5 Mitos Bulan Suro yang Dipercaya Masyarakat Jawa

Mitos bulan Suro yang sangat dipercaya oleh masyarakat Jawa (Instagram/@bumijawa_).

Bulan Muharam bagi masyarakat muslim termasuk salah satu bulan haram yang sangat penting untuk memperingati waktu hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Dalam penanggalan masyarakat Jawa, Muharam disebut sebagai bulan Suro yang dipercaya penuh kesialan.

Bulan Suro diciptakan oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645) pada zaman Kerajaan Mataram Islam. Sultan berkeinginan untuk menyesuaikan kalender Saka (kalender Jawa dan Hindu) agar sesuai dengan sistem penanggalan Islam. Selain itu penyesuaian ini juga bertujuan untuk menyatukan dua kubu masyarakat Jawa yang terpecah akibat perbedaan keyakinan, yakni penganut Kejawen (Kepercayaan Jawa) dengan Putihan (Kepercayaan Islam).

Suro dikenal oleh masyrakat sebagai bulan kesialan dan sangat sakral. Suro menjadi waktu untuk memandikan benda-benda pusaka dan melaksanakan berbagai ritual sakral Kejawen. Terdapat beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan masyarakat Jawa di bulan Suro jika ingin terhindar dari berbagai kesialan dalam hidup.

Berikut ini disajikan ulasan terkait beberapa mitos bulan Suro yang sangat dipercaya oleh masyarakat Jawa di nusantara.

1. Tidak boleh mengadakan pernikahan

Dalam adat budaya dan tradisi masyrakat Jawa sangat melarang orang tua menikahkan anak-anaknya di bulan Suro. Menurut kepercayaan mengadakan pernikahan di bulan Suro hanya akan mendatangkan kesialan kepada pihak keluarga. Sebagian mengatakan bahwa kepercayaan ini hanyalah sebuah mitos yang tak berdasar. Beberapa beranggapan bahwa mengadakan pernikahan di bulan Suro akan menyaingi ritual keraton yang akan dirasa sepi.

2. Menunda pindah rumah

Masyarakat Jawa sangat mempercayai bahwa ada yang disebut hari baik dan ada pula hari burul. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, hari-hari di bulan Suro bukanlah hari baik sehingga tidak dianjurkan melakukan pindahan rumah. Siapapun yang menentang aturan ini akan mengalami kesialan dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

3. Dilarang mengadakan pesta hajatan

Bulan Suro dianggap sebagai bulan yang buruk sehingga sangat dianjurkan untuk mengadakan berbagai pesta hajatan seperti pernikahan, sunatan, dan lainnya. Namun kepercayaan ini oleh sebagian masyarakat Jawa dianggap sebagai mitos belaka. Alasannya sama, beberapa beranggapan mengadakan pesta hajatan di bulan Suro hanya akan menyaingi ritual-ritual di keraton yang dirasa akan sepi.

(Instagram/@ib_wiweka)

4. Berdiam diri di rumah

Tepat pada saat malam satu Suro, sangat dilarang untuk keluar rumah atau melakukan aktivitas di luar rumah. Masyarakat Jawa sangat percaya bahwa keluar rumah di malam satu Suro akan mendatangkan musibah dan hal buruk dalam hidup.

5. Tapa Bisu

Tapa Bisu merupakan salah satu ritual masyarakat Jawa berupa mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dengan tidak berbicara sama sekali. Makan, minum, bahkan merokok sekalipun sangat dilarang saat menjalankan ritual ini. Biasanya Tapa Bisu dilakukan pada tanggal satu Suro oleh para abdi dalem keraton.

Ingin mengadakan perjalanan wisata tapi malas repot ngurus ini itu? Tak perlu khawatir, Phinemo Marketplace hadir menyelasaikan permasalahan anda. Ratusan paket wisata dalam dan luar negeri dari tour opertaor terpercaya di Indonesia telah terdaftar di halaman Phinemo Marketplace. Tunggu apalagi, cek selengkapnya di >> Paket Wisata Phinemo Marketplace.

Dapatkan ulasan menarik tentang jawa dan tulisan Lain dari Taufiqur Rohman

Tags: ,

Paket Produk Penawaran

Pajang Paket Perjalanan Anda Disini. Klik Untuk Daftar