Keren! Ini 5 Adat yang Masih Dilestarikan Masyarakat Madiun

Sumber: pojokpitu.com

Perkembangan Madiun sebagai salah satu kota modern di Indonesia, ternyata tidak menghilangkan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokalnya. Sampai saat ini, Madiun tetap melestarikan adat atau ritual sarat nuansa Jawa. Bahkan, tingkat partisipasi masyarakat terhadap tradisi tersebut sangat tinggi.

Adat apa saja yang masih lestari di Madiun? Simak ulasannya di bawah ini.

Baca juga: Mengenal tradisi sedekah laut Yogyakarta

1. Ruwatan Bumi

Tradisi ruwatan bumi biasa diselenggarakan di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. Adat tersebut diadakan dengan tujuan menghormati nenek moyang dan ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen pertanian. Pun sebagai bentuk sedekah hasil bumi agar terhindar dari bahaya atau malapetaka.

Acara ruwatan diawali dengan kirab gunungan yang berisi hasil bumi dan jajanan pasar. Malam harinya, masyarakat mengadakan pagelaran wayang dengan lakon kekinian. Sebelum pagelaran dimulai, para sesepuh desa memberikan sambutan dan doa untuk keselamatan masyarakat.

2. Suro Agung

Perayaan bulan Suro agaknya mengental di kalangan masyarakat Madiun. Terbukti, setiap tahun, tepatnya tanggal 1 Suro, masyarakat menggelar acara larung saji. Tahun 2018 ini, Suro Agung diadakan di Kelurahan Nambangan Lor. Sedekah bumi atau sesaji dilarung ke Sungai Bengawan.

Namun sebelumnya, masyarakat mengadakan bersih desa. Tujuan acara ini adalah untuk mengungkapkan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan nikmat yang diberikan kepada mereka. Tidak hanya itu, masyarakat juga melakukan ziarah ke makam para leluhur di Kelurahan Nambangan Lor.

3. Tradisi Megengan

Setiap bulan Ramadan, masyarakat Madiun mengadakan tradisi megengan. Tujuan tradisi ini adalah menyambut kedatangan bulan Ramadan. Acaranya diawali dengan membersihkan makam leluhur. Setelah itu, masyarakat berkumpul di masjid untuk selamatan megengan. Usai selamatan megengan, dilanjutkan salat isya dan tarawih bersama.

Bagi masyarakat Madiun, tradisi megengan sangat sakral dan wajib dilaksanakan setiap Ramadan. Selama acara megengan, mereka juga menghidangkan nasi ambeng (nasi putih plus lauknya),  apem, dan pisang raja. Nasi ambeng diletakkan di wadah tampah berlapis daun pisang. Lalu, disantap bersama saat selamatan megengan.

4. Tradisi Nyadran

Tradisi nyadran dilaksanakan setiap bulan Ruwah. Acaranya berupa ziarah, nyekar, atau mengunjungi makam leluhur. Perbedaan tradisi ini dengan ziarah pada umumnya, yakni penentuan makam siapa saja yang akan didatangi. Dalam nyadran, hanya pihak berwenang yang boleh menentukan.

Baca juga: Rumah Kaki Seribu, bukti beragamnya budaya Papua Barat

5. Ruwat Sengkolo Bumi Projo

Ruwat sengkolo bumi projo merupakan tradisi yang diadakan setiap bulan Muharam atau tepatnya bulan Suro. Tradisi tersebut dilakukan secara turun-temurun sejak zaman dahulu. Adapun rangkaian acaranya diawali dengan kirab budaya, kirab pusaka dan tumpeng, serta jamasan pusaka.

Biasanya, jamasan pusaka dilakukan di sumber mata air belerang di Taman Wisata Umbul. Jamasan berarti memandikan pusaka dengan tradisi masyarakat setempat. Setelah jamasan, dilanjutkan acara khurasan sendang. Ritual ini dilakukan oleh para sesepuh di Madiun.

Itulah beberapa tradisi atau adat yang masih dilestarikan di Madiun. Sambil menonton upacara adat, tidak ada salahnya Anda mengunjungi tempat wisata di Madiun. Namun, tentunya harus booking hotel di Madiun dulu agar bisa tinggal lebih lama. Gunakan aplikasi Airy atau akses situsnya untuk mendapatkan hotel terbaik dengan harga terjangkau.

Meski harga kamarnya murah, pastinya Anda mendapatkan fasilitas yang tidak murahan. Setiap kamar dilengkapi fasilitas AC, TV, akses internet gratis, perlengkapan mandi, shower air hangat, air minum, dan tempat tidur bersih. Apa lagi yang Anda tunggu? Segera pesan dan bayar tagihannya lewat kartu kredit atau ATM. Mudah, kan?

Dapatkan ulasan menarik tentang Madiun dan tulisan Lain dari Shabara Wicaksono

Tags: , ,

Paket Produk Penawaran