Sosial Media dan Traveler, Pasangan Tak Terpisahkan di Era Millenial

Fear of missing out atau FOMO menjadi alasan utama mengapa orang-orang enggan memisahkan diri dari gadget dan sosial media, bahkan saat traveling.

Sophie Maya • March 17, 2016

 

sosial-media

Foto diambil dari sini

“Iihh… foto profilmu di Facebook-mu keren banget, foto di mana?”

“Di Pantai Drini dong! Kemarin baru ke sana!”

“Tempatnya bagus?”

“Banget! Kamu harus ke sana! Wajib!”

“Wah, kayaknya memang harus ke sana!”

Saya pernah memperhatikan foto seorang teman yang baru berlibur dari Yogyakarta yang diunggah di Facebook. Foto dirinya tengah traveling bersama teman-teman kuliahnya di sebuah pantai. Memang tak sengaja menemukan foto itu berseliweran di timeline. Namun anehnya foto itu membuat saya berhenti men-scroll, terpaku sekian detik, lantas mengagumi keindahan pantai dalam foto itu.

Pantai yang didatanginya adalah Pantai Drini. Dan, ditambah bumbu-bumbu bujuk rayu yang manis, dia mengatakan bahwa sesekali saya harus ke sana. Hamparan pasirnya yang lembut, siluet matahari yang terlukis indah dan memantul di perairan, dan ombaknya yang tenang bak tengah tertidur lelap. Dia mengatakan tak akan menyesal mendengar sarannya. Sebagai orang yang pernah bertandang ke sana, dia meyakinkan saya bahwa pantai itu akan membuat saya seperti berada di surga.

Saya terus terbayang-bayang dengan ucapannya. Hingga enam bulan berikutnya, saya memutuskan benar-benar pergi ke Pantai Drini. Lucunya, jika menarik ke belakang, alasan kenapa saya ke Pantai Drini karena termakan bujuk rayu teman virtual saya tersebut.

***

Saya yakin tak hanya saya yang mengalami kejadian di atas. Anda pun mungkin pernah memutuskan berkelana ke sebuah tempat hanya karena melihat kolase foto seseorang yang kebetulan akunnya berada di beranda Facebook atau media sosial lainnya.

Tak dinyana hal itu telah menjadi sebuah tren di dunia traveling saat ini. Kaum millenial, yaitu generasi kelahiran 1980-2000 yang saat ini ‘merajai’ dunia traveling, memang merupakan pengguna sosial media semacam Facebook, Twitter, atau Instagram.

Kaum millennial ‘hidup’ di dua dunia, sosial media dan dunia nyata. Menariknya, sosial media membawa orang-orang yang tak kenal jadi dekat. Menyebarkan segala hal dengan jangkauan luas. Berlibur kemudian memposting foto-foto atau review perjalanan tak lagi hanya dinikmati diri sendiri, tapi segenap pengguna media sosial yang menjadi daftar teman kita. Bahkan jika fotomu menjadi viral, orang-orang yang tak menjadi ‘teman’mu di sosial media pun dapat mengaksesnya. Sebuah era tanpa batas.

 

Mempengaruhi dan Dipengaruhi

Bagaimana seorang teman virtual yang tak saya kenal berhasil mempengaruhi pikiran saya untuk traveling, dulu mungkin dianggap aneh.

“Hati-hati berbincang dengan orang asing.”

Dulu kalimat tersebut sering disampaikan oleh orang tua kita. Nyatanya sekarang, orang ‘asing’ yang mungkin tak pernah kita temui sebelumnya di dunia nyata bisa mempengaruhi keputusan kita.

Dengan kecanggihan smartphone dan platform sosial media, gaya traveling tak lagi hanya mencari keindahan destinasi untuk diri sendiri, namun juga membagikannya pada dunia luas.

Menurut riset dari Four Pillars Hotels, 52% pengguna Facebook menyatakan bahwa foto-foto teman virtual yang diunggah di Facebook menginspirasi mereka untuk traveling. Menakjubkannya, para traveler yang sudah memiliki rencana untuk traveling ke sebuah tempat, sebanyak 52% mengubah rencana-rencana mereka (baik destinasi, hotel, hingga transportasi) setelah berselancar di media sosial. Hal itu membuktikan bahwa media sosial mempengaruhi tren traveling.

Seberapa sering sebenarnya seseorang melakukan update saat traveling? Berdasar riset yang dilakukan situs gaya hidup wanita, Cleo, para responden cukup sering update saat menjumpai objek menarik (70%) atau saat melihat pemandangan bagus (50%) dan saat koneksi wifi terjamin (38%).

Kecenderungan untuk update ini membuktikan bahwa mereka cukup sering mengecek gadget mereka. Hal yang sama juga dikemukakan oleh penelitian yang dilakukan Time Mobility terhadap lebih dari lima ribu responden di Amerika, Korea, India, Inggris, dan Indonesia. Setidaknya 1 dari 5 orang selalu membuka gadget tiap 10 menit untuk  log in ke media sosial.

 

FOMO, Fear of Missing Out

Fear of missing out atau FOMO menjadi alasan utama mengapa orang-orang enggan memisahkan diri dari gadget dan sosial mediabahkan saat traveling.

Penelitian yang dilakukan University of Essex menjelaskan jika saat berlibur, orang masih ingin terhubung dengan teman-teman mereka. Yang berbeda adalah mereka tidak berada dalam jarak dekat sehingga interaksi sosial pun dilakukan melalui sosial media. FOMO membuat keinginan untuk terhubung tersebut bertambah kuat sehingga mereka yang berlibur tanpa membawa gadget justru merasa gelisah karena tak bisa berhubungan dengan ‘dunia luar’.

 

Dari status ke status

Seperti gosip, yang lebih cepat menyebar dari mulut ke mulut. Namun karena ini era millenial, istilah ‘mulut ke mulut’ berubah menjadi ‘status ke status’ atau ‘update ke update’.

Tak asing dengan istilah ‘instagramable’? Suatu tempat yang bergelar instagramable dengan sangat cepat akan segera populer. Beberapa destinasi telah menjadi bukti nyatanya, Kalibiru Jogja, Tebing Keraton Bandung, Brown Canyon Semarang, Omah Kayu Malang, dan masih (sangat) banyak lagi. Saya yakin anda bisa menyebutkan lebih banyak destinasi ‘instagramable’ di luar sana.

Traveler yang menyampaikan review-nya terhadap suatu destinasi akan turut mempengaruhi pola pikir orang lain. Hal ini yang sering dijadikan peluang promosi bagi para pelaku industri pariwisata. Saat ini, sering pula kita melihat para traveler menjadi ambassador sebuah produk wisata atau dibayar untuk mereview sebuah destinasi. Review dari mereka dipercaya kuat sebagai media iklan yang baik dibanding televisi atau pamflet iklan di koran.

Tak hanya itu, saat ini juga ada banyak komunitas mengenai traveling di grup Facebook. Jika anda bergabung dengan grup sejenis Backpacker Dunia, Backpacker Internasional ataupun Backpacker Nusantara misal, mungkin anda termasuk yang sangat tertolong dengan update terbaru tentang sebuah destinasi dari para anggotanya. Mulai dari info terbaru destinasi, rekomendasi penginapan, tempat makan murha dan enak, tips menggunakan transportasi umum di negara lain, semua lengkap.

 

***

Sosial media jelas telah mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tren traveling. Ada banyak keuntungan yang bisa diraih sebagai seorang traveler, namun dalam memanfaatkan juga perlu kebijakan. Yang terpenting adalah, bagaimana traveling itu sendiri membuatmu, sebagai seorang millennial, merasa menemukan sesuatu yang berarti. Selamat traveling!