9 Kuliner Ekstrim Ini Akan Membuatmu Tidak Nafsu Makan

Apabila kamu berkunjung ke suatu tempat, selain budaya, keindahan alam, dan berbagai wahana, pasti kuliner khas setempat juga akan diburu.

Ditulis Oleh Prameswari Mahendrati

Layaknya saudara kembar, traveling sangat erat dengan istilah kuliner. Apabila kamu berkunjung ke suatu tempat, selain budaya, keindahan alam, dan berbagai wahana, pasti kuliner khas setempat juga akan diburu karena kuliner adalah bagian dari seni cita rasa daerah setempat yang menjadi salah satu ciri khas atau identitas.

Beragam jenis kuliner yang ditawarkan berbagai daerah dan berbagai negara pun begitu beragam. Benar-benar luar biasa racikan dan ciptaan manusia, saya sungguh takjub merasakannya, jika Indonesia memiliki rendang yang sudah tersohor di berbagai negara dengan cita rasa pedas asin dipadu rempah-rempah yang kuat, Jepang memiliki sushi dengan fresh salmon sebagai toping khasnya, kelezatan shawarma khas Uni Emirat Arab dengan potongan daging domba lengkap dengan sayuran yang diselimuti roti dan siraman saus hummus, atau bahkan pizza yang lahir dari negara itali yang sudah sangat familiar di lidah masyarakat Indonesia.

Tapi, tidak semua kuliner memiliki kekhasan dalam hal cita rasa, ada juga jenis kuliner yang menurut sebagian orang dianggap ekstrim, misalnya kuliner yang terbuat dari bahan baku tidak lazim, seperti ulat, kelelawar, tokek, dan sebagainya.

Berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia, saya kerap kali menemukan hidangan-hidangan yang justru tidak menggugah napsu makan saya, berikut beberapa jenis makanan ekstrim yang saya temukan di beberapa daerah di Indonesia.

1. Botok tawon

Mungkin jika kamu mendengar kata botok yang terlintas di pikiran adalah jenis makanan yang terbuat dari ampas kelapa yang dipasukan dengan petai cina, tahu, teri atau udang. Ketika saya berkunjung ke rumah sanak saudara di Jawa Timur, tepatnya daerah Jombang, saya sempat kaget dengan makanan yang disuguhkan oleh bulek saya. Bukan bothok biasa yang disuguhkan, melainkan botok yang terbuat dari tawon.

Sebenarnya agak ngeri untuk memakannya, tetapi apalah, rasa ngeri saya dikalahkan dengan rasa sungkan, mengingat budaya orang Jawa yang memuliahan tamu, “tamu adalah raja”, begitulah akhirnya saya pun memberanikan diri memakannya walaupun hanya lima suap. Rasanya? Pedas, asam, dan sedikit manis dengan tekstur rasa tawon yang sedikit kasar di lidah.

2. Rempeyek laron

Masih di daerah yang sama, Jombang. Setelah disambut dengan hidangan makan besar ditemani lauk yang menurut saya masuk kategori ekstrim, selanjutnya masih ada kudapan yang dihidangkan khusus untuk saya yang jarang sekali berkunjung ke sini. Kali ini kudapan yang disuguhkan adalah rempeyek. Kamu pasti sudah tau kan apa itu rempeyek? Betul, kerupuk yang terbuat dari adonan tepung beras yang digoreng hingga membentuk tekstur renyah.

Lagi-lagi saya tertipu dengan dugaan rempeyek, saya pikir kudapan ini divariasikan dengan rebon (udang kecil) atau kacang, ternyata saya dibuat syok oleh bulek saya, kudapan ini dikombinasikan dengan laron. Yah! Benar-benar laron, hewan kecil yang bisa kamu jumpai di waktu-waktu tertentu yang biasa beterbangan di sekitar lampu rumahmu.  Lagi-lagi dengan perasaan geli akhirnya pun saya memakan sedikit rempeyek ekstrim itu. Kalau ditanya rasanya, memang gurih dan agak terasa sedikit amis.

3. Sate biawak

Sate yang terbuat dari daging binatang reptil ini mungkin sudah tidak asing lagi buat kamu, pasalnya, di beberapa tempat di kota besar sudah banyak yang menjajakan kuliner yang satu ini. Awalnya, sate biawak ini hanya populer di daerah Indonesia bagian timur, namun seiring perkembangan permintaan, konon daging biawak ini dapat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit gatal kulit.

Sebagian orang mungkin penasaran dengan cita rasanya dan mungkin sebagian lagi mengkonsumsinya untuk pengobatan penyakit gatal. Nah, untuk kamu yang tinggal di Jakarta tidak perlu bingung, karena di restoran istana raja kobra dibilangan jalan Kapten Tendean– Mampang, Jakarta Selatan. Tidak hanya sate biawak, di sana juga menjual berbagai macam kuliner reptil seperti ular kobra dan jenis ular lainnya. Minat?

4. Tokek goreng

Tokek mungkin salah satu binatang yang sudah lama familiar untuk dijadikan sebagai makanan ekstrim, walaupun belum ada penelitian secara farmakologi yang menunjukan bahwa tokek dapat menyembuhkan penyakit seperti gatal kulit dan asma, tetapi kuliner ini tetap diburu untuk dijadikan santapan pengobatan. Di di bilangan Lokasari, Mangga Besar, Jakarta, terdapat rumah makan sederhana yang menjual kuliner tokek ini, saya pernah sekali mengunjungi kedai ini ketika hendak mengantarkan teman saya, Raka, untuk mencicipi menu tokek goreng. Sejak dulu ia memang sudah menggemari berbagai macam kuliner ekstrim.

Kali ini saya sangat penasaran untuk datang ke kedai seperti itu, walaupun agak jijik dan ada perasaan mual karena mencium aroma amis dimana-mana, paling tidak hasrat keingintahuan saya dapat terpenuhi melihat proses pengolahannya secara langsung, yakni tokek dikuliti terlebih dahulu, dibuang jeroannya, lalu dicuci bersih dan siap untuk diolah dengan dilumuri bumbu-bumbu terlebih dahulu.

5. Tikus asap

Kuliner yang satu ini adalah jenis panganan yang sangat tidak lazim, saya bisa membayangkan seekor tikus yang biasa hidup di gorong-gorong got dan memakan sisa-sisa makanan di tempat pembuangan sampah, kini hewan itu dikonsumsi oleh manusia. Membayangkannya saja sudah merasa ngeri, tapi mungkin pikiran itu tidak untuk kamu para pecinta kuliner ekstrim. Di Thailand, makanan yang terbuat dari daging tikus sudah sangat lazim.

Di Indonesia tikus-tikus juga diolah menjadi campuran bahan makanan, contohnya bakso tikus. Hanya saja, di Indonesia pengolahan tikus cenderung ilegal.

Kamu yang tinggal di daerah Jabodetabek mungkin kerap mendengar isu-isu penggunaan daging tikus oleh pedagang-pedagang yang “nakal”. Di Jakarta daging tikus diolah menjadi makanan secara ilegal, berbeda cerita bila diolah di daerah Manado, menurut Evril, teman rantauan asal Manado, di daerahnya tikus sangat lezat apabila diolah dengan cara di asap.

6. Kelelawar bumbu kecap

Di daerah Pulau Jawa memang kelelawar atau biasa disebut codot ini tidak umum jika diolah untuk dikonsumsi manusia, tapi lain halnya jika di daerah Manado. Daerah yang terkenal dengan gudangnya makanan ektrim ini, menganggap kelelawar lazim untuk dikonsumsi.

Kuliner dengan racikan bumbu jahe, laos, kecap dan aneka rempah lain ini dipercaya oleh masyarakat memiliki khasiat untuk menjaga stamina laki-laki maupun wanita. Ketika saya berkunjung ke Manado, saya banyak menjumpai warung yang menjual panganan ini walaupun saya sendiri enggan untuk mencicipinya, tapi saya akui aroma dari kuliner ini cukup menggoda.

7. Ulat sagu

Siapa yang tak tahu kudapan yang berasal dari Papua, Maluku, dan NTB. Hewan berprotein tinggi ini bisa ditemukan di pohon sagu dan pohon kelapa yang sudah mati. Mungkin bagi kamu yang tidak terbiasa dengan kuliner ini mendengar namanya saja sudah jijik, tapi lain halnya dengan penduduk desa di Papua, biasanya penduduk sekitar memakannya mentah-mentah tanpa ada proses pemasakan, langsung dikonsumsi dari pohonnya.

8. Rujak cingur

Jika kamu berkunjung ke daerah Surabaya, pasti kamu akan menemukan banyak kuliner ini dijajakan di pinggir jalan. Kali ini saya mengajak Peul, teman saya yang berasal dari Bangkok, Thailand untuk jalan-jalan menelusuri kota Surabaya, tak lupa saya juga menawarkan kuliner khasnya, rujak cingur. Ia pun tampak menikmati sajian makanan ini, tapi setelah saya beritahu bahan utama rujak cingur, ia langsung menghentikan makannya, menurutnya cingur yang terbuat dari bibir dan hidung sapi ini termasuk makanan ektrim.

9.    Lawar Bali

Dua tahun lalu ketika saya berkunjung ke Bali, saya menemukan salah satu kuliner yang menurut saya dan teman-teman saya ekstrim, karena olahan darah babi sangat tidak familiar di Pulau Jawa, namun oleh masyarakat Bali, lawar ini digunakan sebagai hidangan untuk upacara adat, tidak hanya di warung-warung kaki lima, hotel-hotel berbintang pun biasanya menyajikan kuliner yang ekstrim bagi masyarakan luar bali.

***

Itu dia beberapa makanan ekstrim yang pernah saya temui dan lihat secara langsung. Jika kamu penggemar berat makanan ektrim mungkin kamu akan menjajal panganan tersebut, tapi bagi pecinta kuliner biasa, jangan harap kamu akan napsu melihat olahan makanan tersebut, mungkin kamu harus mengumpulkan kembali napsu makanmu yang sudah hilang.

Dapatkan ulasan menarik lainnya tentang , tulisan lain Prameswari Mahendrati

Gabung dengan Phinemo Community, kumpulkan poin dengan membagikan pengalaman jalan-jalan kamu dan tukarkan dengan reward dari Phinemo Partner. Gabung Sekarang ->

Rekomendasi

Next Post