Pulau Mandeh, Raja Ampatnya Sumatera Barat

Foto diambil dari Saterpa

pulau-mandeh

Foto diambil dari Saterpa

Keinginan untuk bisa berkunjung ke Raja Ampat masih menjadi khayalan. Tabungan yang saya miliki belum cukup untuk membawa saya terbang ke pulau impian.

Namun, inilah saya yang tak akan berhenti untuk membuat mimpi. Karena saya percaya, usaha keras dan doa tidak akan berkhianat.

Keinginan itu masih mengambang di dalam daftar keinginan saya. Oke, ini akan menjadi perjalanan yang tertunda.

Suatu hari yang tidak pernah terduga. Bermula dari meng-absen linimasa di waktu senggang, satu tweet berhasil menarik perhatian saya.

Pengen pulang kampung sekalian tengok Raja Ampatnya Sumbar.

Raja Ampat Sumbar? Saya mengerutkan kening. Rasa penasaran itu membawa saya meramban di dunia maya. Beberapa info mengenai Pulau Mandeh mulai saya kantongi.

Sebulan kemudian, apa yang saya lakukan? Yeah, saya berhasil mendarat di pulau kembarannya Raja Ampat. Tak perlu planning lama. Ini adalah perjalanan yang mudah dan dekat. Dan ada teman-teman seperjalanan yang akhirnya memutuskan bergabung karena budget yang dikeluarkan tidak sebanyak ke Raja Ampat. Untuk transportasi menggunakan pesawat dari Jakarta, saya hanya menghabiskan 1 juta untuk PP.

Pulau Mandeh, “rival” berat Raja Ampat

Pedalaman Sumatera menawarkan pemandangan indah yang bahkan sangat diminati oleh turis dunia. Pesisir Sumbar memiliki pantai putih panjang yang asyik untuk ditelusuri mengunakan kapal cepat.

Untuk menikmati susana gugusan pulau-pulau kecil seperti di Raja Ampat, saya harus naik ke Puncak Mandeh. Wow! Ini terlihat seperti kue dorayaki di serial Doraemon. Berbentuk tumpukan-tumpukan kecil tengkurap yang membuat saya meleleh untuk memasukkan ke saku dan saya bawa pulang. Kapal-kapal nelayan terlihat sangat kecil bergerak pelan. Ada juga yang nyaris diam di tempat sedang menjala ikan. Inilah tempat terfavorit. Dari atas sini, saya dibuat berkhayal lagi dengan hal-hal tidak masuk akal. Bagaimana bisa tiba-tiba baling-baling bambu Doraemon ada di pikiran saya. Terbang bebas di udara tanpa sekat, tanpa ikatan tali yang menempel, meliuk-liuk bebas seperti capung warna-warni yang sedari tadi melintas di depan mata. Ah, indahnya hidup.

Tidak hanya diam dengan pemandangan yang memanjakan mata ini, saya pun ikut bermain langsung. Laut Pulau Mandeh yang biru sangat menarik untuk diselami. Keadaan pantai sungguh tenang tanpa ombak. Ini karena adanya Teluk Carocok di kawasan Mandeh. Bapak jangkung bertopi yang menjalankan kapal cepat menghentikan perahunya di tengah laut. Namanya bapak Tarigan.

‘Kalian bisa ramai-ramai snorkeling di sini. Nanti saya tungguin. Airnya aman kok.’

‘Dari atas sini ikannya saja mulai terlihat. Cantik Pak.’

‘Masa saya dikatakan cantik?’

Saya dan teman-teman tertawa.

‘Maksud saya ikannya, Pak. Pemandangan airnya cantik.’

Kami menceburkan diri satu persatu. Setelah berjemur ala bule yang ingin menghitamkan kulit dan serasa dilanda musim kemarau, air laut ini membuat kulit saya tidak terlihat lagi bersisik. Tapi akan menghitam itu pasti.

Pemandangan di bawah sini, terlihat tidak berbeda jauh dengan pemandangan bawah laut yang saya lihat di website-website yang memamerkan keindahana laut Raja Ampat.

Sesekali mengambil nafas, saya mengintip pak Tarigan. Beliau tengah diam asyik membaca buku yang tidak terlalu tebal. Mencorat-coretnya dan sesekali ia menggaruk-garukan pena di kepalanya. Waktu saya dekati, beliau sedang mengisi buku TTS.

‘Pak, Bapak asyik banget kayaknya.’

‘Kalau lagi nggak ada kerjaan, enaknya mainan ini. Lumayan olahraga otak.’

‘Itu mainan saya dulu Pak. Tapi pasti TTS saya ada yang bolong. Nggak pernah nggak ada yang bolong. Bapak bisa ngejawab semuanya?’

‘Wah, bisa dong. Kalah dong sama saya.’ Beliau memperlihatkan halaman bagian depan yang nyaris tak ada bolong. Semuanya terisi.

‘Dih, hebat si Bapak.’

 ‘Kalau ada satu deret yang bolong, saya akan terus memikirkan jawabannya sampai ketemu. Namanya juga hobi.’

Satu jempol saya kasih buat hadiah pak Tarigan. Di sisi lain, saya masih terus berpikir: Mengapa TTS? Mengapa TTS? Tidak memancing atau lainnya. Kan jarang-jarang.

Apa pun jawabannya. Itu cukup langka.

***

Pulau Mandeh menawarkan keindahan yang tak kalah dari Raja Ampat. Pulang dari sini, tabungan saya masih cukup untuk stok penghuni di ATM. Tak ada rotan, akarpun jadi.

Ya, akhirnya saya lebih memilih pulau KW-nya saja dulu sebagai bahan dasar pertimbangan untuk kelangsungan hidup saya ke belakang setelah menguras tabungan.  Tertarik untuk mengambil haluan seperti saya?

Dapatkan ulasan menarik tentang dan tulisan Lain dari Ade Setiawan

Tags: , ,

Paket Produk Penawaran

Pajang Paket Perjalanan Anda Disini. Klik Untuk Daftar