsa Austronesia yang diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina pada 4000 hingga 5000 tahun silam. 

Dalam penelitiannya, Mannis van Oven mengungkapkan bahwa dari semua populasi yang diteliti, kromosom-Y (kromosom pembawa sifat laki-laki), dan mitokondria-DNA (diwariskan dari kromosom ibu) orang Nias sangat mirip dengan masyarakat Taiwan dan Filipina. 

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU