21 Perbedaan Turis dengan Warga Lokal di Jogja

Saat seorang turis dan warga lokal berbincang tentang Jogja.

Shabara Wicaksono • June 27, 2016


warga-jogja

photo from Martin Ruddock

Perpaduan pandangan antara saya sebagai turis dan Angga Dwipa, seorang warga lokal yang dilahirkan dan dibesarkan selama 22 tahun di Bantul.

 

1. Warga lokal tak akan bepergian mengenakan kaos Dagadu di Jogja, turis akan mengenakan kaos dagadu yang sama selama 3 hari saat berkeliling Jogja untuk menunjukan kecintaannya pada Jogja

2. Warga lokal tak akan memilih Malioboro sebagai tempat makannya, turis menghabiskan waktu sarapan, makan siang dan makan malamnya di Malioboro

3. Turis menghabiskan waktunya di Alun-alun Kidul dengan menutup mata dan berjalan menuju 2 pohon besar, warga lokal – dalam kasus ini abg- menghabiskan waktunya dengan duduk-duduk dibawah 2 pohon besar

4. Turis berbicara dengan bahasa indonesia dengan logat dimedok-medokan, warga lokal-dalam hal ini yang menetap di sekitar daerah pariwisata- berbicara dengan logat kejakarta-jakartaan

5. Turis mengenakan sepatu hiking untuk berkeliling Malioboro , warga lokal mengenakan sandal jepit dengan santainya

6. Turis bangga berfoto dibawah plang jalan Malioboro, warga lokal akan merasa malu dan tak berani keluar rumah selama 7 hari jika ketahuan berfoto dibawah plang jalan

7. Turis menyebut lampu lalu lintas dengan ” lampu merah “,  warga lokal menyebutnya ” bangjo ”

8. Warga lokal akan selalu memberi salam dan tak akan berani berfoto selfie di makam raja di Imogiri, di tempat yang sama turis akan berfoto selfie minimal 36 sudut yang berbeda dan pamer di sosial media

9. Turis menyebut mi instan sesuai dengan merknya, warga lokal menyebut mi instan “sa*imi” apapun merknya

10. Warga lokal menunjukan arah dengan cara ” lor toko, wetan omah, kulon dalan”, turis menyebut arah dengan cara ” depan malioboro, sebelah kiri prambanan ”

11. Turis menyebut kendaraan bermesin beroda dua itu dengan “sepeda motor”, warga lokal menyebutnya “montor”

12. Warga lokal sebagian besar membeli batik langsung dari produsennya karena paham kualitas batik misal di desa Wijirejo Pandak, Bantul, turis membelinya di sembarang tempat, tanpa tahu kualitasnya dan berani membayar mahal

13. Warga lokal selalu menyantap gudeg dengan areh dan sambal krecek agar rasanya lebih nikmat, bagi turis semua gudeg baik tanpa areh atau tidak sudah nikmat karena tak tahu bedanya

14. Turis akan menganggap rasa kopi joss terlalu manis, warga lokal menganggapnya sudah pas

15. Turis menganggap Goa Pindul adalah sebuah hidden paradise yang luar biasa, warga lokal mengganggap, “apa bedanya dengan sungai di belakang rumahku?” karena pada dasarnya banyak tempat seindah Goa Pindul di Jogja yang tak diketahui para turis

16. Warga lokal selalu sabar menanti tukang becak lewat, selama apapun, turis hanya 5 menit tak menemukan tukang becak akan menyerah dan mencari taksi

17. Turis akan memesan teh tawar dan memilih menambahkan gula sendiri ke dalam cangkir agar tak terlalu manis, warga lokal memesan teh manis dan masih menambahkan gula lagi kedalam cangkir karena merasa masih kurang manis

18. Warga lokal lebih suka berwisata budaya/religi ke Makam Pleret, Pantai Selatan, bagi turis itu membosankan, turis lebih suka menghabiskan waktu di merapi adventure, Malioboro, Taman Sari atau Pantai Jogan

19. Tempat menikmati sunset terbaik bagi turis adalah Candi Ratu Boko, bagi warga lokal tempat menikmati sunset terbaik adalah didepan gang sembari berkumpul bersama teman sepermainan

20. Turis mengucapkan “dab” menjadi “dap”, warga lokal mengucapkan “dab” dengan akhiran yang kental

21. Turis mengunjungi Plengkung disekitaran Alun-alun Kidul untuk memotret suasana Alun-alun kidul dari kejauhan, warga lokal -dalam hal ini abg- mengunjungi plengkung untuk menghabiskan waktu bersama pasangan


Sering bingung mencari ide menulis? Simak bagaimana cara Windy Ariestanty mencari ide kreatif


Tinggalkan Komentar

Artikel Terkait