Untukmu Para Pendaki, Seberapa Pentingkah Puncak Saat Mendaki?

Seberapa penting sih makna puncak buat Kamu saat mendaki? Penting banget atau bahkan nggak penting sama sekali?

Rizqi Y • April 10, 2017

Selalu ada cara untuk menjadi bahagia saat mendaki, meski Kamu gagal mencapai puncak -airy-

seberapa penting puncak saat mendaki

Seberapa pentingkah puncak untukmu? Sumber foto

Apa iya sih, kalau mendaki harus bisa sampai puncak? Lalu, memangnya kenapa kalau mendaki tapi nggak sampai puncak?

Pertanyaan itu mungkin sering datang pas Kamu lagi mendaki. Atau justru pas Kamu melihat banyaknya pendaki yang berjuang mati-matian cuma demi seonggok puncak. Sudah, nggak usah berkelit. Pertanyaan tentang seberapa pentingnya puncak ketika mendaki ini pasti pernah mengusikmu kan? Sebetulnya puncak itu ya penting nggak penting sih, ini dia alasannya.

Buat apa mendaki kalau nggak sampai puncak – YV (25 th-pendaki pemula)-

Nggak keren kalau nggak sampai puncak!  Karena puncak adalah target yang harus dikejar dan diraih. Nggak heran sih kalau ada orang yang ngotot banget harus sampai puncak.

Dulu penting, sekarang biasa aja sihYa, mungkin dulu masih dipenuhi ambisi – Imstt (23th – pendaki lama)-

Ini lho, aku keren udah sampe ke banyak puncak gunung!

Mungkin ambisi itu yang bikin Kamu harus banget menggapai puncak . Tapi percaya deh, seiring Kamu tambah sering mendaki, puncak bukan lagi segalanya.

Penasaran sama puncak yang misterius *kaya gebetan jadi harus sampai ke puncak dong -Murti (22th – Pendaki baru)-

Sama kayak rasa penasaran Kamu waktu jatuh cinta, Kamu kepikiran si dia lagi ngapain, sama siapa, udah makan belum. Sama juga rasa penasaran Kamu ke puncak gunung. Seindah apa, seekstrem apa, semenakjubkan apa. Dan ini belum bisa terjawab kalau Kamu belum sampai puncak.

Kalau udah pernah ke puncak yang sama, ngapain harus ke puncak lagi -MRT (22th – Pendaki baru)-

Enakan juga pasang tenda, gelar matras dan masak-masak. Atau menikmati pemandangan gunung dari camp area sambil ngopi, dengerin musik, foto-foto atau baca buku lebih asyik kok dari pada capek jalan sampai puncak. Toh Kamu juga udah pernah sampai di puncak gunungnya kan?

Puncak itu bisa jadi cara untuk menikmati ciptaan Tuhan yang luar biasa -SPT (23th  – Pendaki)-

Menikmati ciptaan Tuhan yang luar biasa itu nggak cuma dengan ngeliatin gebetan aja gais. Mendaki gunung juga bakal bikin Kamu bersyukur atas kebesaran Tuhan. Akan lebih terasa lagi kalau Kamu udah sampai puncak. Rasanya udah nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Mendaki itu tentang mengobrol dengan diri sendiri bukan tentang puncak -TuTi (23th – Pendaki lawas)-

Mendaki gunung adalah cara terbaik untuk me time, percayalah! Selama Kamu lebih asyik dengan perbincangan diri sendiri, puncak bukanlah fokus utama. Menikmati waktu untuk mengenal lebih jauh siapa dirimu akan lebih bermakna dari sekadar puncak.

Puncak itu cuma bonus, yang asyik itu perjalanannya -DW (25 th – Pendaki)-

Bukan tentang puncak, tapi lebih pada kebersamaan yang susah didapatkan ketika nggak mendaki. Berjalan menyusuri jalur pendakian bersama teman-teman terbaik, nyanyi-nyanyi bareng nggak jelas sambil menikmati hijaunya gunung. Karena perjalanan adalah kenangan terindah saat mendaki.

Puncak itu ya titik tertinggi yang bisa Kamu capai -Echi (unidentified flying object – Pendaki malu)

Ini kisah dari Echi -editor Phinemo- yang beberapa kali naik Semeru tapi cuma bisa sampai di Ranu Kumbolo. Jadi menurutnya, puncak Semeru baginya adalah Ranu Kumbolo.

Tak ada istilah puncak di gunung, yang ada hanyalah titik terjauh dan tertinggi yang bisa Kamu raih selama mendaki.

Puncak itu goals, tapi kalau bahaya ya nggak usah sampai ke puncak juga sih! – Dev (24th – Pendaki lawas) –

Puncak itu hampir mirip kayak pelaminan, jadi tujuan akhir sebuah perjalanan. Tapi kalau penuh dengan resiko kegagalan atau bahaya lainnya, ya ngapain juga harus dipaksakan. Perjalanan (mendaki) itu nggak harus selalu berakhir bahagia (puncak) kok. Jangan baper.

Penting atau nggak itu tergantung dari tujuan awalmu -AvhK (26th – Pendaki lawas)-

Semua tergantung dari niat. Kalau emang tujuanmu mendaki adalah puncak, ya Kamu harus berusaha mendaki sampai puncak. Tapi bukan berarti harus mengabaikan hal-hal buruk ya. Percayalah, kebahagiaan ketika mendaki bukan semata-mata ada di puncak. Pulang dengan selamat bahkan lebih membahagiakan.

Kalau fisik dan mental masih oke, puncak itu wajib banget diraih -Arif (28th – Pendaki lawas)

Bukannya sok-sokan, tapi selama kondisi tubuh masih oke dan fit kenapa nggak mendaki sampai puncak? Kamu bakal ketemu dengan pemandangan luar biasa yang mungki nggak bisa dilihat orang lain. Kamu harusnya jadi orang yang lebih pandai bersyukur kalau bisa mendaki sampai puncak gais.

Ketika membawa sebuah misi yang penting, puncak ibarat tanggng jawab yang nggak bisa dihindari. -Anonim (Peneliti)

Bagi peneliti, puncak itu bukan lagi urusan keren atau indah. Tapi puncak adalah bagian dari pekerjaan yang mau nggak mau harus diselesaikan. Jadi, apapun kondisinya selagi masih bisa diusahakan, sampai ke puncak adalah suatu keharusan.

***

Intinya sih, puncak itu memang penting tapi bukan segalanya. Masih ada banyak hal yang lebih membahagiakan dari sekadar puncak. Seperti melakukan hal gila bareng teman pendakian, masak-masak dan ngopi di gunung, atau justru menyendiri untuk mencari ketenangan. Safety first, itu lebih penting. Selalu ada cara untuk menjadi bahagia saat mendaki meski Kamu gagal mencapai puncak.

Baca juga: