facebook pixel

Wisata Kuliner Itu Sebaiknya Nggak Sekadar Makan lalu Bilang ‘Maknyus’ dan ‘Yummy’ Doang!

Wisata kuliner, wisata sembari kulineran, atau kulineran sembari wisata. Ah, intinya wisata dan kuliner itu 2 sejoli yang nggak terpisahkan!


Travelers pasti suka kan wisata kuliner. Bicara soal Wisata kuliner memang mengasyikkan. Kadang bikin ngiler malah. Siapa yang bisa menolak kalau soal kuliner? Jarang. Sebab kuliner itu mengasyikkan, menyenangkan dan pastinya mengenyangkan.

Keasyikan pada kuliner ini saat ini sudah mewabah dan menjadi tren kekinian. Info tempat makan asyik di suatu tempat mudah sekali ditemukan. Menyebar tidak hanya di media massa pastinya di sosial media. Saking jadi trendnya, sudah ada anekdot juga kalau orang Asia, katakanlah Indonesia, sebelum makan, mungkin dia lupa doa sebelum makan, tapi tidak lupa menjepret makannya lalu diunggah di sosial media, hahaha. Orang makan di sebuah tempat dia unggah suasana makannya dengan memberi taggar tempat makan, misal #cafeX, hehe. Majalah dan channel jalan-jalan dan kuliner banyak bertebaran, bahkan ada stasiun tv yang khusus soal Food and Travel (saya bilang sih Wisata Kuliner).

Hal-hal di atas adalah bukti betapa ngetrendnya wisata kuliner. He, tiap kali melihat acara wisata kuliner, apapun judul dari Jalan-jalan kuliner, jelajah rasa, sampe urbanfood, streetfood, polanya begitulah saja. Makan, lalu bilang sikat men, yummy dan maknyus..! Jadi, salah? (bahasa anak gaul sebelah, masalah buat loe?) hahaha, ya tidaklah. Cuma, apa ya sekadar itu saja, pasti tidaklah.

Pernah baca buku Greg Mortenson, Three Cup Of Tea? Sudah alhamdulillah (kalau belum cari bukunya ya). Saya tidak akan cerita bagaimana soal serunya mendaki kaki-kaki pegunungan Himalaya, soal Pendidikan Suku Pasthun di perbukitan Himalaya, Afghanisthan sebagaimana dikisahkan buku itu, tapi soal makna dan filosofi Three Cup Of Tea itu. Kalimat yang menjadi Judul buku itu sebetulnya adalah filosofi penduduk Desa Korphe, kalau tidak salah suku Pasthun, penduduk lokal di pegunungan Himalaya yang didatangi penulis (Greg Mortenson). Ketika mereka menyuguhi seorang tamu dengan secangkir teh. Saya pernah menuliskan makna Three cup of tea ini di blog saya,

Bagi penduduk pedalaman di pegunungan Pakistan, ritual minum teh memiliki arti tersendiri. JIka anda menghabiskan cangkir pertama, anda masih orang asing bagi mereka. Cangkir kedua, anda seorang sahabat. Cangkir ketiga, anda seorang saudara bagi mereka. Greg Mortenson adalah sudara bagi mereka. Greg sudah dianggap sebagai putra oleh Haji Ali (kepala desa di Korphe, pedalaman Pakistan). Itulah filosofi yang diberikan orang-orang miskin di pegunungan Pakistan kepada Greg Mortenson, tokoh utama buku tersebut (Newsoul Tentang Three Cup Of Tea).

Itu saja contoh saja bahwa wisata kuliner yang dibicarakan orang entah ketika melawat kemana dan makan/minum apa, sebetulnya memiliki makna terkait tradisi dan cara penduduk setempat menyiapkan, makan/minum makanan lokal mereka yang sedap itu. Di Tanah leluhur saya, sebuah desa di Komering, dodol itu bukan sekadar penganan dari ketan yang diberi gula dan santan lalu diaduk sampai mengental dan kalis, lalu ketika makan saya akan bilang enak, tidaklah. Dodol menjadi¬†simbol penganan yang selalu tersedia saat lebaran dan makanan untuk melamar seorang anak gadis. Biasanya, zaman dulu keluarga gadis akan meminta sekian nampan dodol sebagai permintaan dan akan dibawa pihak lelaki pada saat proses seserahan (dodol bawaan itu dalam Bahasa Komering disebut ‘Jujur’).

Lain lagi soal Ketupat lebaran, di Madura dan Yogya, ketupat memiliki makan dan simbolisnya sendiri. Ada filosifi dan sejarah ketupat lebaran yang bisa saja agak berbeda. Bahkan apem (kue apem) saja ada makna dan filosofinya. Di Suku Batak dan Bugis ada tradisi potong sapi ketika anggota keluarga meninggal dunia. Itu tidak sekadar dimasak dan digulai, lalu dimakan bersama para kerabat, ada tradisi menyangkut makna dan tatacara potong sapi saat keluarga meninggal dunia (siapa yang layak dipotong sapi ketika dia meningal dunia, dsb). Contoh lain lagi, pasti banyaklah. Sebab makanan dan minuman itu erat dengan tradisi dan kebiasaan sejak manusia di tempat tersebut hidup. Selalu ada hikmah dan filosofi terkait tradisi makanan dan minuman mereka.

Begitulah. Adalah dangkal kalau makanan hanya dipandang sebagai makanan, dimakan, dan sebelumnya dipamerin di sosial media. Adalah agak dangkal dan bosenin juga kalau wisata kuliner jadi sekadar ajang hunting makanan, sekadar makan, jebret foto, lalu bilang Maknyus atau yummy tanpa menggali makna dan filosofi makannan dan mnimuman tersebut termasuk tradisi dan sejarahnya. Sejujurnya, kita akan ketinggalan zaman dan monoton lalu akan ditinggalkan saat apa yang kita tayangkan, apa yang kita tulis sekadar sama dengan tayangan orang lain.

Demikian. Sekadar tips saya. Ini saran tulus saya agar semua travelers yang membuat tulisan wisata kuliner untuk menggali lebih dalam menyangkut makna, filosofis, dan sejarah kalau bisa pada kuliner yang diceritakan (Traveler dan Presenter acara Wisata Kuliner wajib baca nih, eit). Salam.

banner experience

Rekomendasi