Sedang Patah Hati? Travelinglah!

Cara mengatasi patah hati? Cobalah traveling. Saatnya melangkah melupakan masa lalu dan mencoba mengenal diri kita lebih baik

Sophie Maya • March 9, 2016

Karena kehidupan memang selalu menuntut kita untuk berubah, berjalan, dan bukan berdiam di tempat

Biasanya, saat patah hati, sehari dua hari kita akan berubah jadi pemuram, kerjaannya mengurung diri di kamar.

Namun sedih karena berpisah dengan si dia tidak boleh dibiarkan lama-lama. Kita masih punya masa depan yang terbentang cerah, dan terutama kita masih punya banyak orang yang mencintai kita seperti teman-teman atau keluarga. Yang tentu mereka akan ikut sedih dengan perubahan yang terjadi pada diri kita.

Sebenarnya ada cara ampuh yang dapat dilakukan untuk mengobati rasa sakit karena patah hati. Traveling! Memangnya traveling itu benar-benar dapat menjadi obat menyatukan hati yang patah? Memangnya sehabis traveling bakal sembuh dari penyakit yang tak ada obat medisnya itu? Keraguan-keraguan itu bisa jadi muncul di benak. Dan jawabannya, hanya kita sendiri yang tahu. Karena mampu atau tidaknya tergantung dari awal tujuan traveling kita sendiri. Jangan pernah mengatakan “aku ingin kabur dari segala kepenatan ini”, ketika merencanakan perjalanan sehabis patah hati. Katakanlah pada dirimu sendiri, “aku tahu, di luar sana, akan kutemui banyak ‘dokter’ yang bisa memberi obat terbaik. Aku percaya.”

Jika itu yang diniatkan, sungguh, kita akan menemukan apa yang dicari. Melintasi tempat dan zona waktu yang berbeda akan memberi rasa berbeda pula pada kita. Orang bilang, biarkan waktu yang menyelesaikan semuanya. Dan memang benar adanya. Jarak pun turut andil untuk menghapus rasa sakit hingga tak berjejak lagi.

Kita akan punya banyak waktu merenung, mempertanyakan banyak hal. Kenapa bisa berpisah? Kenapa hubungan ini tak bisa berjalan? Pertanyaan yang terlontar tiap hari itu, perlahan akan menemukan jawabannya.

Bahwa terkadang hidup tidak sesuai dengan harapan dan justru di situ letak menariknya. Karena kehidupan memang selalu menuntut kita untuk berubah, berjalan, dan bukan berdiam di tempat.

Hal itu juga pada akhirnya membuat kita sadar ada sisi baik yang terjadi ketika berpisah dengannya.Kita akan menemukan kebebasan yang dulu tak dirasakan. Jika biasanya, ke mana-mana harus berdua, kini kita akan menikmati betapa asyiknya bepergian tanpa harus saling tunggu-tungguan. Kita akan melangkah ke tempat-tempat yang kita mau tanpa campur tangan orang lain. Bayangkan betapa menyenangkannya itu!

Merasa hidup itu benar-benar seutuhnya milik kita. Dan karena kita bebas, kita pun terlatih untuk mandiri. Tak lagi manja meminta pendapat jika ingin melakukan apa pun, memutuskan segala sesuatu atas kehendak sendiri. Bahkan kita akan belajar menyelesaikan masalah sendiri.

Percayakah ada pepatah yang mengatakan kekuatan itu tumbuh dari rasa sakit? Iya, kita tak akan pernah diakui kuat jika tak belum lolos menanggung rasa sakit.  

Saatnya Melupakan Dirinya, Mengenal Diri Kita Lebih Baik

 

Melalui traveling, kita akan lebih kenal siapa diri kita. Hal-hal yang ternyata kita sukai mau pun tidak kita sukai bisa jadi bertambah atau malah berkurang seiring dengan kegiatan traveling yang kita lakukan.

Mungkin dulu kita tak pernah tahu bahwa kita sangat menyukai ketinggian. Ketika mencoba Bunge jumping, barulah sadar bahwa sensasi melompat dari ketinggian hingga memacu adrenalin merupakan kegiatan seru!

Atau ketika dulu kita selalu pergi ke tempat-tempat sepi dan romantis karena diajak si mantan, saat traveling kita malah sadar bahwa tempat ramai jauh lebih mengasyikkan! Selangkah mengenal dirimu lebih dalam adalah salah satu hal terbaik yang pernah ada.

Saat traveling, biasanya kita pun akan menemukan teman-teman baru, berbagi cerita, pengalaman, serta budaya. Tak jarang terus bertukar kabar meski sudah kembali ke negara masing-masing. Dan selanjutnya, demi tetap bertemu, janji dan rencana untuk traveling bersama pun segera dicetuskan.

Saat itu tiba, yakinlah, bahwa kekosongan hati sebenarnya telah terisi dengan hal-hal lain yang lebih indah. Rasa sedih, kecewa, sakit hati telah berganti dengan senang, antusias, dan tak sabar ingin bertemu.

Lalu siapa tahu, satu di antara mereka adalah dokter cinta yang memberimu obat penawar hati?