Cerita dari Balik Hingar Bingar Dieng Culture Festival 2015

Keramaian tidak selalu membuat orang-orang merasa bahagia. Seperti cerita kehidupan di balik keramaian acara Dieng Culture Festival, tentang seorang kakek dan cucunya yang menyepi di pinggiran Danau Balekambang

Umu Umaedah • August 4, 2015


balekambang-dieng

Pria paruh baya menghabiskan sore dengan memancing di Danau Balekambang bersama 2 cucunya. Foto oleh Phinemo

 

Keramaian tidak selalu membuat orang-orang merasa bahagia. Seperti cerita kehidupan di balik keramaian acara Dieng Culture Festival, tentang seorang kakek dan cucunya yang menyepi di pinggiran Danau Balekambang menyadarkan saya bahwa hidup tidak selalu harus mengikuti apa yang disukai banyak orang, tapi dimana kamu akan menemukan hal yang membuat hatimu tenang.

Jenuh dengan sorak sorai kumpulan manusia dan tabuhan musik, saya melangkahkan kaki untuk mencari kehangatan lain dari kemeriahan Dieng Culture Festival 2015.

‘Dilarang mendekati pinggir Danau Balekambang!’

Papan peringatan itu justru membuat saya penasaran. Langkah kaki terarah mengikuti petunjuk kemana danau Balekambang berada. Hamparan rumput hijau, hamparan lahan luas berwarna cokelat yang berdampingan dengan riak air membuat keindahan Dieng tidak hanya sebatas gunung dan candi.

Rumput yang saya injak terasa aneh. Seperti menginjak kasur busa. Ia memantul dan bergoyang-goyang. Tanah gambut ini siap membelusukkan saya dalam-dalam. Hamparan luas berwarna hijau lumut yang saya kira tanah lapang ternyata adalah sebagian dari danau yang ditumbuhi banyak tanaman air. Dari sudut Danau Balekambang, 2 tubuh yang sedang berangkulan itu mengusik hati saya. Seorang laki-laki berbaju hitam dan mengenakan peci hitam sedang merangkul seorang bocah lelaki kecil yang duduk di beralaskan potongan batang kelapa. Entah apa yang sedang mereka lakukan di tepian danau tersebut.

Lelaki tua itu menyadari kedatangan saya. Ia menengok sekali dan kemudian kembali memandang nanar ke depan. Merangkul lebih kuat lagi bocah kecil yang ada di sampingnya dan mengelus-elusnya. Saya tidak segera mendekatinya, namun daya memilih duduk tidak cukup jauh dari mereka dengan jarak sekitar 8 langkah kaki orang dewasa sambil mengawasinya. Semoga pikiran buruk yang ada dibenak saya tidak terjadi. Yaitu bahwa lelaki tua itu sedang frustasi dengan kehidupannya kemudian membawa si anak dan akan menenggelamkannya di danau tersebut. Ah, pikiran kotor apa ini. Saya berusaha untuk berpikir positif.

dieng

Suasana senja di kompleks Candi Arjuna. Foto oleh Phinemo

Artikel terkait: Foto-foto yang Akan Membuatmu Merindukan Dieng Culture Festival 2015

Sore itu sorotan matahari tidak sekuat pada siang hari. Dieng tetap menjadi kota dingin yang membuat beku penghuninya. Jika ini adalah tempat tinggal saya, mungkin tidak banyak hal yang akan bisa saya lakukan kecuali menghangatkan tubuh. Di sinilah tempat paling nyaman untuk saya menuliskan beberapa kalimat. Kedatangan saya ke acara Dieng Culture Festival adalah sebuah tugas dari kantor untuk meliput acara yang tidak akan mungkin terjadi di tempat lain, kecuali di Dieng.

Terkadang, kamu perlu menulis dengan menggoreskan hitam di atas putih. Karena, sejatinya tulisan tangan lebih bermakna.

Dari belakang saya, seorang bocah perempuan cilik mengenakan pakaian muslim dengan jilbab serasi berwarna merah melewati saya begitu saja dan menghampiri lelaki tua dan bocah laki-laki kecil tersebut. Ia mengulurkan beberapa bungkus jajanan dan kemudian ikut duduk di sampingnya. Mereka tak banyak bicara, namun pandangannya jauh memandang sejauh hamparan bukit yang memagari desa Dieng Kulon ini.

Dieng berada di daerah cekungan yang dikelilingi gunung-gunung tak aktif. Itulah mengapa Dieng memiliki suhu lebih dingin dari puncak gunung Merapi sekalipun. Suhu terekstrim pernah mencapai minus 5 derajat celcius. Suhu ekstrim tersebut juga memberikan dampak buruk. Lahan pertanian berubah menjadi hamparan salju dan sayuran-sayuran akan mati. ‘Bun upas‘ begitu orang Dieng menyebutnya. Kepala akan terasa sakit dan pening akibat tekanan suhu yang sangat rendah jika menyentuh air atau sedang berada di luar.

***

‘Sedang apa Pak di sini?’ saya menyerah untuk berpura-pura tidak peduli.

‘Sedang mancing, Mbak,’ sempat ia menengok ke arah saya namun ia kembali menghadap depan. Tongkat pancing berwarna hitam terjulur ke danau.

‘Banyak ikannya Pak, di danau?’

‘Tergantung keberuntungan, Mbak.’

‘Anak atau cucunya ini, Pak?’

‘Cucu Mbak. Cucu saya banyak. Lha wong anaknya ada 4, udah berkeluarga semua.’  Lelaki tua ini terkekeh. ‘Dua anak saya telah ikut suaminya di kota lain.’

Inilah Danau Balekambang, danau buatan yang terabaikan setelah sempat berhasil dikeruk. Dataran yang sedang saya pijak ini, dulunya pun adalah bagian dari danau. Namun, kemudian ia menjadi mengeras bagian atasnya dan mulai ditumbuhi rumput hingga.

Saya harus berhati-hati ketika menginjak tanah ini. Salah-salah saya akan terperosok ke dalam danau. Tanah yang berada di atas permukaan air ini pun ikut bergoyang-goyang manakala air danau tertiup angin dan menimbulkan gelombang.

Kami lanjut berbincang. Ternyata tujuan utama kedatangannya ke sini bukan untuk memacing. Namun untuk menghabiskan waktu senggang sambil menenangkan diri. Berjam-jam memancing pun kadang ia tidak mendapat ikan satupun.

Angin bertiup lembut namun efeknya terasa sampai ke tulang-tulang. Saya merapatkan jaket dan membenarkan syal yang saya pakai.

***

dieng

Indahnya tirai cahaya matahari yang menerobos celah pepohonan, salah satu yang paling dirindukan dari Dieng. Foto oleh Phinemo

‘Kalau musim hujan tiba, saya tidak bisa berkunjung ke danau ini.’ Lelaki tua itu memulai pembicaraan tanpa perlu saya bertanya dulu.

Ia menjelaskan bahwa saat musim hujan tiba, danau ini akan meluap dan daratan tempat biasa ia menghabiskan waktu akan tenggelam. Saat musim hujan tiba, masyarakat akan jarang melihat matahari. Saat pagi, kabut tebal menenggelamkan desa. Matahari akan terlihat kalau sudah beranjak siang dan hanya sampai pertengahan hari saja. Setelah dzuhur, Dieng seperti tak berpenghuni karena biasanya setelah dzuhur, hujan selalu turun. Penduduk yang setiap harinya berada di sawah juga tidak bisa bekerja maksimal di sawah. Saya bayangkan, jika saya sendiri yang menghadapi situasi tersebut pasti sudah lama menyerah dan mungkin memutuskan pindah dari tempat ini. Namun tidak dengan warga Dieng, kondisi alam Dieng yang ekstrim tak membuat mereka putus asa. Kondisi itu bahkan melatih mereka menjadi pribadi yang tangguh.

‘Dua hari di sini, membuat saya hampir menyerah, Pak. Dinginnya luar biasa kalau malam.’

‘Kalau kamu sudah terbiasa, kamu akan suka tinggal di sini. Inilah desa yang memiliki anugerah melimpah. Hamparan lahan-lahan berterasering ini simbol kemakmuran masyarakat Dieng. Terlebih di sini banyak titisan anak dewa yang akan membuat tanah ini tetap subur.’ Lelaki tua itu bercerita dengan semangat. Matanya nampak hidup saat kami membahas lingkungan tempat ia tinggal.

‘Bapak tidak berencana pindah ikut anaknya di kota lain Pak?’ saya tersenyum.

‘Saya akan terus tinggal di sini, Mbak. Ini rumah saya yang sangat nyaman.’  Ia merangkul kedua cucunya dengan erat. Dua bocah kecil itu tersenyum malu.


Sering bingung mencari ide menulis? Simak bagaimana cara Windy Ariestanty mencari ide kreatif


Tinggalkan Komentar