Sidebar

Kota Lama Semarang Diajukan Menjadi World Heritage UNESCO Tahun 2020, Ini yang Dilakukan Pengelola

Kota Lama Semarang Diajukan Menjadi World Heritage UNESCO Tahun 2020, Ini yang Dilakukan Pengelola

Demi menyambut World Heritage 2020, pemerintah Kota Semarang kebut pengembangan Kota Lama. Ini yang dilakukan pemerintah Kota Semarang selama 2017.

SHARE :

Ditulis Oleh: Faiz Abi

Kota Lama Semarang terus dibenahi demi menuju World Heritage UNESCO 2020. Foto oleh Shabara Wicaksono/Phinemo.com

Setelah gemparkan media internasional dengan Kampung Pelangi-nya, Ibukota Jawa Tengah kembali hadirkan gebrakan terbaru dengan meresmikan Semarang Creative Gallery di area Kota Lama, tepatnya di bekas gedung Telkom.

Semarang Creative Gallery merupakan sebuah wadah bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal untuk memamerkan dan memasarkan produknya.

Ide pembentukan Semarang Creative Gallery ini berasal dari Walikota Semarang, Hendrar Prihadi. Konsep yang diusung Semarang Creative Gallery ini merupakan sebuah department store yang menjadi pusat dan memasarkan produk unggulan masyarakat dari UMKM, seperti batik, sandal, tas, sepatu, dan produk kerajinan tangan lainnya. 

Tidak hanya sekadar pemasaran produk saja, Semarang Creative Gallery juga dilengkapi dengan kafe dengan desain interior yang menarik. Uniknya, ornamen-ornamen tersebut bertema kolonial. Jadi, kesan klasik ala penjajahan Belanda begitu kental terasa di sana. Harapan dibentuk seperti ini adalah ketika Kamu berkunjung ke sana, Kamu bisa ngobrol, dan ngopi sambil menikmati suasana yang ‘tempo doeloe’ khas Kota Lama.

Pengembangan Kota Lama demi menjadi World Heritage UNESCO Tahun 2020

CC FLickr 2.0

Usaha untuk menata Kota Lama tidak hanya sampai di situ saja. Saat ditemui Tim Phinemo pada peresmian Semarang Creative Gallery, Hendrar Prihadi menjelaskan bahwa nantinya Kota Lama akan dibebaskan dari kendaraan bermesin yang lalu lalang di sana. Jadi, hanya kendaraan yang bebas polusi lah yang diperbolehkan melintas di area Kota Lama. 

Memang, belum dijelaskan kendaraan bebas polusi seperti apakah yang dipilih. Namun Hendrar menegaskan kalau rencana tersebut sudah diwacanakan. Hal ini dilakukan pemerintah Kota Semarang agar Kota Lama bisa memperoleh pengakuan sebagai kota warisan cagar budaya UNESCO.

Jika sudah direalisasikan, wisatawan yang datang bisa berkeliling Kota Lama dengan berjalan kaki, bersepeda, atau menyewa becak tanpa perlu takut akan terganggu oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Apalagi untuk wisatawan mancanegara yang seperti kita tahu, mereka suka berkeliling menikmati pemandangan kota Semarang dengan menggunakan becak.

Seperti pada 26 Juli lalu, 15 turis asal Belanda menelusuri Kota Semarang dengan becak. Mereka mengunjungi Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Kota Lama, Toko Oen, dan Gereja Blenduk. Hellen Camp, salah satu anggota rombongan merasa begitu terkesan dengan keseruan berkeliling kota Semarang dengan becak. Dia bilang, orang Semarang sangat ramah dan suka melemparkan senyuman. 

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) yang juga Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu yang mengatakan bahwa saat ini memang Kota Lama sedang dalam masa pembenahan.

“Tahun 2017 ini kami ingin fokus membenahi infrastrukturnya terlebih dulu seperti jalan dan drainase, agar nanti sanggup mendukung apapun kegiatan yang diselenggarakan di Kota Lama. Kreasi atraksi wisata yang rutin memang sangat menarik, itu menjadi fokus kami berikutnya,” jelas Ita, sapaan akrab Hevearita.

Lebih lanjut Ita menuturkan, banyak hal yang sudah dan sedang dipersiapkan pihaknya untuk menjaring wisatawan dari semua kalangan, baik tua maupun muda. Sebagai contoh, di Kota Lama Semarang, sekarang ada pedestrian dengan bola-bola besar penghalang naiknya pesepeda motor. Hal ini cukup menggembirakan mereka yang ingin menikmati Kota Lama dengan berjalan kaki.

Ke depannya, BPK2L disebut Ita sedang merancang acara rutin pada Jumat, Sabtu dan Minggu semacam semawis di kawasan pecinan, yang akan menampilkan produk-produk UMKM dan kuliner. Selain itu, saat ini juga sedang proses pematangan konsep pembuatan open space theater di Kota Lama, sehingga nantinya memungkinkan untuk digelar atraksi seni dan budaya tiap hari.

“Agar Kota Lama hidup, ‘living heritage’, semua pihak terkait di sini harus bersinergi. Pada dasarnya pemerintah hanya supporting, masyarakatlah yang harus lebih aktif,” pungkas Ita.

Melihat respon turis asing yang positif seperti di atas, rasanya rencana men-sterilkan Kota Lama Semarang dari kendaraan bermotor menjadi pilihan yang tepat. Kota Lama akan menjadi kawasan wisata yang nyaman untuk para wisatawan.  

Mereka bisa berkunjung menyusuri setiap gang-gang, menikmati arsitektur bangunan peninggalan kolonial Belanda yang menakjubkan, dan merasakan suasana kehidupan warga lokal tanpa takut terganggu kendaraan bermotor. 

Dengan tata kota yang makin teratur, makin banyak juga turis yang datang ke Semarang. Wisata Kota Lama tidak lagi menjual “foto” keindahan Gereja Blenduk saja. Wisata yang mengandalkan pengalaman seperti keliling naik becak, bersepeda menyusuri kota, atau walking tour bisa menjadi andalan. 

Menuju UNESCO World Heritage 2020

Meriahnya Festival Kota Lama. 

Hal yang dilakukan pemerintah Kota Semarang terhadap pembangunan Kota Lama tidak terlepas dari kesiapan pemerintah Kota Semarang dalam menyambut UNESCO World Heritage 2020. 

UNESCO World Heritage adalah sebuah program dari PBB yang berfungsi untuk melestarikan dan menjaga situs warisan budaya dan alam yang terdapat di berbagai negara di dunia.

Menurut PBB, situs warisan budaya dan alam tersebut adalah milik masyarakat dunia, di manapun situs itu berada. Oleh karena itu semua masyarakat di dunia mempunyai kewajiban untuk melindungi dan menjaga situs-situs warisan dunia tersebut agar tetap bisa dinikmati dan diketahui sejarahnya.

Dibentuknya UNESCO World Heritage ini juga bukan tanpa alasan. Program ini dibentuk berdasarkan perjanjian internasional tentang perlindungan terhadap budaya dunia dan warisan alam yang diadopsi UNESCO pada 1972.

SHARE :


Rekomendasi

Umaid Bhawan Palace, Bekas Istana yang Disewakan untuk Penginapan

Rumah Pohon Suku Korowai, Potret Hidup Harmonis dengan Alam

Museum of Broken Relationship, Tempat Mengenang Kegagalan Cinta

Tradisi Berburu Paus di Lamalera, Antara Budaya atau Kelestarian Alam

Montage Palmetto Bluff, Tempat Justin Bieber dan Hailey Baldwin Menikah

5 Tempat untuk Berenang dan Berfoto Bersama Hiu Paus di Indonesia

FALLBACK
The END