Candi Pari dan Sahroni, Tentang Arti Sebuah Kesetiaan

Candi Pari, terletak di tengah pemukiman yang cukup padat. Foto oleh Rifqy Faiza

 

CANDI-PARI

Candi Pari, terletak di tengah pemukiman yang cukup padat. Foto oleh Rifqy Faiza

Saat itu, malam terakhir di tahun 2014. Ketika sebagian warga desa Candi Pari, Porong, Kabupaten Sidoarjo, siap mengisi pergantian tahun dengan gegap gempita, tak demikian Sahroni. Pria tambun berkulit sawo matang itu memilih melakukan rutinitasnya. Yang lebih sunyi.

Selepas isya, dibukanya gerbang Candi Pari. Suara engsel pagar besi hijau sekilas terdengar menyayat. Mengiringi langkah kakinya. Dengan tenang, Sahroni memasuki bagian dalam candi.

Di dalam telah siap berbagai instrumen ritual. Sejumlah dupa siap dibakar sebagai pembuka “pintu” menuju alam lain. Sementara artefak-artefak lain, beberapa arca tanpa kepala dan peripih (kotak batu berisi sembilan ruang) dibiarkan terdiam. Suasana seketika hening. Matanya terpejam. Aura candi sedang baik.

Dalam sekejap, pikiran dan batinnya sejenak tercerabut dari raganya. Dua sosok tak kasat mata kembali menyambutnya. Yang satu berperawakan tinggi, besar dan beraura bersih. Satunya lagi kurus kerempeng, sosok pelaku tirakat pada masanya. Keduanya bersifat baik.

Malam itu, Sahroni mendapatkan petunjuk penting. “Saya diberi petunjuk supaya mengendalikan nafsu-nafsu pribadi,” katanya. “Juga diberi pesan tentang sabar dan syukur.”

* * *

candi-pari

Seorang warga melintas di jalan kampung yang membelah lahan padi di Desa Candi Pari, Porong, berlatar Gunung Penanggungan (kanan) dan Gunung Arjuno-Welirang (kiri) di kejauhan. Desa ini merupakan daerah lumbung padi pada masa Majapahit sampai sekarang. Foto oleh Rifqy Faiza

Alkisah, musibah gagal panen padi pernah melanda wilayah Majapahit. Di tengah paceklik pangan, raja Majapahit kala itu, Hayam Wuruk, mendapat laporan tentang daerah lumbung padi di desa bernama Kedungkras.

Tanpa banyak cakap, sang raja mengincar desa itu. Ia pun bergegas mengutus prabunya untuk menarik upeti. Beruntung, niatnya disambut baik penduduk Kedungkras. Dua pasang suami istri pribumi membantunya menyiapkan lahan persawahan dan mengurus budidayanya.

Adapun hasil panen sebelum diangkut dan dikirim ke pusat kerajaan, disimpan dulu di suatu desa tak jauh dari Kedungkras. Yang kini menjadi tempat berdirinya Candi Pamotan (Pamotan dalam bahasa Jawa berarti tempat pemuatan) yang sudah runtuh, bersama dua reruntuhan candi di sekitarnya.

Sebagai balas jasa kedua pasangan tersebut, lewat sang prabu, sang raja menawarkan mereka pekerjaan dan tempat tinggal di lingkungan keraton Majapahit. Jaka Walang Tinunu dan istrinya, Nyai Loro Walang Sangit bersedia diboyong. Namun pasangan lainnya, Jaka Pandelegan dan Nyai Loro Walang Angin menolak tawaran tersebut.

Tak dinyana, sang raja sedikit murka. Diutusnya sang prabu untuk menangkap paksa pasangan suami istri yang dianggapnya membangkang tersebut.

Setibanya di Kedungkras, sang prabu bersama bala tentaranya bersiap menangkap paksa mereka berdua. Jaka Pandelegan yang mengetahui rencana sang penguasa, segera bertindak.

Sebelum ditangkap, ia meminta izin untuk pergi ke lumbung padinya sejenak. Namun seketika itu Jaka Pandelegan menghilang tanpa bekas. Mengikuti sang suami, Nyai Loro Walang Angin juga berpura-pura minta izin untuk pergi ke sumur, yang terletak di selatan lumbung padi suaminya. Sambil membawa kendi, beralasan untuk bekal perjalanan. Namun seketika itu pula, Nyai Loro Walang Angin menghilang tanpa jejak.

Kemurkaan penguasa Majapahit melunak seketika. Sebagai balas jasa dan pengakuan atas kesaktian Jaka Pandelegan dan istrinya, atas usulan sang prabu, dibangunlah dua buah candi secara berdekatan. Dalam jarak 50 meter, Candi Pari di utara dibangun di bekas lumbung padi tempat Jaka Pandelegan menghilang. Candi Pari dijadikan nama desa, menggantikan nama Kedungkras. Sedangkan Candi Sumur dibangun di selatan, bekas sumur tempat Nyai Loro Walang Angin menghilang.

candi-pari

Tempat peribadatan di dalam candi.
Tampak tonjolan dinding bekas pelinggihan arca berukuran besar, arca-arca tanpa kepala, kotak peripih, dan dupa. Terlihat pula dua di antara enam lubang sirkulasi udara yang melekat di dinding candi. Foto oleh Rifqy Faiza

Dua candi yang dibangun berdekatan itu pun memberi penafsiran tersendiri. Dari segi simbol, Candi Pari melambangkan kesuburan. Sedangkan Candi Sumur melambangkan pengairan, yang menyebabkan persawahan di sekitarnya tak pernah kering.

Sementara, Sahroni menafsirkan lain. “Candi Pari ini melambangkan laki-laki,” tuturnya merujuk sosok Jaka Pandelegan. “Sedangkan Candi Sumur melambangkan perempuan, Nyai Loro Walang Angin.”

Yang pasti, di antara lima candi di wilayah Porong, Candi Pari adalah satu-satunya candi yang kondisinya masih baik dan bentuk dasarnya utuh. Selain di Porong, juga terdapat Candi Dermo di Wonoayu, Candi Medalem di Tulangan, dan Candi Tawang Alun di Sedati.

Karenanya, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, memprioritaskannya untuk diselamatkan. Candi Pari dipugar 13 September 1994 dan selesai tahun 1999. Pada tanggal 1 Mei 2001, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, I Gede Ardika, meresmikan purna pugar candi yang dibangun tahun 1317 masehi itu.

* * *

‘Kamu ibarat intan yang tertutup lumpur. Bersabarlah, suatu saat akan ada orang yang menemukanmu, membersihkanmu dari lumpur, dan memolesmu.’ Nasihat ini disampaikan dalam bahasa Jawa oleh seorang supranaturalis asal Krian kepada Sahroni, sesaat sebelum ia menikah.

Nasihat itu begitu membekas. Sekaligus menghibur, memberinya kepercayaan diri. Sejak memilih merawat candi pada 1994, tak sedikit yang mencibir dan menentang profesinya. “Saya dulu dikenalnya sebagai tukang sapu candi.” Profesi yang diragukan memberikan penghidupan layak. Bahkan diragukan untuk memikat jodoh. Cukup dimaklumi keraguan itu, apalagi dengan hanya upah seribu rupiah per hari saat itu.

Tak cuma itu. Tentangan terbesar berasal dari keluarga besarnya. Terutama dari kakeknya, seorang tokoh agama yang cukup disegani di kampung. Sebabnya, Sahroni yang anak seorang tukang kayu itu merawat dan menjaga bangunan peninggalan non muslim.

Tapi ia sudah bertekad. Merawat dan menjaga candi adalah panggilan jiwanya. Ia akan tekun merawat candi itu hingga akhir hayat. “Yang penting iman saya tetap kepada Allah,” katanya sambil menelunjuk ke atas. “Kalau bukan saya yang merawat, siapa lagi?”

candi-pari

Sahroni di ruang kerjanya. Foto oleh Rifqy Faiza

Perlahan tapi pasti. Semesta seakan membantunya membuktikan diri. Tahun 1998, di usianya yang ke-25, jodohnya tiba. Seorang perempuan asal Surabaya bersedia menjadi pendamping hidup pria lulusan SMP itu. Sang istri yang sempat memintanya beralih profesi di awal pernikahan, perlahan berbalik memberikan dukungan. Dukungan moral yang bertambah setelah kehadiran tiga anaknya.

Pada tahun 2008, tahun ke-14 pengabdiannya sebagai juru pelihara candi, Sahroni resmi diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Pengangkatan yang membuatnya semakin tenang. “Gajinya tidak besar, tapi pasti,” imbuhnya.

Tak hanya itu, hingga kini Sahroni juga dipercaya BPCB Jawa Timur menjadi koordinator lapangan juru pelihara candi dan cagar budaya di Sidoarjo. Termasuk membawahkan dua juru pelihara lainnya di Candi Pari, yang bertugas sesuai sif masing-masing.

* * *

Suatu hari, beberapa bulan lalu, pernah rombongan pelajar sebuah sekolah menengah di Surabaya datang berkunjung ke Candi Pari. Seturunnya dari bus, beragam komentar keluar dari mulut masing-masing.

Yah, cuma begini doang? Begitu yang banyak terdengar oleh telinga Sahroni. Ungkapan kekecewaan, karena objek yang dikunjungi dianggap tak se-fotogenik Borobudur atau Prambanan. Sahroni hanya bisa mengelus dada. “Padahal candi tidak hanya dilihat dari tampak luarnya saja,” katanya, “tapi nilai sejarah dan proses pembuatannya.”

Itulah mengapa Sahroni setuju dengan pernyataan turis Jepang empat tahun lalu. Dalam kunjungannya ke candi bergaya campuran Jawa-Champa itu, si turis memberikan kesimpulan. “Saya lebih mengagumi dan memuji orang zaman dahulu daripada orang zaman sekarang,” ujarnya seperti ditirukan Sahroni.

Meski sempat tersinggung (karena merasa sebagai orang zaman sekarang), tapi penjelasan si turis membuatnya mengangguk. Bahwa, orang dahulu dengan keterbatasan alat dan bahan, malah mampu menyusun batu bata bertumpuk itu tanpa perekat. Membangun candi yang besar, yang orang sekarang pun belum mampu membuatnya.

Semangat akan nilai dan esensi yang demikianlah, yang selalu ditularkan Sahroni kepada siapa pun. Khususnya kepada pengunjung candi.

candi-pari

Batu berserakan di barat candi. Foto oleh Rifqy Faiza

Menurut Sahroni, reruntuhan tersebut merupakan pondasi gapura, yang satu sisinya kini dibangun pos jaga tempatnya bertugas.

Saking sayangnya dengan Candi Pari, sosok yang bersahaja ini sempat membuat kebijakan cukup ekstrim. “Dulu awalnya saya melarang pengunjung masuk dan menyentuh candi,” tukasnya. Papan rambu larangan pun pernah ia pasang. Ia khawatir alas kaki pengunjung merusak lantai candi. Belum lagi ancaman vandalisme dari oknum pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Tapi kebijakan itu malah mendapat protes keras dari tetangganya. Dalam bahasa Jawa, mereka mencibir, “Memang ini candimu sendiri apa!” Rambu larangan yang baru dipasangnya pagi hari pun terimbas. “Siangnya sudah hilang. Diambil orang.”

Sejak saat itu, ia memilih berbicara baik-baik kepada setiap pengunjung. Mengedukasi meski singkat, saat pengunjung membubuhkan data diri di buku tamu. Sekarang, pengunjung diperbolehkan masuk. “Yang penting hati-hati dan sopan,” pesannya.

* * *

“Saya tidak boleh mengeluh,” ucapnya sesaat, setelah bercerita tentang petunjuk yang didapatkannya dari ritualnya. Kendati dirundung masalah atau tekanan apapun, tak ada kamus mengeluh baginya. Khususnya menyangkut pekerjaan yang dianggapnya amanah itu.

Masih ada harapan baginya terhadap Candi Pari dan sekitarnya. Sahroni melihat ada potensi pengembangan daerah kelahirannya sebagai desa wisata. Program yang sebenarnya pernah diwacanakan Pemerintah Kabupaten (pemkab) Sidoarjo di awal 2014.

Dalam program tersebut, rencananya pemukiman di sekitar candi akan disterilkan. Warga dipindah ke pemukiman baru yang layak. Mereka mendapatkan ganti berupa lapak untuk usaha. Baik berupa kuliner, kerajinan tangan, tempat parkir, atau pemandu wisata. Menurut Sahroni, meskipun warga sempat panik dan cemas akan isu tersebut, sejatinya ada rasa optimis dan senang. Karena diharapkan dapat meningkatkan perekonomian mereka.

Tapi wacana tinggal wacana. “Tak ada kabar kelanjutannya lagi,” ujarnya pasrah.

Namun, meskipun belum mampu mencuri hati pemerintah daerah, setidaknya Candi Pari dan kedua sosok penunggunya, sudah lama mencuri hati Sahroni. Juru peliharanya yang paling setia. (*)

 

Baca juga:

Dapatkan ulasan menarik tentang dan tulisan Lain dari Rifqy Faiza R.

Tags: , ,

Paket Produk Penawaran

Pajang Paket Perjalanan Anda Disini. Klik Untuk Daftar