facebook pixel

Bagi saya, traveling adalah salah satu sumber kebahagiaan. Tak harus bepergian jauh kok, hanya duduk di bangku kereta atau sekadar naik motor keliling kota pun sudah bisa melepaskan penat.

Namun, suatu waktu, pertanyaan sseorang teman cukup mengusik pikiran dan hati. Tanya dia, “kenapa kebanyakan cewek yang doyan jalan-jalan kok nggak nikah-nikah. Apa mereka takut kehilangan kebebasan jalan-jalan setelah menikah?”

Penulis saat mencoba makan laba-laba di Kamboja

Penulis saat mencoba makan laba-laba di Kamboja

Saya tercenung. Pertanyaan itu cukup membuat saya berpikir keras mencari jawaban. Saya teringat beberapa traveler dan teman-teman cewek di sekitar saya. Memang nggak semua, tapi kebetulan saja, banyak traveler cewek mengalami hal yang ditanyakan teman tadi. Antara takut kehilangan kebebasan atau terlalu larut dalam asyiknya dunia traveling. Mungkin mereka berpikir jika menikah mereka tak akan bebas lagi traveling. Kehilangan kebebasan jalan-jalan sama halnya kehilangan sebagian sumber kebahagian.

Sedangkan saya pribadi, pernah merasa takut menikah. Kenapa? Karena sepertinya saya tidak sanggup kehilangan kebebasan untuk traveling. Saya tidak sanggup bila tidak lagi jalan-jalan bersama teman atau menjejakan kaki di suatu daerah seorang diri. Bukankah menjadi seorang istri harus melakukan pekerjaan ibu rumah tangga, mengurus suami, dan anak? Bagaimana bisa saya meninggalkan keluarga di rumah, sedangkan saya malah asyik jalan-jalan sendiri?

Tuhan sepertin mengerti kegalauan saya. Tadi pagi, saya menemukan tulisan yang cukup membuat hati ini lega. Tulisan dari Topan Pramukti yang berjudul “Pergilah bu, Bahagiakan Dirimu”seolah menjadi angin segar bagi masalah cewek traveler yang memiliki kecenderungan takut kehilangan kebebasan traveling setelah menikah.

Sepertinya, lelaki seperti Topan Pramukti adalah sosok suami yang didambakan para wanita penyuka jalan-jalan. Suami dari Pungky Prayitno ini sosok yang sangat mengerti kebutuhan kebahagiaan keluarga. Oya, Pungky Prayitno adalah pemenang lomba blog beborneo yang diselenggarakan Phinemo dan juga seorang blogger aktif.

Kembali ke topik, coba deh Kamu baca dan resapi penggalan dari tulisan Topan, yang dikemas bak surat untuk anaknya, Jiwo:

Bagi Topan, aktivitas traveling Pungky tidak membuat keluarga kehilangan sosok ibu dan istri. Pungky tetap menjadi tetap ibu rumah tangga, masih menjadi suster saat keluarga sakit, dan selalu siap ada untuk keluarga, 24 jam.

Merdeka untuk bahagia agar keluarga selalu harmonis dan mesra

Foto oleh MSA

Calon ‘Topan’ dan ‘Pungky’ berikutnya. Foto oleh MSA

Dalam tulisan itu, Topan bercerita, Pungky mengalami Post Partum Depression pada 3 tahun lalu. Tahukah Kamu apa itu Post Partum Depression? Awal mula sindrom ini adalah Baby Blues Syndrome di mana seorang ibu akan merasa sedih, takut, dan khawatir luar biasa pasca melahirkan.

Topan bercerita bahwa Pungky mengalami keadaan depresi parah. Dia meraung-raung, menjerit, dan menangis tanpa sebab setiap hari. Ketakutan yang berlebihan akan kehadiran malaikat maut, bersembunyi di kolong tempat tidur berhari-hari, dan tidak nafsu makan sama sekali. Keadaan tersebut hampir saja merusak kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga Topan.

Topan menyebut bahwa Post Partum Depression adalah kelengahannya. Kenapa? Karena dulu dia membiarkan istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga, tanpa mengizinkannya menjadi diri sendiri.

Karena itulah Topan memilih memberikan kemerdekaan sepenuhnya kepada sang istri untuk melakoni hal-hal yang disukai. Traveling seorang diri, nongkrong bersama teman di cafe, atau melakukan perjalanan jauh berhari-hari. Ketika sang istri menikmati kebebasan jalan-jalan, saatnya Topan menggantikan peran seorang ibu. Meski tidak mudah, dalam tulisannya Topan mengaku menikmati mengurus anak seorang diri dan menghabiskan waktu untuk bermain bersama anaknya.

Bagi dia, keharmonisan keluarga adalah yang utama. Maka, dia berjanji memberikan kemerdekaan bahagia kepada setiap anggota keluarganya. Merdeka untuk bahagia sesuai dengan cara masing-masing agar rumah tangga tetap utuh dan mesra selamanya. Bijak banget, kan si Topan?

Untuk para pria yang memilki pasangan wanita traveler, biarkanlah dia bahagia dengan caranya

patah hati

Foto dari instagram Muhammadsamien

Saya memang belum menikah dan belum tahu seperti apa kehidupan berumah tangga. Namun, saya sangat setuju dengan pernyataan Topan bahwa pernikahan adalah kerja sama untuk menciptakan kebahagiaan anggota keluarganya. Jika salah satu anggota tidak bahagia atau tertekan, bagaimana bisa menciptakan keluarga yang harmonis?

Komitmen suatu hubungan bukanlah halangan untuk tetap merdeka dalam bahagia. Jika traveling adalah salah satu sumber kebahagiaan, maka berikanlah kepercayaan dan kemerdekaan untuk wanita travelermu. Karena sesungguhnya seorang wanita pun tahu tugas dan tanggung jawabnya.

***

banner experience