Van Der Wijk, Bangunan Kokoh Kesepian di Kebumen

SHARE :

Ditulis Oleh: Prameswari Mahendrati

Photo by Greenpito

Hawa panas menyerang ketika saya duduk di salah satu gerbong kereta wisata, rasa lelah, kantuk, dan jenuh menyelimuti mood saya. Hanya suara kereta tanpa adanya percakapan satu sama lain. Sepertinya Andhi merasa bosan sama halnya seperti yang saya rasakan ketika itu. saya sebenarnya tidak suka suasana hening, akhirnya saya mengalah dam memulai percakapan, “habis ini kita mau kemana?” tanyaku, ia hanya memandangku dan mengatakan satu kata “terserah”. Sepertinya mood sudah benar-benar buruk, saya pun jadi merasa tidak enak.

Sekitar empat jam kami menempuh perjalanan dari Semarang menuju Gombong, Kebumen, kami berharap menemukan sebuat tempat baru yang sangat berbeda dari tempat wisata di Semarang. Memang benar berbeda, berbeda jauh dari yang saya bayangkan. Kami terlalu percaya pada blog-blog yang ditulis mengenai lokasi Benteng van Der Wijk. Padahal bagus tidaknya sebuah lokasi wisata itu berdasarkan pada prinsip relatif. Bagi mereka mungkin lokasi ini bagus, tapi menurut kami jauh dari apa yang kami harapkan.

Kami terlalu terlena dengan mainset bahwa apabila lokasi wisata yang pernah dijadikan sebagai lokasi shooting adalah tempat yang sangat direkomendasikan. Namun, sampai sekarang saya belum mengerti apa yang mebuat bangunan ini terlihat kesepian. Pada dasarnya, Benteng van Der Wijk adalah bangunan kuno bersejarah, yah seperti halnya Lawang Sewu yang ada di Semarang. Saya juga belum menemukan ciri khas dan karakter yang kuat dari wisata besejarah ini, jika Lawang Sewu di Semarang adalah bangunan bersejarah yang sangat terkenal dengan aura mistisnya.

Mungkin karena saya bukan penikmat sejarah kali. Sehingga saya belum menemukan hal yang istimewa dari bangunan ini. Tapi dipandang dari sudut manapun bangunan ini Belanda banget.

Dari segi pengunjung, wisatawan yang datang kemari juga dapat dihitung dengan jari, semua wisatawan lokal, tidak tampak wisatawan asing. Banyak pertanyaan yang menari-nari di kepalaku, apa yang salah dengan tempat wisata ini? Apakah kurang promosi sehingga sepi wisatawan? Atau masyarakat Indonesia sendiri tidak tahu keberadaannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengganggu selama kereta wisata berjalan. Oiya, berbicara masalah kereta, saya sempat bertanya kepada salah satu staf, namanya Pak Pardi, apa fungsi dari kereta ini? Apakah merupakan salah satu dari wahana yang disediakan? Ataukah ini kereta yang berfungsi sejak benteng ini aktif pada zamannya? Saya pun salah menebak jawaban dari Pak Pardi, ternyata itu adalah kereta yang disediakan khusus untuk pengunjung agar pengunjung tidak perlu berjalan kaki untuk berkeliling. Saya kira kereta itu adalah peninggalan zaman Belanda karena tampak sangat usang diselimuti karat.

Sangat disayangkan sekali melihat potensi situs bersejarah berdiri kokoh dimakan keheningan, seharusnya pihak manajemen pariwisata setempat berusaha mengoptimalkan potensi wisata yang ada di daerahnya, selain membawa popularitas terhadap daerahnya, potensi wisata juga dapat meningkatkan anggaran pendapatan. Yah, semoga saja ada pihak yang peka terhadap kondisi dan situasi wisata di Benteng bersejarah ini.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU