4 Skill yang Perlu Dikuasai Millenial Traveler

Sebagai generasi millenial, skill ini akan menunjang aktivitas travelingmu.

Shabara Wicaksono • September 27, 2016


Para Millenials adalah anak-anak muda yang lahir setelah periode tahun 1980. Generasi Millenial ini tumbuh dikelilingi berbagai teknologi maju di mana semua hal tentang traveling berada dalam ‘genggaman’ mereka
– David Chapman, Presiden World World Youth Student and Educational (WYSE) Travel Confederation –

Generasi yang lahir antara tahun 1980 dan tahun 2000 (mungkin kamu satu di antaranya) ini telah merajai pergerakan traveling baik di dalam mau pun luar negeri.

Survei yang diadakan Topdeck Travel kepada 31.000 orang dari 134 negara berbeda, sebanyak 88 persen menyatakan telah menjelajah ke luar negeri sampai tiga kali dalam setahun dan 94 persennya merupakan rentang usia 18-30 tahun. Orang-orang muda dikatakan lebih tertarik untuk traveling ke luar negeri dibanding orang yang lebih tua.

PBB bahkan mengatakan bahwa 20 persen dari seluruh wisatawan dunia merupakan mereka yang masih muda, para kaum millennial. Mereka jauh lebih tertarik traveling sebanyak-banyaknya ketimbang generasi yang lebih tua. Tak pelak hal tersebut turut membantu meningkatkan  pendapatan negara sebanyak 180 dolar per tahun, dan terus meningkat sejak 2007.

Nah, sebagai millenial traveler sang ‘penguasa dunia traveling’, saya rasa ada beberapa skill yang perlu dikuasai untuk menunjang aktivitas travelingmu. Secara umum, ini 4 di antaranya:

Skill Berkomunikasi

Salah satu hal paling menyenangkan saat traveling adalah berkenalan dengan warga lokal. Namun, hal itu tak selamanya mudah. Ada beberapa hal yang biasanya saya lakukan untuk mendekatkan jarak dengan mereka. Contoh paling simpel adalah membicarakan cuaca.

Saat saya berada di Karimunjawa, saat itu cuaca cukup mendung dan angin bertiup kencang hingga membawa aroma laut yang khas ke daratan. Saya duduk di kursi kayu reot bersama seorang warga lokal pemilik homestay, pria paruh baya dengan rokok yang selalu menempel di mulutnya.

Awalnya kami hanya saling berbasa-basi, setelah saya menanyakan perihal cuaca yang berangin dan sering badai, si pemilik homestay langsung mengobrol panjang lebar. Selain membuka jasa penginapan, dirinya adalah nelayan. Karena cuaca buruk dia tak bisa melaut beberapa hari dan kapal ferry pun tak bisa merapat. Jika sudah begitu, biasanya harga ikan akan turun karena para nelayan banting harga, daripada ikan membusuk di penyimpanan.

Dari hanya obrolan singkat tentang cuaca, saya mendapat banyak informasi ‘ekslusif’ dari si pria tersebut.

Skill berkomunikasi tak hanya tentang bagaimana bersosialisasi dengan warga lokal, yang tak kalah penting dan cukup sering terjadi di ‘lapangan’ adalah pentingnya bernegosiasi, utamanya ketika menyangkut harga. Jangan meremehkan skill bernegosiasi, ini akan sangat berguna saat budgetmu cekak. Skill ini sebenarnya hanya tentang jam terbang kok. Coba sesekali berbelanja di pasar dekat rumahmu, latih skill negosiasimu dengan ‘menaklukan’ emak-emak penjual di situ.

 

Skill Menulis

umu

Foto oleh Umu Umaedah

Ribuan orang berkunjung ke suatu tempat, dan akan selalu ada ribuan cerita berbeda dari masing-masing orang.

Sebuah cerita bisa berupa hal-hal menarik yang terjadi di hutan belakang rumah kita, ataupun kisah suku-suku pedalaman di sisi dunia jauh di sana. Cerita, bisa saja disampaikan oleh tetangga depan rumah, bisa oleh seorang yang berjarak ribuan mil jauhnya dari kamar kita. Dan sangat mungkin, sebuah cerita inspiratif yang menggugah hati banyak orang pun bisa datang dari diri kita.

Suatu hari, seorang kawan lama berbaik hati mengantar berkeliling Jogja. “Malioboro itu sangat mainstream, untuk apa berkali-kali ke sana?”

Terakhir kali ke sana, akhir bulan lalu. Saya menemukan seorang bapak tua yang dimarahi istrinya karena tak segera bergegas berkemas mendengar bahwa satpol pp akan datang. Ada pula kejadian pertengkaran antara tukang becak dengan seorang pengendara sepeda motor di depan taman pintar. Dan yang paling berkesan, pertemuan dengan seorang oknum pengamen yang memaksa meminta uang setelah dirinya selesai bernyanyi hingga dia menantang saya berkelahi karena dikira pandangan saya menghinanya. Saya menuliskannya di Phinemo, berbagi pada ribuan orang yang mungkin tak saya kenal.

Setelah semuanya, saya sadar, sekadar menuliskan hal-hal kecil seperti itu bisa membuat perbedaan. Menceritakan hal kecil yang unik, dan kadang terlewatkan dapat memberi sentuhan personal pada tulisan kita.

 

Baca juga:

 

Skill Fotografi

Foto oleh enixii

Foto oleh enixii

Fotografi dan traveling itu pasangan tak terpisahkan. Tak usah menyangkal, bukankah cantiknya pemandangan berbagai destinasi hasil jepretan para traveler itu yang kerap jadi ‘racun’ untukmu segera mengepak ransel?

Namun, alangkah baiknya Kamu tahu cara memotret yang ‘baik dan benar’.  Orang-orang dekatmu  tentu berharap melihat semua keindahan yang telah Kamu lihat secara langsung di destinasi yang telah Kamu kunjungi. Mereka tak akan mendapatkan keindahan itu pada foto-foto yang buram, blur atau dari sudut yang itu-itu saja.

Salah satu cara yang bisa Kamu lakukan untuk mengasah skill memotretmu -selain sering-sering mencoba memotret di berbagai situasi-, Kamu bisa coba-coba ikut kontes fotografi. Mengikuti sebuah kontes bisa jadi tolok ukur sudah sejauh mana kemampuanmu. Waktu dekat ini, mungkin Kamu bisa coba ikut Canon PhotoMarathon Indonesia 2016 yang akan berlangsung di tiga kota, mulai dari Surabaya di Lenmarc Mall – Surabaya pada tanggal 22 Oktober 2016, Yogyakarta di Hartono Mall – Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober 2016, dan di Jakarta tepatnya di Epicentrum Walk (Epiwalk) – Jakarta, pada tanggal 12 November 2016.

Selain sebagai cara mengukur seberapa jauh perkembangan skill fotografimu, Kamu pun akan mendapatkan ilmu foto yang berharga melalui seminar yang akan dibawakan oleh fotografer profesional yang berbeda di tiap kota. Di Surabaya, seminar akan dibawakan langsung oleh Justin Mott, seorang fotografer profesional yang karya-karyanya telah dipublikasikan di New York Times, TIME, Forbes, dan dipercaya oleh merek-merek global ternama sebagai kliennya. Ia juga merupakan fotografer profesional yang tampil di tayangan reality show kompetisi foto paling bergengsi se-Asia,“Photo Face-Off”. Di Yogyakarta seminar akan dibawakan oleh Yulianus Ladung sedangkan di Jakarta pembicaranya adalah Misbachul Munir dan Evy Aryati Arbay.

Info lebih lengkap bisa Kamu lihat di sini.

 

Skill Bersosial Media

traveler jomblo

Foto dari sini

Saya pernah memperhatikan foto seorang teman yang baru berlibur dari Yogyakarta yang diunggah di Facebook. Foto dirinya tengah traveling bersama teman-teman kuliahnya di sebuah pantai. Memang tak sengaja menemukan foto itu berseliweran di timeline. Namun anehnya foto itu membuat saya berhenti men-scroll, terpaku sekian detik, lantas mengagumi keindahan pantai dalam foto itu.

Pantai yang didatanginya adalah Pantai Drini. Dan, ditambah bumbu-bumbu bujuk rayu yang manis, dia mengatakan bahwa sesekali saya harus ke sana. Hamparan pasirnya yang lembut, siluet matahari yang terlukis indah dan memantul di perairan, dan ombaknya yang tenang bak tengah tertidur lelap.

Saya yakin tak hanya saya yang mengalami kejadian di atas. Kamu pun mungkin pernah memutuskan berkelana ke sebuah tempat hanya karena melihat kolase foto seseorang yang kebetulan akunnya berada di beranda Facebook atau media sosial lainnya.

Menurut riset dari Four Pillars Hotels, 52% pengguna Facebook menyatakan bahwa foto-foto teman virtual yang diunggah di Facebook menginspirasi mereka untuk traveling. Menakjubkannya, para traveler yang sudah memiliki rencana untuk traveling ke sebuah tempat, sebanyak 52% mengubah rencana-rencana mereka (baik destinasi, hotel, hingga transportasi) setelah berselancar di media sosial. Hal itu membuktikan bahwa media sosial mempengaruhi tren traveling.

Bisa Kamu lihat? Millenial traveler perlu menguasai teknik membuat caption foto yang menarik di Instagram, membuat copywriting yang menggugah saat mengunggah album di Facebook. Untuk apa? Tentu saja untuk membangun personal brandingmu sebagai traveler. Bagimu, awalnya mungkin traveling memang sekadar cara untuk bersenang-senang. Tapi bukankah akan lebih menyenangkan jika hobimu bisa menghasilkan uang? Siapa tahu suatu saat seorang editor travel magazine menghubungimu karena tertarik dengan foto-foto dan copywriting statusmu.

 


Sering bingung mencari ide menulis? Simak bagaimana cara Windy Ariestanty mencari ide kreatif


Tinggalkan Komentar