4 Pengalaman Luar Biasa Perjalanan Naik Motor Jogja – Palembang

Hanif Abdul Halim • September 15, 2015

Saat musim mudik bulan Agustus lalu, motor menjadi pilihan moda transportasi saya untuk pulang ke Palembang, kampung halaman saya. Saya sendiri sekarang tinggal di Jogja.

Semua bermula dari keinginan saya untuk traveling dengan cara yang sedikit berbeda. Kebetulan, keadaan juga sedikit mendukung saya waktu itu. Sampai H-8 lebaran saya juga belum mendapatkan tiket apapun (pesawat, bus, dll) untuk pulang ke Palembang.

Persiapan yang saya lakukan tergolong tidak terlalu banyak dan mungkin dapat dikatakan sangat nekat. Berbekal beberapa artikel tentang touring dengan motor dan beberapa wejangan dari teman-teman saya yang memang lebih mengerti tentang motor, saya melakukan beberapa persiapan sebelum berangkat. Tidak banyak barang yang saya bawa. Semua barang saya kemas dalam sebuah carrier berukuran 40 liter dan saya pun berangkat.

4 hari 3 malam, 72 jam, 1500 lebih kilometer tidak hanya menyisakan pegal di badan. Ada cerita disana, ada hal-hal yang selalu berkesan, terpatri dan membekas di benak saya.

 

1. Anak-anak dengan Logat Jawa “ngapak”

motor jogja

Foto oleh Hanif Abdul Halim

Tepat pukul 1 siang, saya memulai perjalanan naik motor Jogja. Tujuan pertama saya adalah Bandung. Jalur selatan menjadi pilihan saya, karena menurut informasi jalur ini sudah memiliki tekstur aspal yang mulus dengan jumlah truk dan bus besar yang tidak seramai di jalur utara.

Sore hari, saya memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah masjid. Demi menyegerakan berbuka, saya tidak sempat berpikir di masjid kota mana saya singgah, sebelum saya mendengar bahasa yang digunakan warga lokal.  Logat ‘Banyumasan’ atau lebih dikenal dengan jawa ngapak sangat kental terdengar dari anak-anak yang terlihat gembira menyambut waktu berbuka puasa di masjid yang tepat berada di pinggir jalan lintas antar kota itu. Membuat saya sontak sadar bahwa tidak salah lagi, saya ada di Banyumas, Jawa Tengah.

Sebungkus nasi dan teh hangat yang mereka hidangkan untuk menu ta’jil cukup untuk membuat perut saya kenyang dan menambah energi saya untuk melanjutkan perjalanan.

Meski logatnya terdengar keras, namun mereka sangat ramah. Kejadian itu sedikit banyak membuat saya sadar, budaya memang dapat menjadi sebuah identitas dari individu itu sendiri. Budaya dalam bentuk tutur kata, perilaku, ataupun sikap dapat mencerminkan siapa dirimu dan dari mana kamu berasal.

 

 

2. Taat Hukum Memang tak Mudah, Banyak Godaannya

motor jogja

Foto dari Kalboor

Memasuki daerah Banjar lalu Tasikmalaya, udara bertambah dingin. Terang saja, saya melewati daerah perbukitan. Beberapa waktu berselang dan tidak terasa saya sudah memasuki jalur Nagreg yang terkenal itu. Jalur yang dibangun dengan biaya milyaran rupiah itu memang bagus, bak jalan tol namun bebas biaya.

Sebelum memasuki terowongan Nagreg, terdapat sebuah tipografi besar bertuliskan “My Trip My Adventure”. Tak jarang beberapa pengemudi rela berhenti untuk sekedar berselfie ria berlatarkan quote favorite para traveler itu. Eits, tapi ingat, jangan ditiru. Mulai sekarang, aparat kepolisian siap memproses siapapun yang berhenti dan berfoto di dekat terowongan ini, karena tak jarang kendaraan-kendaraan yang berhenti untuk sekedar berfoto tersebut menyebabkan kemacetan sehingga hal itu kini dilarang. Tapi mumpung saya lewat terowongan Nagreg pada malam hari, dan saya pikir satu motor saja yang berhenti tidak akan menyebabkan kemacetan berarti. Maka saya menyempatkan diri untuk memotret sebentar hehe.

Sekadar saran, untuk berkompromi dengan masalah satu ini, mungkin monumen-monumen keren seperti ini lebih baik dibangun dengan didampingi sedikit tempat untuk singgah dan berfoto.

 

3. Bonus Perjalanan

motor Jogja

Foto oleh Hanif Abdul Halim

Nah, kalau para pendaki punya definisinya sendiri dari kata ‘bonus’ tentu juga saya. Satu hal yang paling saya sukai dari mengendarai motor adalah bonusnya. Bonus yang saya maksud disini adalah beberapa spot atau destinasi yang kadang tidak sempat kita singgahi ketika naik kendaraan umum. Tempat-tempat yang saya singgahi juga layak disebut bonus dari capek dan pegalnya badan sehabis mengendarai si kuda besi.

Bonus pertama saya adalah dapat singgah sekaligus beristirahat di Masjid Raya Bandung. Tidak hanya itu, saya juga telah menginjakkan kaki di alun-alun bandung yang katanya memiliki rumput halus diatasnya dan ternyata memang benar adanya. Sisa kemeriahan tata kota bandung dalam menyambut Konferensi Asia-Afrika juga masih bisa saya rasakan.

Bonus kedua saya adalah kesejukan udara dan keindahan pemandangan di Puncak Cisarua Bogor. Di sini saya tidak hanya lewat, tetapi saya menyempatkan diri untuk singgah di salah satu gardu pandang Puncak. Dari atas, hamparan hijaunya perkebunan teh dan angin sejuk sepoi-sepoi berhasil merelaksasi saya dari panas dan debu perjalanan yang menerpa saya ketika melewati jalur perkotaan.

Tidak berhenti sampai disitu, bonus ketiga saya adalah sebuah pantai di Provinsi Lampung. Pagi hari, sebuah papan penunjuk jalan yang tak begitu besar bertuliskan “Pantai Selaki” menuntun saya ke pantai ini. Tidak begitu jauh, sekitar 300 meter dari jalur lintas Sumatera. Sebuah pantai tenang, dengan dinding batu setinggi sekitar 1 meter memisahkan daratan dengan air laut. Duduk di atas bebatuannya juga menenangkan. Angin pantai pagi dan ombak yang masih malu menghantam bebatuan pantai, sebuah kombinasi yang seakan menyuntikkan sedikit energi untuk melanjutkan 650 kilometer lagi ke kota Palembang.

 

4. Orang-orang Baik yang Saya Temui Sepanjang Perjalanan

motor jogja

Foto oleh Hanif Abdul Halim

Kalau sedang atau berencana berpergian, sendiri, jangan takut. Berpikirlah positif sepanjang perjalananmu niscaya kebaikan juga akan datang dari segala penjuru, termasuk dari orang-orang yang ada disekitarmu. Saya sudah membuktikannya. Di dalam perjalanan jauh ini, saya menjumpai orang-orang yang baik dan bahkan tidak sungkan untuk menolong saya.

Meskipun lupa untuk berkenalan, pertemuan saya dengan seorang pria paruh baya sungguh membekas. Berkepala plontos dan terlihat berumur sekitar 40 tahun. Kami bertemu di KMP Port Link dalam penyeberangan dari Merak Banten ke Bakauheni Lampung setelah saya yang kebingungan mencari tempat duduk dipersilakan untuk duduk satu meja dengannya. Sepanjang perjalanan kapal, bapak ini tidak sungkan membagi ceritanya, tentang masa mudanya yang ternyata juga diisi dengan kegiatan traveling. Satu bulan tinggal di pedesaan bali, berbaur dengan masyarakat asli, dan hal-hal lain yang tak terbayangkan oleh saya.

Lain cerita ketika saya mendapatkan kendala dengan shock motor saya di Kota Baturaja, sekitar 150 kilometer sebelum memasuki Kota Palembang. Saya tidak dapat melanjutkan perjalanan. Pukul 9 malam, di tengah jalur lintas sumatera yang gelap, penuh jalan berlobang, dan rumah yang terletak jarang-jarang, meninggalkan tidak banyak pilihan untuk saya kecuali mengetuk pintu sebuah rumah yang terletak di pinggir sisi kiri jalan.

Pak Hotman namanya. Di tengah istirahat malamnya beliau dengan ikhlas membantu saya membenahi kerusakan motor, berjibaku dengan tool box dan isinya, berkeringat, tangan dipenuhi oli rantai motor, dan masih sempat menghidangkan minuman kepada saya. Pokoknya salut dengan bapak satu ini. Semoga kesuksesan selalu denganmu ya pak !

***

Itulah, selalu ada cerita di balik sebuah perjalanan, karena perjalanan tak sekadar tentang apa yang kita tuju, tapi juga mengenai prosesnya.


Bosan foto-foto pemandangan doang waktu jalan-jalan? Kamu perlu coba fotografi jenis ini



Tinggalkan Komentar



Artikel Terkait