Penulis Fiksi, Jadikan Keindahan Indonesia Sebagai Latar Ceritamu!

Tak banyak penulis memasang setting dalam negeri di novel. Padahal jika itu terjadi, akan mempersuasif pembaca untuk lebih mengenal keindahan Indonesia

SHARE :

Ditulis Oleh: Sophie Maya


Kita mengenal istilah berupa travel writer, yaitu ketika seseorang yang menyukai kegiatan traveling menuliskan kisah-kisahnya dalam balutan kata-kata. Bisa jadi hal itu menginspirasi atau memberikan pengetahuan baru bagi pembaca yang belum pernah mencoba tempat-tempat tersebut. Tak jarang tips-tips yang diberikan seorang travel writer, menjadi panduan yang berharga bagi para traveler di luar sana.

Di ranah novel Indonesia, hal yang ‘nyaris sama namun tak serupa’ pun terjadi.

Banyak sekali penulis dalam negeri yang menulis kisah perjalanan ke berbagai lokasi, mengekspos wilayah-wilayah di berbagai negara mau pun kota. Bedanya, karena ini novel yang tentunya berlandaskan fiksi, tokoh yang ada dalam cerita pun bukan diri sendiri, dan pengalaman yang tertera di lembar demi lembar pun hanya imajinasi belaka. Kecuali, lokasinya yang memang benar adanya.

Dengan unsur naratif dan deskriptif yang kuat, novel yang menggunakan lokasi asli ini seolah menuntun pembaca mengenal seluk-beluk tempat unik. Seolah-olah nyata. Sebab kemajuan teknologi yang berkembang pesat telah membuat para penulis mampu menjelajah tanpa harus benar-benar pergi ke tempat tersebut. Penulis dapat melakukan penelitian pustaka atau mewawancarai kenalan yang pernah melakukan perjalanan ke luar negeri sebagai bahan referensi. Paris. Tokyo. London. Korea. Name it. Banyak sekali tempat yang dijadikan lokasi cerita. Bahkan menjadi sebuah tren sendiri di ranah penerbitan buku Indonesia. Namun satu hal yang terlewat, di mana novel yang mengeksplor lokasi Indonesia?

Ada beberapa, katakanlah seperti Kei, Kutemukan Cinta di Tengah Perang oleh Erni Aladjai dengan cerdasnya mengangkat tentang konflik persaudaraan di Maluku sekaligus memperkenalkan keindahan budaya di sana. Atau Lampau oleh Sandi Firly yang menyentil sisi nostalgia pembaca melalui keindahan Loksado, Kalimantan Selatan.

Namun jika melihat peredaran di toko buku, mayoritas penghuni rak bagian novel Indonesia masih dijawarai buku-buku yang berlatarkan lokasi-lokasi luar negeri. Kalah jumlah berbanding yang memakai lokasi di Indonesia. Kalau pun ada, novel-novel tersebut tak pernah mengupasnya lebih jauh. Hanya sebagai tempelan. Lebih seringnya, cerita seolah-olah terjadi di tempat asing meski penulis mencantumkan di mana para tokoh bermukim.

Obrolan saya dengan Wiwien Wintarto, Sekjen Himpunan Penulis Indonesia (HIMPENA), juga penulis yang telah menerbitkan 14 novel, memberi banyak wawasan baru terkait hal ini.

“Pergerakan novel berlatar negara sendiri memang stagnan. Dalam arti, hanya sekadar latar tapi tak difungsikan secara baik. Tidak ada kearifan lokal yang dimasukkan dalam cerita. Mungkin karena tampak lebih bergengsi jika memakai lokasi di luar negeri, sehingga pengarang Indonesia banyak memilih mencantumkan negara-negara luar.”

Lebih jauh, Wiwien amat menyayangkan unsur lokalitas yang masih jarang digunakan para penulis di negeri ini. Padahal ada banyak tempat, budaya, dan keunikan Indonesia yang dapat diperkenalkan pada dunia lewat tangan-tangan magis penulis. Tentunya tulisan mereka akan membawa pengaruh banyak pada ketertarikan pembaca terhadap budaya dan wisata di negara ini. Bukan hanya pembaca dalam negeri, namun bisa sampai keluar. Novel bahkan bisa menjadi sarana promosi pariwisata yang baik jika dikembangkan lebih jauh.

Penulis yang mampu menemukan keistimewaan dalam satu lokasi di Indonesia, lantas mengembangkannya, akan membuat cerita mereka semakin unik. Namun terlebih dahulu, harus ada kemauan dari dalam diri penulis untuk mau memulai menulis novel seperti itu. Hal itu, menurut Wiwien, masih sulit dicapai. Tetapi tentunya masih tetap ada harapan karena walau sedikit, ada beberapa novel yang mulai memakai lokasi dalam negeri, membawa budaya dan keistimewaan lokasi ke dalam cerita mereka.

***

Indonesia tak kalah indah dan memukau dibanding negara-negara lain. Tempat eksotis semacam Banda Naira, Sibolga, Njeminahan, Ndumpil, dan lain-lain ada banyak jumlahnya dan belum tersentuh dalam ranah novel.

Ini soal kemauan. Namun jika ditilik, peluangnya terbuka lebar sebab belum banyak yang memanfaatkan keunikan menggunakan setting di Indonesia dalam novel. Bayangkan jika penulis jatuh cinta pada keindahan Indonesia hingga memiliki kemauan memainkan ujung penanya, membuat cerita tentang ibu pertiwi, tentu mereka bisa menyihir pembaca agar (lebih) cinta pada negeri sendiri.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU