Pelajaran Hidup dari Bocah Pantai Batu Payung, Lombok

Indah Fajarwati • April 14, 2015

Dusun-Padau

Foto oleh Indah Fajarwati

Pantai Batu Payung Lombok, salah satu pantai yang ada di Lombok dengan pesona batu besar yang menyerupai payung, karena itulah orang-orang menyebutnya Pantai Batu Payung.

Saat itu saya berkesempatan mengunjungi tempat ini. Begitu banyak hal yang membuat saya harus banyak bersyukur dengan keadaan saya sekarang.

Hanya ada satu Dusun, Dusun Padau namanya, yang ada di pesisir Pantai Batu Payung ini. Masyarakat sekitar yang pekerjaan sehari harinya menjadi nelayan. Namun ketika cuaca tidak mendukung mereka hanya bisa diam dirumah dan mengandalkan tanah yang mereka punya untuk bercocok tanam. Sementara sebagian warganya pergi merantau keluar Kota Mataram, bahkan sampai ada yang menjadi TKI dan meninggalkan anak-anaknya demi mencari pekerjaan yang layak. Anak-anak berusia 6-9 tahun yang kebanyakan hidup dengan kakek dan nenek mereka.

Anak-anak riang yang sepulang sekolah mengejar wisatawan untuk diantarkan ke lokasi Batu Payung dan hanya meminta upah Rp 5000,-. Anak-anak seusia mereka yang seharusnya bisa bermain dengan teman temannya dan belajar terpaksa membantu orang tuanya mencari nafkah untuk menyambung hidup.

Hidup itu harus selalu bersyukur

Anak-anak dengan segala keterbatasan. Harus berjalan jauh untuk sampai di sekolah. Bahkan tanpa bekal uang jajan. Tapi mereka punya rasa nasionalis yang tinggi.

Malam hari kami semua berkumpul bersama anak-anak ini. Saya mencoba mengetes kemampuan mereka, dengan cara menyakan hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran.

Ayo siapa yang bisa menyebutkan sila-sila dalam pancasila akan dapet susu coklat dari kakak.’

Mereka dengan antusias menyebutkan secara berurutan. Bahkan di minta untuk menyanyikan lagu-lagu nasional pun mereka hafal.

Selain dengan anak-anak saya pun sempat ngobrol dengan Kepala Dusun Padau.

Banyak sekali informasi yang saya dapatkan. Meskipun agak susah nyambung berbicara dengan bapak Kepala Dusun ini. Sepenggal percakapan saya dengan kepala Dusun Padau,

Bapak kenapa belum tidur?’ tanya saya.

Setiap malam di Dusun ini wajib ada yang begadang untuk menjaga tv dan barang elektronik lainnya Mbak, karena sering terjadi pencurian.’

Sedih sekali ketika mendengar jawaban bapak itu. Televisi yang cuma ada satu di dusun ini pun masih saja ada yang tega mencurinya.

Apapun keadaan kita, tetaplah tersenyum

Mereka yang harus memikirkan cara untuk mencari uang jajan. Menjual pasir-pasir pantai dengan harga Rp 1.000 – Rp 2.000,- untuk satu botol mineral. Tak jarang, banyak wisatawan yang menolak, namun mereka tak pernah kehilangan senyum dan tawa. Keceriaan terpampang jelas diwajah mereka. Berlarian mengantarkan wisatawan-wisatawan yang bersedia menerima tawaran mereka untuk dipandu menuju Pantai Batu Payung.

Hidup jauh dari kemewahan, hingar bingar kota dan modernisasi, tidak membuat warga Dusun Padau menjadi tertinggal. Di dusun ini hanya ada satu televisi, setiap malam mereka semua berkumpul di rumah pemilik televisi untuk menonton bersama.

Berusaha semampu kita untuk mendapatkan yang kita mau

Menjadi pemandu para wisatawan untuk sampai ke lokasi Pantai Batu Payung melalui jalan setapak di pinggiran tebing. Kebanyakan wisatawan menggunakan perahu untuk menyeberang ke Pantai Batu Payung melalui Tanjung Aan. Sebenarnya ada cara lain untuk sampai di Pantai Batu Payung yaitu melalui Dusun Padau.

Meskipun kita harus berjalan kaki sekitar 15 menit tapi kita bisa membantu anak-anak ini untuk menambah uang jajan mereka. Memang kebanyakan memaksa para wisatawan untuk dihantarkan ke lokasi Pantai Batu Payung ini, namun sisi pandang saya mengatakan ini wajar.

Karena kalau bukan dari wisatawan, darimana mereka bisa dapat uang jajan. Anak-anak seusia mereka rela berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Miris sekali melihat di negara kita ternyata masih banyak warganya yang hidup jauh dari kata layak, sedangkan banyak para pejabat negara hidupnya bermewahan.

Sekolah tetap jadi prioritas!’

Anak anak di Dusun Padau ini tidak semua bisa bersekolah. Bahkan yang sekolahpun ada yang jarang hadir ke sekolah, karena tidak ada uang jajan bahkan ada yang terpaksa harus membantu orang tuanya dan bolos ke sekolah.

Saya sempat menasehati mereka.

‘Dalam keadaan apapun kalian harus tetap semangat ke sekolah ya!’

Bagi saya, selagi kita masih bisa untuk sekolah, sekolahlah. Sekolah harus tetap jadi prioritas.

***

Begitu banyak hal yang saya dapat di Dusun Padau ini. Sedih melihat keadaan anak-anak itu. Ingin rasanya membantu mereka. Mungkin dengan tulisan ini saya bisa memperkenalkan desa mereka dengan segala keramahannya dalam menyambut wisatawan.

Di Pantai Batu Payung ini untuk tiket wisata dan parkir, mereka tidak menetapkan berapa harganya, semua hanya tergantung pada keikhlasan wisatawannya. Jadi jika ingin ke Pantai Batu Payung, jangan lupa untuk melalui Dusun Padau. Cukup berjalan kaki selama 15 menit dan kita bisa membantu anak-anak di dusun ini.


Bingung membuat judul untuk tulisan di blogmu? Tonton ini



Tinggalkan Komentar



Artikel Terkait