Mitos Vs Fakta Mengenai Papua

Bagi sebagian orang, mendengar kata Papua selalu dikaitkan dengan kehidupan primitif. Bahkan sebagian orang malas berkunjung ke Papua karena "cap" tersebut.

Vivi Suciana • July 9, 2016


Bagi sebagian orang, mendengar kata Papua selalu dikaitkan dengan kehidupan primitif. Bahkan sebagian orang tidak bersedia untuk mengunjungi atau bahkan tinggal di Papua karena terbentur paradigma tersebut. Ada cerita lucu, ketika salah satu teman saya yang orang asli Jakarta ditugaskan untuk bekerja di Papua, saking parno-nya dengan keadaan hidup primitif di Papua yang “katanya” hanya makan sagu (dan ulatnya), dia bahkan membawa beras berkarung-karung ketika pertama kali pindah kesini. Tentunya dia dikagetkan ketika sampai di Papua tersedia banyak supermarket bahkan makanan siap saji.

Menurut kacamata saya yang besar dan tinggal di Papua, tempat ini sangat indah dan menyenangkan untuk ditinggali. Untuk menghindari kesalah kaprah ini, saya akan menjelaskan keadaan nyata yang ada Papua;

1. Papua hanya ada hutan

papua2

Foto oleh Vivi Suciana

MITOS. Papua sebenarnya merupakan Pulau besar yang dibagi menjadi 2 provinsi yaitu Papua Barat dengan ibukota Manokwari dan Papua dengan ibukota Jayapura, selain itu juga dibagi menjadi berbagai kabupaten dan kotamadya. Memang sebagian daerah Papua masih tertutup hutan, namun jika mendengar nama Jayapura, Sorong, Biak, Manokwari, Fak-Fak, Merauke, Wamena dan banyak lainnya percaya lah nama-nama tersebut sudah berbentuk kota. Selayaknya kota pada umumnya yang memiliki jalan raya, pasar tradisional hingga supermarket, beberapa pusat hiburan dan fasilitas yang memadai seperti listik, air dan bahkan jaringan internet.

Sebagai perbandingan, di Jayapura bahkan terdapat Bioskop XXI sebagai salah satu hiburannya. Bagaimana? Masih membayangkan tinggal di hutan?

 

2. Di Papua harus menggunakan koteka

papua1

Foto oleh Vivi Suciana

MITOS. Mungkin bagi sebagian masyarakat asli Papua yang tinggal di pedalaman, memang masih menggunakan koteka. Tapi seperti yang saya utarakan sebelumnya bahwa sebagian daerah di Papua sudah merupakan kota, maka cara berpakaian juga sudah menyesuaikan dengan keadaan kota seperti pada umumnya. Bahkan sebagian masyarakat juga mengikuti perkembangan mode dan berpakaian modis, ini ditandai dengan banyak dibukanya gerai pakaian ternama seperti Planet Surf, Ramayana bahkan celana Levi’s pun bisa dibeli di Papua. Saya yang tinggal di Sorong bahkan jarang sekali menemui masyarakat yang menggunakan koteka dalam kehidupan sehari-hari.

 

3. Biaya hidup di Papua mahal

papua4

Foto oleh Vivi Suciana

FAKTA. Untuk hal ini saya tidak memungkiri bahwa memang harga barang yang dijual di Papua lebih mahal daripada harga pasaran di Indonesia pada umumnya.

Maklum saja, semua kebutuhan hidup masih harus di”import” dari Pulau Jawa atau kota besar lainnya dan tidak jarang untuk mencapai Papua, barang-barang tersebut diterbangkan menggunakan pesawat terbang. Tentu saja hal ini membuat biaya kirim menjadi sangat mahal yang memperngaruhi nilai jual akhir barang tersebut.

Oleh karena itu, banyak perusahaan memberikan tunjangan “uang kemahalan” pada pekerjanya yang di Papua untuk mengimbangi mahalnya biaya hidup di sini.

 

4. Orang Papua suka mabuk

papua3

Foto oleh Vivi Suciana

FAKTA. Hal ini masih saja menjadi kebiasaan buruk bagi sebagian masyarakat Papua. Mereka terbiasa meminum minuman alkohol dalam jumlah banyak dan menyebabkan kemabukan bahkan pada siang hari. Bukan menjadi hal yang baru jika menemui orang mabuk dengan sikap yang terkadang konyol di jalanan.

Namun di beberapa daerah terdapat larangan khusus mengenai peredaran minuman keras oleh Pemerintah Daerah. Salah satu contohnya di Raja Ampat, di sini tidak diperbolehkan menjual minuman keras dan memberikan minuman keras kepada masyarakat.

 

5. Jika ke Papua rentan terkena Malaria

malaria-papua

Foto dari sesawi

FAKTA. Malaria merupakan penyakit endemik yang sangat ditakutkan oleh masyarakat baik yang berasal dari Papua maupun yang berasal dari luar Papua.

Penyakit ini sangat ditakutkan karena dapat menyebabkan kematian dan belum ada obat penangkalnya selain pil kina. Gejala penyakit ini adalah demam pada pagi hingga siang hari kemudian menggigil hebat pada sore hingga malam hari. Belum lagi disertai dengan kepala sakit dan mual yang luar biasa. Jika mengalami demam dengan gejala seperti ini disarankan untuk segera ke dokter untuk mendapatkan menanganan yang tepat sebelum menjadi lebih parah.

 

6. Orang Papua Jahat

MITOS. Kita sering menghakimi seseorang karena tampilan fisiknya saja. Memang orang Papua mempunyai ciri berkulit gelap dan tinggi sehingga memberi kesan menyeramkan. Namun sebenarnya dibalik itu, orang Papua sangat menjunjung nilai persaudaraan dan rata-rata taat beragama. Mereka tidak segan untuk segera menolong jika melihat ada saudara atau teman mereka yang mengalami kesulitan.

Selain itu, orang Papua juga sangat setia kawan dan memiliki rasa humor yang tinggi. Bersiaplah tertawa terpingkal-pingkal mendengar mop (cerita lucu) yang suka mereka ceritakan ketika sedang berkumpul bersama.


Tinggalkan Komentar

Komentar