Menulis Perjalanan Menjadikan Saya "Pendengar" yang Baik

Saya yang dulu mungkin bukan seorang pendengar yang baik. Menulis kisah perjalanan sukses membuat perubahan dalam diri saya.

SHARE :

Ditulis Oleh: Shabara Wicaksono

Foto oleh Faiz Jazuli

Menulis kisah perjalanan adalah tentang memilah informasi, mana yang menarik untuk disampaikan dan mana yang tidak.

Berbeda dengan menulis “urutan hal yang dilakukan saat perjalanan”, dimana saya cukup menuliskan saya berangkat dari tempat X menggunakan bus, berangkat jam sekian dengan dana sekian, menulis kisah perjalanan melatih saya menjadi seorang jurnalis atau populer dengan istilah travel journalism. Peka dan jeli melihat sesuatu diperjalanan.

Kepekaan tentang hal-hal kecil yang bagi sebagian orang adalah hal sepele ternyata memiliki dampak besar pada sebagian yang lain.

Perubahan dalam hidup

Sore itu seseorang menghubungi saya melalui kolom chat di facebook, dia berasal dari suatu daerah yang baru saja saya ulas ditulisan terbaru.

‘Terima kasih telah menulis tentang Surabaya. Saya memiliki banyak kenangan dengan almarhum suami di tempat tersebut. Anda benar, tempat itu bukan sebuah kota biasa, Surabaya adalah rumah, meski saya telah menjual rumah kami di kota tersebut. Selamanya Surabaya adalah rumah yang hangat bagi siapapun yang tinggal disana,’

Seorang wanita yang tak pernah saya kenal sebelumnya – bahkan bukan teman facebook saya –  tiba-tiba bercerita panjang lebar tentang kenangannya dulu. Saya bahkan tak mengira ulasan tentang tempat tersebut akan dapat menyentuhnya.

***

Semasa kuliah, saya sempat diprotes oleh seorang sahabat. Menurutnya saya bukan seorang pendengar yang baik. Selalu bercerita banyak hal, namun tak pernah bisa fokus saat seseorang bercerita dihadapan saya. Itulah mengapa saya tak pernah memiliki teman curhat.

‘Kamu harus belajar mendengar,’ pesan salah seorang sahabat.

Saat menulis kisah tentang “orang-orang yang berjasa menjadikanku seorang pejalan yang baik”, seseorang menuliskan tanggapannya di kolom komentar. Sebuah tanggapan yang tak kalah panjang dari tulisan saya.

Di salah satu bagian artikel saya menuliskan, “Pada dasarnya, orang tua adalah orang pertama yang mengenalkan kita pada dunia traveling. Merekalah yang selalu menyempatkan menggendong saya berjalan-jalan ke taman tiap sore saat kanak-kanak dulu. Berkeliling ke tempat baru yang tak pernah saya tahu. Suatu saat saya bertekad akan mengajak mereka jalan-jalan kemanapun mereka ingin.”

Seseorang tersebut berkomentar, dia bercerita bahwa dirinya sedang menabung untuk biaya perawatan orang tuanya yang sakit berkepanjangan, dan setelah orang tuanya sembuh dia berjanji akan mengajak orang tuanya untuk jalan-jalan dengan gaji pertamanya, sesuai dengan janjinya saat kuliah dulu. Dia, seorang karyawan kantor di salah satu perusahaan swasta Jakarta, meminta doa saya untuk kesembuhan orangtuanya.

Saya membalas komentarnya melalui email, untuk menyemangati dan mendoakan orang tuanya. Email tersebut tak pernah dibalasnya hingga sekarang, mungkin karena memang tak sempat.

“Saya menyemangati.” Sahabat saya mungkin cukup heran saya “cukup mau tahu” masalah orang dan bahkan menyemangatinya. Saya yang dikenalnya sebagai orang yang sangat cuek.

Saya yang dulu mungkin tak akan menanggapi komentar sepanjang itu, dan hanya membacanya sekilas, lalu meng-klik tombol like.

Mencoba untuk mendengar lebih banyak

Di bus saat perjalanan pulang dari Kota Lama Semarang, seorang nenek tua dengan aroma sirih yang kuat tiba-tiba mengajak saya berbincang.

‘Enak ya mas kalau masa libur kuliah seperti ini, bus agak lengang, nyaman bisa duduk. Biasanya saya harus berdiri berdesakan dengan penumpang lain, selama 1 jam sebelum sampai Ungaran.’

Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Si nenek tua terus bercerita, menurut berita yang dia baca di koran, armada bus akan segera ditambah sehingga dirinya berharap tak harus berhimpitan lagi dengan penumpang lain. Dari kerutan dan mulutnya yang bersih tanpa gigi saya bisa memperkirakan umurnya berkisar 70 tahun.

Saya memberitahu jika nenek tersebut harusnya meminta tempat duduk pada penumpang lain yang lebih muda, karena tempat duduk di bus memang dipriotitaskan bagi orang lanjut usia, wanita hamil dan anak kecil.

‘Saya ndak enak mas minta ke pengunjung lain berdiri, lagipula lumayan biar kaki tetap kuat. Saya juga masih bisa baca koran dengan jelas lho mas,; si nenek terkekeh.

Kisah si nenek cukup mengherankan bagi saya, namun yang tak kalah mengherankan, sejak kapan saya menjadi seorang yang begitu peduli dengan permasalahan orang lain?

Saya tak pernah sadar akan perubahan-perubahan yang datang. Semuanya mengalir begitu saja.

***

Semua orang suka bercerita, namun hanya sebagian yang mau mendengar

Menulis kisah perjalanan, menjadi sosok apa yang orang sebut dengan travel journalist, mengubah sesuatu dalam diri saya. Penulis perjalanan yang baik adalah dia yang jeli mengamati sesuatu, dan mau “mendengar”.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU