Sidebar

4 Hal Agar Tak Mati Gaya Saat Berlibur di Jember

Sebagai kota wisata, Jember, Jawa Timur mungkin belum sepopuler Banyuwangi, Malang, Lombok bahkan Bali. Namun bukan berarti tak ada yang menarik di Jember.

SHARE :

Ditulis Oleh: Yuthika N. Addina

Foto oleh wisatajatim

Perjalanan menuju Bali beberapa waktu lalu saya sempatkan mampir ke Jember, Jawa Timur untuk mengunjungi salah seorang teman dekat –kalian tak akan percaya betapa terharunya dia kota tercintanya saya kunjungi. Setelah menahan pegal selama 7 jam di Bus Akas, sampailah saya di Terminal Kota Jember, Terminal Tawang Alun!

1. Hattrick Pantai di Jember

Saya seperti langsung lupa diri begitu tahu jika ternyata rumah teman saya hanya berjarak satu jam dari Pantai Putih Malikan atau biasa disebut Papuma. Maklum, saya yang asli Bandung ini harus naik motor dulu selama 3 jam jika ingin melihat pantai di Garut, Jawa Barat.

Hattrick tak hanya ada di sepakbola. Hari itu, saya sangat puas setelah melakukan hattrick pantai di Jember.

Pantai Papuma

Foto oleh Yuthika

Pantai pertama adalah Pantai Putih Malikan atau lebih dikenal dengan nama Papuma. Seperti namanya, Papuma memang memiliki pasir selembut dan seputih tepung terigu. Tempat ini begitu meriah oleh deretan batu-batu karang serta tebing megah menjulang. Jika kamu memiliki energi berlebih, naiklah dan kamu akan menyaksikan sajian panorama gradasi air laut dari atas.

Ombak Papuma datang seolah saling berkejaran. Ombak di sini cukup besar sehingga ada larangan berenang bagi pengunjung. Satu hal menarik, selain ramai pengunjung, Papuma juga ramai oleh kawanan monyet yang berkeliaran bebas di pepohonan sekitar pantai.

Pantai Watu Ulo

Tak begitu jauh dari Papuma ada Pantai Watu Ulo . Konon, pantai ini diberi nama Atu Ulo yang berarti kurang lebih batu ular karena bentuk salah satu karang di sana yang menyerupai ular.

Pantainya sendiri masih agak mirip dengan Papuma, suasananya pun tak jauh berbeda. Hanya saja Watu Ulo bisa dibilang sedikit lebih kecil dan sepi karena dibatasi oleh batu karang yang besar-besar, di pantai ini juga tidak terlalu banyak warung-warung makanan seperti di Papuma.

Pantai Payangan

Foto oleh Yuthika

Sekitar setengah jam dari Watu Ulo, kami mengunjungi pantai terakhir yaitu pantai Payangan. Konon, momen matahari terbenam di sini begitu melegenda indahnya.

Kala itu, karena sangat ramai -kebanyakan siap dengan DSLR-nya untuk menangkap momen matahari terbenam di pantai, kami memilih mendaki sebuah bukit tak jauh dari pantai sebagai tempat kami akan menikmati matahari terbenam. Menunggu matahari terbenam kami bercengkrama sembari menyantap ransum dari rumah.

Sayangnya seribu sayang, kami kurang beruntung karena awan sedang tebal sehingga matahari tidak begitu terlihat. Tak apalah, kebersamaan lebih penting dari segalanya. Suatu saat mungkin saya akan kembali berkunjung, menyapa matahari terbenam Pantai Payangan.

2. Menyegarkan diri di Rembangan, ‘Lembang-nya’ Jember

Foto oleh Yuthika

Begitu menapak memasuki kawasan Rembangan, rasa homesick langsung menyeruak. Tempat ini begitu mirip dengan Lembang, Bandung!

Lembang berjarak sekitar setenga jam dari rumah saya di Bandung. Suasananya sangat sejuk, cenderung selalu cerah atau sedikit berawan. Pohon dan bunga di sepanjang jalan, serta hutan yang masih cukup rimbun.

Di Rembangan, kami menyegarkan diri, berenang di kolam renang sebuah resort dengan tiket masuk hanya seharga 5000 rupiah. Murah, sejuk, dan udaranya begitu bersih. Tempat ini saya rekomendasikan jika kamu sedang berlibur di Jember.

3. Menyesap Kopi di Kolong Jembatan

Foto oleh Yuthika

Saya seorang pecinta kopi. Berada di kota yang baru pernah saya kunjungi tak akan saya sia-siakan untuk mencicip kopi lokalnya.

Di Jember, saya dikenalkan dengan sebuah coffee shop yang tidak kalah nyamannya yang dikenal dengan sebutan Kopi Kolong. Ya, tempat ini memang berada di kolong, sebuah jembatan. Meski demikian, tempat ini disulap sedemikian rupa menjadi tempat ngopi dan nongkrong yang sangat nyaman. Suasana pencahayaan temaram membuat suasana coffee shop ini begitu romantic.

Semakin malam tempat ini semakin ramai pengunjung. Open mic di tengah-tengah kafe semakin menambah suasana semarak meski hari telah larut malam.

Untuk menikmati kopi di sini tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, hanya dengan Rp.5000 – Rp 20.000,- kamu bisa menikmati secangkir kopi hangat di sini.

4. Berfoto di Alun-Alun Kota Jember!

Foto oleh Yuthika

Alun-alun Kota Jember selalu dipenuhi warga kotanya yang melakukan berbagai aktivitas. Mulai dari duduk-duduk, bermain  basket, in line skate, serta anak-anak yang bermain di area playground. Ada salah satu sport menarik dimana terdapat kerlap-kerlip lampu hias. Spot inilah yang menjadi spot favorit warga kota yang ingin berfoto. Orang berkata, jika ingin merasakan sensasi sebenarnya sebuah perjalanan, lakukanlah apa yang dilakukan orang lokal, karena itu saya tak boleh melewatkan berfoto di tempat ini.

SHARE :

Pilihan paket wisata di Phinemo Marketplace


POPULER MINGGU INI



REKOMENDASI

Kenapa Orang Jawa Dibenci Masyarakat Luar Pulau Jawa? Ini Alasannya

Pantai Kedung Tumpang, Pesisir Indah Tulungagung dengan Kolam Alami

Kampung Lumbung Hotel, Akomodasi Unik Ramah Backpacker di Malang

Ubud Hotel & Cottages Malang, Akomodasi Murah Ala Alam Tropis Bali

Jadwal Pembukaan Pendakian Gunung di Indonesia di Masa New Normal

Suku Osing di Banyuwangi, Kenapa Berbeda dengan Suku Jawa Lainnya?

FALLBACK
The END