Sidebar

Kawa Daun, Kopi Nikmat yang Berasal dari Penindasan

Keterbatasan bukan akhir. Para petani kopi Bukittinggi membuktikannya pada kita. Ya, kawa daun - lah bukti nyatanya.

SHARE :

Ditulis Oleh: Tyrza Dian Mariasari

Di dunia ini, banyak muncul  cerita luar biasa yang berawal dari keterbatasan. Situasi yang tak ideal, memaksa otak manusia bekerja lebih keras, dan melihat sesuatu dari sudut berbeda. Ini adalah cerita tentang Kawa Daun dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Kenikmatan yang berasal dari keterbatasan para petaninya kala itu.

***

Randang, karupuak kuah, sate atau pensi menjadi barisan depan di etalase promo kuliner daerah Sumatera Barat. Maaf, ada satu yang saya lupa sebutkan, kawa daun.

Sering melihat iklan kopi yang kadang menampilkan proses pembuatannya? Kamu akan melihat ratusan biji kopi berwarna merah diangkut dari kebun menuju penggilingan, hingga tersaji menjadi secangkir cairan hitam di depan kita.  Ya, memang begitulah pembuatan kopi pada umumnya. Jadi, saya akan bercerita hal yang tak ‘umum’, yaitu tentang kopi daun, kopi khas Ranah Minang yang sesuai namanya, ia terbuat dari daun kopi asli! Penduduk setempat menyebutnya ‘kawa daun’.

Pertemuan pertama dengan si kawa daun

Foto oleh Tyrza

Kesan pertama itu penting, dan kawa daun berhasil memberi kesan pertama yang hebat pada diri saya. Pertama kali saya menikmati kawa daun pada akhir 2013 lalu. Malam itu saya dan beberapa orang kawan tengah dalam perjalanan pulang seusai melakukan pendakian di salah satu bukit yang berada di Sumatera Barat.

Di perjalanan, ketika saya dan teman-teman mulai memasuki Kota Bukittinggi, salah satu teman member usul untuk singgah di Dangau Kawa, satu dari beberapa tempat yang menyediakan menu Kawa Daun di wilayah Bukittinggi.

Wak singgah lu minum Kawa Daun ndak bia angek badan stek, bia lapeh latiah (Kita mampir dulu minum Kawa Daun yuk untuk menghangatkan badan dan melepaskan lelah)”

Jujur, saya pun sempat terkejut jika ada kopi yang terbuat dari daun. Sepanjang perjalanan menuju Dangau Kawa, salah seorang teman yang paham mengenai kawa daun memberi penjelasan. Kawa daun dibuat dari daun kopi segar yang disangrai sampe 12 jam, untuk kemudian daun tadi direbus di dalam periuk yang dibuat dari tanah liat, lalu dimasak diatas tungku tradisional. Setelah disaring, segelas kawa daun siap disajikan.

Tak berapa lama, kami sampai di Dangau Kawa. Saya begitu penasaran dengan kawa daun ini. Begitu tersaji di depan saya, perlahan saya baui terlebih dahulu. Aroma kawa daun ini jauh berbeda dengan kopi pada umumnya, begitu juga dengan warna seduhannya. Aromanya terasa ‘ringan’ dan ‘lembut’. Air seduhan kawa daun juga terlihat lebih jernih jika dibandingkan dengan kopi hasil olahan dari buah biji kopi. Selain itu air seduhan kawa daun ini tidak memiliki ampas dan lebih menyerupai teh meskipun rasanya berbeda.

Seperti seorang balita yang tengah belajar mengenal rasa, perlahan saya seruput kawa daun hangat saya. Tegukan pertama sempat saya hentikan karena rasanya benar-benar aneh untuk kategori penikmat perdana seperti saya kala itu, tapi setelah dirasa-rasa dengan teliti, saaya menemukan sebuah kenikmatan yang sangat khas berupa perpaduan rasa antara pahitnya kopi dan sepatnya teh terasa unik di lidah.

Di Bukittinggi, jenis kopi ini banyak dijual di kedai-kedai spesifik menjual kawa daun. Sebagian besar dari kedai yang menyediakan kopi ini bernuansa khas ala Minangkabau dimana biasanya kedai terletak di tepi sawah dengan bangunan yang lebih penyerupai pondok terbuat dari bambu, sangat sejuk dan nyaman karena  langsung dapat menghadap ke Gunung Singgalang atau Gunung Marapi tergantung lokasi kedai tersebut. Uniknya lagi Kawa Daun ini selalu disajikan di dalam tempurung kelapa yang dibelah menjadi dua kemudian tempurung tersebut diletakkan diatas potongan bambu sebagai penyangga.

Kawa Daun, Kopi Nikmat yang Berasal dari Penindasan

Foto oleh Tyrza

Kawa Daun memiliki nilai sejarha yang dalam. Masyarakat Sumatera Barat meyakini bahwa pada mulanya kawa daun diciptakan akibat kondisi penduduk Tanah Datar, sebuah wilayah di Sumatera Barat yang mengalami masa sulit pada masa penjajahan. Saat itu seluruh hasil bumi penduduk wajib diserahkan seluruhnya kepada penjajah termasuk kopi. Karena begitu inginnya penduduk Tanah Datar menikmati seduhan kopi, mereka mencari cara bagaimana memenuhi keinginan tersebut sementara kopi hasil panen mereka telah disetorkan seluruhnya. Hingga munculah ide untuk mengolah daun kopi sebagai pengganti kopi yang kemudian dikenal dengan kawa (kopi) daun. Para petani pun awalnya kaget jika olahan dari daun kopi bisa senikmat itu. Hingga sekarang kawa daun bertahan menjadi salah satu ikon kuliner di Bukittinggi.

Foto oleh Tyrza

Minuman primadona Kota Bukittinggi

Foto oleh Tyrza

Meskipun bukan asli berasal dari Bukittinggi, namun kesamaan suhu udara di Tanah Datar dan Bukittinggi menjadikan kopi yang satu ini juga menjadi “buronan” di kota dingin ini. Biasanya kedai-kedai yang menjual kawa daun buka sekitar jam 4 sore sampai pada tengah malam karena memang kawa daun ini amat cocok dinikmati pada malam hari dan dalam udara dingin. Hampir setiap malam, terutama pada sabtu malam, kedai-kedai Kawa Daun selalu penuh oleh pengunjung dari berbagai usia untuk sekedar menghabiskan malam minggu bersama orang-orang terdekat. kawa daun biasanya dihidangkan bersama makanan tradisional Minangkabau lainnya seperti kue bika panggang, puluik (beras ketan yang dikukus), atau dapat juga dipadukan dengan aneka macam gorengan. Saat ini kawa daun sendiri telah disajikan dalam beberapa varian rasa seperti kawa daun yang dicampur dengan susu, jahe, telur dan lain-lain. Sementara saya lebih menyukai varian original kawa daun yang hanya menggunakan gula pasir sebagai pemanis.

***

Keterbatasan bukan akhir. Para petani kopi Bukittinggi membuktikannya pada kita. Jika saat itu mereka menyerah menikmati kopi, mungkin kawa daun tak akan pernah hadir sebagai salah satu keanekragaman kuliner negeri ini.

Artikel ini merupakan bagian dari program Bingkai Negeri #1 yang membahas perjalanan dan kopi. Cerita lain tentang kopi dalam program ini dapat kamu lihat dihalaman Serangkai Cerita Tentang Kopi.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

10 Keindahan Tersembunyi dari Kota Limapuluh Kota - Sumatera Barat yang Orang Harus Tahu

6 Tempat Makan di Banda Aceh Paling Legendaris

Itinerary 3 Hari 2 Malam di Danau Toba

Kenali Lebih dalam lagi Suku Mentawai, Suku Tertua di Indonesia

Ini Dia Hotel dengan Makanan Terlezat di Indonesia

Menengok Fakta Danau Dendam Tak Sudah Bengkulu

FALLBACK
The END