Menulislah, Agar Tempat Itu Tetap Hidup

Keindahan suatu tempat disusun oleh ribuan kisah yang mengiringinya

Shabara Wicaksono • February 12, 2015

Seorang kawan berkata,” tempat itu tak bagus untuk kau ulas, kenapa kau mengulasnya? Aku datang kesana akhir bulan lalu dan tak ada yang menarik disana.”

Ada yang berhasil berfoto dengan pengamen tradisional dengan permainan musiknya yang luar biasa di bawah tanah masjid Taman Sari Jogja, sementara ada yang tak menemukan apapun selain orang-orang yang berfoto narsis di sana.Di Pantai Kenjeran Surabaya, ada yang berpendapat tempat itu tak layak menjadi destinasi unggulan Surabaya, sementara ada yang bercerita dirinya sangat beruntung menemukan sunset luar biasa indah disana.

Bisa kamu lihat? Ribuan orang berkunjung ke suatu tempat, dan akan selalu ada ribuan cerita berbeda dari masing-masing orang.

Sebuah cerita bisa berupa hal-hal menarik yang terjadi di hutan belakang rumah kita, ataupun kisah suku-suku pedalaman di sisi dunia jauh di sana. Cerita, bisa saja disampaikan oleh tetangga depan rumah, bisa oleh seorang yang berjarak ribuan mil jauhnya dari kamar kita. Dan sangat mungkin, sebuah cerita inspiratif yang menggugah hati banyak orang pun bisa datang dari diri kita.

Keindahan suatu tempat disusun oleh ribuan cerita

Interaksi antara diri kita dengan suatu tempat adalah hal yang unik. Masing-masing orang memiliki pandangan berbeda tentang tempat yang sama. Tak ada yang bisa melihat melalui mata saya kecuali pribadi saya sendiri.

Misal, sebuah tulisan cat putih “Ruang Tunggu Sepeda” di zebra cross jalanan Jogja terlihat biasa bagi kebanyakan orang. Namun bagi saya itu sangat menarik, sehingga saya nekat turun dari kendaraan dan memotretnya.

Benar ketika Windy Ariestanti berkata,

Suatu tempat tak pernah benar-benar baru. Yang baru adalah bagaimana caramu memandang dan menceritakannya

Hal kecil selalu memberi perbedaan

Suatu hari, seorang kawan lama berbaik hati mengantar berkeliling Jogja. “Malioboro itu sangat mainstream, untuk apa berkali-kali kesana?”

Saya hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Pertama kali ke Malioboro sewaktu saya kecil, kelas 4 SD. Itu adalah wisata pertama saya bersama keluarga. Wisata yang disponsori kantor tempat ibu saya bekerja menjadi satu momen berharga bagi kami.  Saat itu, kami bisa dibilang bukan termasuk keluarga berada, bahkan untuk sekadar membelikan saya mainan pun orang tua saya harus berpikir dua kali. Itulah alasan saya menangis keras, merengek dibelikan becak kayu mini di jalanan Malioboro. Saat itu ada hal berkesan yang terus terpatri di ingatan. Saya ingat betul, pria tua penjual becak kayu mini itu akhirnya memberikannya gratis pada saya, sembari tertawa dan mengusap kepala saya. Sepulang dari sana saya memamerkannya dengan bangga di kelas dan menceritakan tentang penjual tua yang baik hati itu pada teman satu kelas.

Kesempatan kedua berkunjung saat awal masuk kuliah. Saya membeli kaos tokoh pewayangan, Semar, berwarna putih yang dijual seorang mahasiswi di sudut jalan. Bukan karena kualitas bahannya atau keindahan gambarnya, melainkan sebuah tulisan kecil dibagian bawah kaos “kaos ini dijual untuk keperluan amal mengontrak sebuah rumah bagi anak-anak jalanan di wilayah x”. Saya tak sempat memotret si penjual bersama kaos amalnya dan mempostingnya di facebook. Saya bercerita pada teman-teman di dunia maya tentang kaos amal tersebut.

Terakhir kalinya kesana, akhir bulan lalu. Saya menemukan seorang bapak tua yang dimarahi istrinya karena tak segera bergegas berkemas mendengar bahwa satpol pp akan datang. Ada pula kejadian pertengkaran antara tukang becak dengan seorang pengendara sepeda motor di depan taman pintar. Dan yang paling berkesan, pertemuan dengan seorang oknum pengamen yang memaksa meminta uang setelah dirinya selesai bernyanyi hingga dia menantang saya berkelahi karena dikira pandangan saya menghinanya. Saya menuliskannya di Phinemo, berbagi pada ribuan orang yang mungkin tak saya kenal.

 

Setelah semuanya, saya sadar, sekadar menuliskan hal-hal kecil seperti itu bisa membuat perbedaan. Menceritakan hal kecil yang unik, dan kadang terlewatkan dapat memberi sentuhan personal pada tulisan kita.

Suatu tempat akan terus hidup, saat . . .

Kolam renang di belakang rumah nenek saya di desa dulunya adalah sebuah tempat wisata yang selalu ramai. Sekarang teronggok tak terawat bagai tempat yang tak pernah terjamah oleh manusia. Benar memang jika kita berargumen bahwa faktor pendanaan menjadi alasan utama matinya suatu tempat wisata. Pendanaan seret karena tempat wisata sepi.

Lebih dari semua itu, mengapa sepi?

Karena setiap orang berpikir tak ada yang berbeda dari tempat itu. Karena tiap tulisan di internet/ majalah / tv menyajikan hal yang sama tentang tempat itu. Orang bosan, mengira tak ada hal berbeda yang akan mereka dapatkan. Harusnya, saat orang dari setiap daerah, kebudayaan dan latar belakang berbeda berbagi kisah petualangan mereka di suatu tempat, tempat itu akan terus hidup.

Kisah menarik dari masing-masing orang akan menginspirasi orang lain untuk melangkahkan kaki mereka


Kamu juga pasti tertarik baca ini

Tinggalkan Komentar

Komentar