Rumah Kaki Seribu, Pesona Kekayaan Kultural Rumah Adat Papua Barat

Rumah adat Papua Barat merupakan rumah panggung yang terbuat dari rumput ilalang dan lantainya dari anyaman rotan, serta hanya punya 2 pintu tanpa jendela.

SHARE :

Ditulis Oleh: Himas Nur

Rumah adat Papua Barat yang satu ini memiliki daya tarik tersendiri yang berbeda dengan rumah adat lain yang ada di daerah-daerah menakjubkan Indonesia.

Berada di atas Pegunungan Arfak, salah satu titik tertinggi Provinsi Papua Barat, terdapat suku Arfak yang mendiami salah satu destinasi kekayaan Indonesia tersebut.

Suku yang mendiami lereng Gunung Arfak setinggi 2.940 meter di atas permukaan laut tersebut rupanya menghuni rumah-rumah adat yang cukup unik.

Keunikan rumah adat Papua Barat

rumah kaki seribu khas suku adat arfak (Foto/bisniswisata)

Baca Juga: Tren Destinasi Raja Ampat Bergeser, Piaynemo Tak lagi Jadi yang Paling Dicari

Rumah adat Papua Barat yang didiami oleh suku Arfak tersebut bernama Mod Aki Aksa atau Igkojei atau yang lebih dikenal dengan sebutan rumah kaki seribu.

Bukan merupakan hewan berkaki seribu, melainkan struktur bangunan dan desain dari rumah adat inilah yang kemudian disebutnya menjad demikian.

Rumah adat kaki seribu ini sebenarya adalah bangunan berbentuk rumah panggung dengan berbagai desain menarik khas suku Arfak di Papua Barat.

Pada rumah panggung, biasanya terdapat tiang pondasi yang hanya terdapat di bagian sisi pinggir rumah. Namun, berbeda dengan jenis rumah panggung lainnya, rumah ini memiliki tiang pondasi rumah yang tersebar di seluruh bagian bawah rumah dan menjadi tumpuan utama bangunan.

Rumah Kaki Seribu mempunyai bentuk yang tidak jauh berbeda dengan rumah panggung pada umumnya. Atap rumah ini terbuat dari rumput ilalang dan lantainya dari anyaman rotan.

Dindingnya cukup kuat karena terbuat dari kayu yang disusun horizontal-vertikal dan saling mengikat. Dengan tinggi rata-rata sekitar 4-5 meter dan luas kurang lebih 8×6 meter, rumah ini cukup besar dan nyaman untuk menjadi tempat tinggal.

Tiang-tiang yang sangat banyak itu, mempunyai diameter 10 centimenter per tiangnya dan disusun dengan jarak kurang lebih 30 centimeter antar tiang. Kerapatan inilah yang menjadikan rumah ini unik dan terlihat berkaki banyak.

lereng pegunungan arfak yang dihuni oleh suku adat arfak (Foto/oknusantara)

Keunikan rumah adat Papua Barat yang lain adalah, desain rumah yang hanya mempunyai 2 pintu tanpa ada pintu lain, bahkan jendela pun tidak ada. Seperti halnya desain tiang penyangga rumah yang banyak, keunikan ini pun dibuat bukannya tanpa maksud.

Tingginya rumah, banyaknya tiang pondasi, dan desain yang relatif tertutup ternyata dimaksudkan untuk menghindarkan keluarga yang tinggal dari hewan buas dan udara dingin serta bencana alam seperti badai.

Terlebih dari itu, kondisi masyarakat yang sering bertikai pun menjadi alasan bentuk Rumah Kaki Seribu yang tampak tidak lazim ini.

Maksudnya adalah agar mereka yang tinggal di rumah ini tetap aman dari ancaman musuh dengan pengawasan yang mudah karena rumah berada di tempat tinggi dan hanya memiliki 2 pintu sebagai akses masuk dan keluar.

Kekayaan kultural yang kian punah

rumah kaki seribu khas suku adat arfak (Foto/jopi1903)

Baca Juga: Mengenal Mumi dari Papua yang Berusia Ratusan Tahun

Kini, seiring dengan berkembangnya dunia global, ditambah dengan arus transmigrasi maupun pertambahan penduduk dari provinsi lain, keberadan rumah kaki seribu sudh sangat jarang ditemui.

Masyarakat yang masih menggunakan rumah unik ini adalah penduduk asli Arfak dan biasanya berada jauh di pedalaman, terutama di bagian tengah sekitar Pegunungan Arfak.

Hal ini tentu disayangkan karena rumah kaki seribu merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa yang unik dan mesti tetap lestari.

Menghindar dari globalisasi tentu merupakan kemunafikan, namun menjadikan sesuatu yang asli tetap lestari merupakan niscaya yang harus tetap kita lakukan.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU