Traveling Itu, Jangan Menunggu Ada Waktu!

Selama ini, waktu saya terikat oleh jam kerja kantor. Kini, saya putuskan untuk keluar dari kantor, demi hidup yang lebih bebas.

Andika Rahmawati • March 17, 2015
traveling-itu-Akid

Foto oleh Andika Rahmawati

Saya sering mendengar keluhan klasik dari mereka yang bekerja kantoran mengenai sulitnya menemukan waktu untuk traveling atau bahkan untuk sejenak saja berlibur. Jumlah hari cuti yang terbatas, adalah masalah utama yang sering terlontar.

I have been there, felt that!

Jika dulu saat masih sekolah atau kuliah, banyaknya waktu luang tidak sebanding dengan dana liburan yang menjadi kendala utama karena masih bergantung pada sokongan orang tua, saat sudah bekerja dan mampu menghasilkan uang sendiri, justru ketiadaan waktulah yang bertukar peran dan menjadi penghalang perjalanan.

Saya sudah menghabiskan masa sembilan tahun sebagai pekerja kantoran dan selama sembilan tahun itu pula, saya merasakan betapa ‘mencuri’ waktu untuk traveling adalah persoalan yang sering kali sulit untuk dipecahkan.

Tumpukan pekerjaan, rapat yang tidak bisa ditunda, tingginya omset perusahaan yang harus dikejar, deadline yang tidak bisa menunggu, juga seringkali menambah daftar panjang alasan untuk melakukan perjalanan.

Saya ingat betul rasanya saat sedang santai berlibur dan menerima telepon atau surel yang berhubungan dengan pekerjaan yang mendesak untuk diselesaikan.

Saya bahkan pernah membuat ungkapan, “Liburan, patah hati, hujan turun, apapun di dunia ini bisa menunggu, tetapi deadline tidak.”

Beberapa kali saya pernah merencanakan untuk berhenti bekerja, traveling secukupnya, dan kemudian kembali mencari pekerjaan kantoran. Sayangnya, saya sempat mengalami masa-masa sulit melepas kenyamanan dan perasaan terjamin sebab adanya gaji bulanan.

Saya perlu traveling tetapi saya tidak bisa melepas pekerjaan dan belum rela kehilangan rutinitas. Lalu apa yang saya lakukan?

Saya mencuri waktu!

Saya menjadi karyawan yang paling rajin mengingat hari-hari libur dan tanggal merah, pintar memanfaatkan hari-hari ‘kejepit’, semangat menunggu tengah malam demi mencari tiket-tiket promo penerbangan, semua disebabkan oleh keterbatasan waktu cuti untuk pergi lama-lama.

Jadi supaya tidak buang-buang waktu, saya harus tahu sebanyak mungkin informasi tentang tempat tujuan saya, sedetail mungkin.

Tidak cuma kemana saja saya mau pergi, tapi sampai ke detail kendaraannya, misalnya pukul berapa keretanya berangkat, pukul berapa tiba, dan berapa ongkosnya, saya harus tahu.

Escape therapy yang saya lakukan setiap satu atau dua bulan sekali ini, berhasil menjaga kewarasan saya selama beberapa tahun.

Tetapi pada akhirnya, bom waktu akhirnya meledak juga. Akhirnya tiba saatnya saya merasa benar-benar ingin punya cukup waktu untuk traveling, memutuskan untuk mengemasi barang-barang dan meninggalkan tumpukan pekerjaan untuk mulai berjalan

Tiba saatnya saya membalik ungkapan saya yang sebelumnya menjadi, “Deadline bisa menunggu, tetapi traveling tidak.”

***

Saya meninggalkan Jakarta untuk membelah jalanan pulau Jawa, memeluk puncak Semeru, menyeberang ke Bali dan tinggal di Ubud selama beberapa minggu. Menuju Lombok, mendaki ketinggian 3726 mdpl Rinjani, dan menyusuri pantai-pantai.

Naik kapal Pelni 24 jam untuk masuk ke Flores yang cantik melalui Ende, tinggal di rumah penduduk di Ruteng, lalu hibernasi satu minggu di Pulau Komodo.

Kemudian saya kembali kearah Sumbawa, menikmati ikan segar yang ditangkap langsung dari laut Pulau Moyo, hingga akhirnya merasakan camping di pinggir pantai Pulau Satonda, sebuah pulau kecil di utara Pulau Sumbawa.

Awalnya, saya hanya berniat mengunjungi Satonda sebentar saja, karena yang ingin saya lihat hanyalah danau air asin yang terdapat di puncak bukit. Saat saya tiba di ‘gerbang’ pulau ini, tampak serombongan warga yang baru selesai melakukan ritual pemujaan dan sedang bersiap untuk pulang.

Saat rombongan itu sudah pergi, sore hari di Satonda terasa tenang dan sepi. Yang tersisa hanya beberapa orang pekerja yang tak lama kemudian juga pulang.

Saya mendadak tergoda untuk menginap, berbekal tenda dan bahan makanan secukupnya. Bermalam di tepi pantai yang sepi, di bawah langit yang bulannya sedang penuh-penuhnya, saat itu terdengar seperti ide paling brilian yang pernah saya punya.

Setelah puas berburu langit senja yang memayungi Danau Satonda dengan cantik, malam itu saya tertidur dinina bobokan ‘nyanyian’ puluhan tokek yang bersahut-sahutan.

Untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasa menikmati perjalanan. Tidak sekadar berkunjung ke tempat-tempat wisata saja, tetapi menikmati banyak hal yang terlewatkan pada perjalanan-perjalanan sebelumnya karena saya harus berjalan cepat-cepat.

***

Sekarang saya tidak perlu lagi menunggu ada waktu untuk memulai perjalanan. Kini, saya yang menyediakan waktu, secukup yang saya butuhkan.

Jika Anda punya mimpi untuk ‘menciptakan’ waktu yang cukup untuk traveling dengan berhenti menjadi pekerja kantoran suatu hari nanti, gunakan waktu yang Anda miliki sekarang untuk mempersiapkan segala hal yang nanti akan Anda perlukan.

Kembangkan potensi diri semaksimal mungkin, ciptakan jejaring yang kuat, pelajari keahlian yang mungkin bisa menghasilkan dana yang cukup untuk membiayai perjalanan Anda.

Selama tujuh bulan berhenti menjadi pekerja kantoran, setidaknya ada dua jenispekerjaan yang saya kerjakan.

Yang pertama, project based.

Tipe pekerjaan seperti ini biasanya menghasilkan dana yang cukup besar namun bebannya pun sebanding dan kadang menuntut saya berdiam di satu tempat untuk bisa konsentrasi menyelesaikannya. Dana yang cukup besar ini bisa dimanfaatkan untuk membiayai perjalanan selama beberapa minggu atau beberapa bulan.

Background pendidikan resmi saya adalah Teknik Informatika.

Saya menghabiskan beberapa tahun pertama masa kerja saya seperti lulusan Teknik Informatika pada umumnya, menjadi programmer, web developer, dan web designer.

Setelah saya tidak lagi terikat lagi pada perusahaan manapun, saya beberapa kali dihubungi untuk mengerjakan proyek pembuatan sistem informasi, pengembangan website, atau sekadar mengerjakan desain banner dan flyer.

Pekerjaan kedua adalah tipe easy money.

Biasanya saya memilih pekerjaan yang bisa saya kerjakan dalam kurun waktu tertentu, misalnya satu minggu dua kali, satu bulan sekali, dan lain sebagainya.

Pekerjaan seperti ini mungkin hasilnya tidak sebanyak pekerjaan yang project based, tetapi saya memastikan pekerjaan yang saya ambil ini tidak menyita waktu terlalu banyak dan tidak menguras pikiran, tetapi cukup untuk menjamin keberlangsungan hidup dan perjalanan.

Empat tahun belakangan, saya berkutat di dunia digital marketing dan social media.

Saya belajar cukup banyak tentang kampanye social media, Search Engine Marketing dan Search Engine Optimization, konten digital, media buying, sampai menjadi ‘bidan’ bagi puluhan artikel yang terbit setiap bulan.

Ilmu-ilmu inilah yang kini saya pakai sebagai modal untuk menjadi konsultan lepas digital marketing dan social media strategist.

Dua jenis pekerjaan di atas, baik yang project based maupun easy money memiliki kesamaan, yaitu tidak mengikat saya dalam waktu-waktu tertentu setiaphari, sehingga saya mendapat fleksibilitas untuk menentukan waktu kerja saya, dan juga tidak mengharuskan kehadiran fisik untuk bertemu klien. Jenis pekerjaan yang bisa dilakukan dari jarak jauh.

Sehingga saya bisa tetap mengerjakannya meskipun saya sedang berada di pulau terpencil di Flores sekalipun.

***

Nah! Sekarang manakah yang ingin Anda lakukan? Menjadi traveler dengan mencuri waktu atau dengan menyediakan waktu?

Apapun pilihan Anda, pastikan Anda sudah melalui proses panjang berpikir dan mempertimbangkan. Karena setiap pilihan, datang bersamaan dengan segala resikonya.


Tinggalkan Komentar

Komentar