Letusan Anak Gunung Krakatau mulai memasuki tahap akhir. Hal ini diungkapkan oleh Vukanolog Institut Teknologi Bandung ITB), Mirzam Abdurrachman. Pada letusan per 30 September 2018, erupsi yang terjadi hanya berupa kolom abu vulkanik beberapa puluh meter.
Pada tahun ini, letusan Anak Gunung Krakatau meletus dengan urutan yang lengkap dan menunjukkan suatu urutan proses erupsi yang ideal.
Pada awal erupsi eksplosif, Anak Krakatau menunjukkan kolom letusan yang tinggi. Kadang terlihat blok material ataupun bom vulkanik yang terlontar secara balistik seperti bola pukulan pada olahraga baseball.
Gunung api Anak Krakatau terletak di Selat Sunda, Provinsi Lampung, berada di antara Pulau Panjang, Sertung, dan Rakata.
Semua nusa itu merupakan sisa dari sejarah panjang letusan gunung api Krakatau Purba, yang sudah berlangsung sejak abad kelima. Letusan dahsyat pada 1883 hanya menyisakan Pulau Rakata, Panjang, dan Sertung.
Anak Krakatau kemudian diketahui muncul dari bawah permukaan laut sejak tahun 1927. Setelah itu, gunung tersebut tumbuh dan makin membesar. Ketinggiannya belakangan sekitar 300 meter dari permukaan laut dan hampir setiap tahun memperlihatkan aktivitas vulkanisme.
Anak Krakatau — the "child of Krakatau" — recently puffed out ash and steam over the waters of the Sunda Strait. https://t.co/705uL6XbO0 #NASA pic.twitter.com/2GyGa32JXH
— NASA Earth (@NASAEarth) September 25, 2018
Keistimewaan yang juga mematikan ini, kemudian menjadikan NASA (National Aeronautics and Space Administration) turut merekam momen letusan Anak Gunung Krakatau.
NASA merupakan Badan Penerbangan Antariksa milik pemerintah Amerika Serikat. Badan ini bertanggung jawab atas program luar angkasa Amerika Serikat dan penelitian umum luar angkasa jangka panjang.
Berikut adalah beberapa gambar letusan Anak Krakatau yang ditangkap oleh NASA dari udara.