Jangan Sering Ngopi di Cafe Kalau Mutu Kopi di Kampungmu Masih Rendah

Kopi disebut sebagai teman setia traveler. Namun, alangkah baiknya jika kita tak sekadar ngopi, namun juga peduli pada komoditi lokal kopi di daerah kita.

Elly Suryani • February 17, 2016


kopi lokal

CC Flickr 2.0 Richard Austin

Kopi dan traveler itu ibarat bunga dan tangkai, teman setia traveler. Rata-rata traveler adalah pengopi, meski tentu ada pula sebagian lain yang ‘pengeteh’ atau ‘penyusu’.

Traveling makin asyik kalau di sana sini diisi dengan ngopi. Mengepak barang sambil ngopi. Memandang matahari senja di penginapan sambil ngopi. Menunggu bus, kereta api atau pesawat sambil ngopi. Membuat tulisan hasil traveling sambil ngopi. Masalahnya, dimanakah kamu ngopi, kopi apa yang kamu minum? Ini dia yang seru untuk dibahas.

***

Saya ini pengopi berat. Entah sudah berapa cangkir kopi saya teguk. Sejak balita saya dicekoki beberapa tetes kopi, konon untuk menghidari step. Setelah remaja, saya minum secangkir kopi. Dewasa, meningkat menjadi 2 cangkir kopi sehari. Kopi kampung kental agak pahit, banyak kopi dan sedikit gula. Rasanya, semriwing. Sensasi rasa yang spesial. Aroma khas kopi, rasa pahit dengan manis samar itu seperti memberi kelengkapan. Bak memberi spirit dan gairah beraktivitas. Tak lengkap hari rasanya kalau belum ngopi. Beribu-ribu cangkir kopi telah merevolusi hidup saya. Kamu juga kan, ah iya.

Jika sedang tidak berada di rumah, entah sedang tugas sampai malam atau bahkan tugas luar, saya ngopi sedapatnya. Pada situasi itu, saya terpaksa ke cafe. Menyeruput secangkir kopi entah di starb*ck, kopi t*am, atau killin*y kopi. Kadang kala, jika darurat, saya minum kopi kemasan.

Saat sedang traveling karena sedang liburan, atau perjalan tugas kantor, mau tak mau saya ngopi di hotel saat sarapan. Sejujurnya, buat saya, entah kenapa kopi-kopi itu tidak  istimewa. Lebih enak rasa kopi rumahan saya daripada kopi cafe meski suasananya lebih nyaman, bisa sambil ngobrol dengan teman.

Ngopi di cafe/gerai kopi ini dilakukan oleh banyak orang. Kelihatannya sudah jadi gaya hidup (lifestylenya) kaum urban di perkotaan. Mungkin yang tidak biasa ngopi jadi ikut ngopi supaya tidak dianggap ketinggalan tren. Dimana-mana orang ngafe dan ngopi. Ngopi sambil kongkow-kongkow dengan teman. Ngopi sambil diskusi soal pekerjaan dengan sejawat. Ngopi sambil lobi melobi proyek dengan kolega bisnis bagi yang ada proyek. Atau ngopi sambil bengong sendiri sambil denger musik intrumen karena pengen ngopi di rumah tapi sedang tugas luar seperti saya. Secangkir kopi dengan harga 40 an ribu ke atas itu dianggap murah saja. Padahal harga tersebut hampir sama dengan harga satu kilo kopi bubuk lokal kita, ah.

Pada titik itu saya sering berpikir, betapa kita yang pengopi melayu ini sudah memanjakan diri begitu rupa padahal kopi lokal kita sungguh terpuruk. Harga yang sedang jatuh (Entah berapa harga biji kopi semendo grade A saat ini?). Mutunyapun rendah. Bahkan hotel bintang 4 dan 5 di Palembang tidak mengajikan kopi lokal Sumsel dalam menu sajian di hotel mereka. Kopi Gayo, Kopi Toraja, Kopi Bali, kopi luar negeri mereka ada. Dan jujur saja Kopi Gayo, dan kopi Lokal lain itu prosentasenya kecil untuk masuk perhitungan bisnis gerai/cafe kopi. Bahwa ngopi sudah jadi habit dan lifestyle itu sebetulnya peluang. Peluang bagi pengembangan kopi, termasuk kopi lokal kita.

Mungkin banyak yang bangga dan bahagia ngopi di cafe. Padahal, konon kopi yang disajikan di gerai dan cafe kopi itu juga bukan kopi grade terbaik. Saya pernah  ngobrol-ngobrol dengan ahli kopi cafe, kopi disana itu adalah  yang sisa sortiran untuk ekspor. Hanya, tertutupi oleh proses pembuatan kopi yang higienis dan baik. Disajikan dengan apik.  Tempatnya ciamik. Hal yang apik dan ciamik itu diperkuat lagi oleh stigma yang ditempelkan oleh jejaring periklanan yang pastinya dibuat-buat bahwa ngopi di cafe itu keren. Banggalah kita ngopi di cafe, lalu cekrek, gambar sedang ngopi di cafe itu terpampang di jejaring sosial kita.

Sebenarnya, pada dasarnya tidak ada yang salah dengan ngopi di cafe, toh cafe-cafe kopi itu juga telah membuka banyak lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja Indonesia. Tetapi, fakta bahwa kopi lokal kita terpuruk itu tak bisa ditepis.

***

Sesungguhnya, banyak pekerjaan rumah terkait kopi lokal kita. Kalau kebetulan kamu sedang berada di kampungmu dan kebetulan banyak tanaman kopi disana, cobalah sesekali perhatikan bagaimana situasi dan kondisi komoditi kopi di sana.

Saya sering ke kampung seorang kerabat, dulu.  Sebuah kampung dengan perkebunan kopi di hampir setiap jengkal halaman menuju rumah. Bunga kopi berwarna putih mengeluarkan bau harumnya yang khas. Di lain kesempatan, saya menemukan tanaman kopi sudah berbuah warna hijau. Kesempatan yang lain lagi buahnya sudah agak kuning kemerahan pertanda siap dipetik. Sebagian jenis robusta, sedikit bagian jenis arabica. Buahnya bagus, segar, bermutu. Kelemahannya adalah di proses pasca panen, pengolahan kopi.

Setelah dipetik, buah kopi ditampung dalam karung. Bila sempat, keesokan harinya  dijemur. Nah, proses penjemurannya ini yang agak mengenaskan. Buah kopi yang beruntung akan dijemur di lantai jemur beralaskan tikar rumpun. Buah kopi yang tak beruntung, dijemur di dekat jalan yang ketika bus dan truk lewat buah kopi itu akan dilindas oleh ban truk hingga sebagian buahnya pecah dan retak. Tak cukup itu, kadang diinjak kambing yang lewat, ditempeli pula debu jalanan.

Setelah selesai penjemuran dan pelepasan kulit dengan huller, lalu dijemur lagi, biji kopi akan disimpan dalam karung. Sebagian dijual ke penampung biji kopi di pasar, sebagian lagi disangrai dan digiling  untuk dikonsumsi sendiri. Proses penggorengan biji kopi itu banyak yang belum sesuai dengan harapan. Disangrai/digoreng dalam kuali kayu tanah dengan api kayu bakar yang sangat besar sehingga yang didapat sebetulnya bukan biji kopi goreng lagi tapi arangnya biji kopi. Rasanya, buat saya tidak enak. Lihatlah, dari buah kopi yang bermutupun akan menghasilkan kopi yang tidak enak disebabkan proses pengolahan yang tidak baik. Seandainya proses pengolahannya lebih baik, saya yakin rasanya akan lebih baik.

***

Cerita di atas adalah contoh bahwa saudara-saudara kita di kampung itu sejatinya memerlukan pendampingan, penyuluhan cara mengolah kopi yang baik, yang sesuai standard. Di tempat lain, saya yakin banyak petani kopi yang beruntung telah diberi pendampingan, penyuluhan cara menjemur buah kopi, cara menggoreng biji kopi, cara mengkemas bubuk kopi dll. Bahkan saya yakin ada yang lebih beruntung lagi karena sudah tergabung dalam kelompok usaha pengolahan kopi. Sayangnya, prosentase petani kopi yang maju seperti ini masih rendah.

Begitulah. Saya cuma mau bilang, marilah kita yang pengopi ini tidak sekadar merasai nikmatnya ngopi saja. Seyogyanya kita mampu merasai dan berempati pada  nasib saudara-saudara kita petani kopi yang kopinya masih bermutu rendah dan dihargai rendah pula. Bila sempat, bolehlah menghubungkan mereka dengan Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi dan UMKM atau Disperindag setempat setempat. Atau, memberi mereka buku-buku bacaan seri pengolahan kopi. Bila mampu, bagus juga mengajari mereka cara pengolahan kopi dan pengemasan yang baik.

Sebab setiap manusia pada dasarnya adalah agen perubahan kalau tak mau disebut agen pembangunan dalam arti luas. Sekecil apapun, pasti ada, mungkin juga banyak, hal yang bisa dilakukan. Termasuk pada kopi yang sering kita reguk ini. Traveler, jangan ngopi ngopi aja. Jangan melanglang buana ngopi dimana-mana padahal kopi lokal kita terpuruk. Kalaulah tidak berlebihan, sesungguhnya saya akan berkata, “Traveler, jangan sering-sering ngopi di cafe kalau kopi kampungmu masih bermutu rendah”. Ayo dong ikut turun tangan bangun pengembangan kopi kampungmu, apapun semampu yang kamu bisa. Salam kopi.


Sering bingung mencari ide menulis? Simak bagaimana cara Windy Ariestanty mencari ide kreatif


Tinggalkan Komentar

Kamu juga pasti tertarik baca ini