7 Hal yang Harus Disiapkan Sebelum Menuju Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur

Wae Rebo tidak hanya indah namun juga mengajarkan suatu pandangan baru tentang hidup, budaya, dan nilai juang. Menuju ke sana tak mudah, siapkan 7 hal ini!

Vivi Suciana • July 13, 2015

wae-rebo

Foto oleh Vivi Suciana

Backpacking saya kali ini menuju Wae Rebo, sebuah kampung yang masih berpegang teguh pada adat istiadat, dimana masyarakatnya masih tetap tinggal di rumah beratap ijuk kerucut yang biasa disebut Mbaru Niang.

Letaknya di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur dan untuk mencapai ke sini harus melalui perjalanan panjang terlebih dahulu. Pemberhentian pertama penerbangan saya dari Jakarta adalah di Denpasar dan kemudian dilanjutkan dengan pesawat menuju

Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo lanjut 2-3 jam perjalanan darat dengan mobil menuju Denge.

Perjalanan belum berhenti sampai disitu, Wae Rebo yang berada di lembah diantara pegunungan, hanya bisa ditempuh melalui jalan kaki dari Denge, desa terdekat dengan Wae Rebo yang masih bisa diakses oleh mobil. Saya harus berjalan kaki selama 4 jam dengan medan bervariasi mulai dari jalanan berbatu, jalan tanah yang menanjak hingga melewati sungai dengan jembatan bambu.

Di sana, saya menginap 1 malam di Wae Rebo dan tinggal di salah satu Mbaru Niang bersama masyarakat lokal.

Perjalanan yang jauh dan berat menuju Wae Rebo ini membutuhkan persiapan matang, ini dia;

1. Ransel yang cukup kuat untuk trekking menuju Wae Rebo

Untuk perjalanan kali ini satu-satunya tas perjalanan yang cocok adalah tas ransel karena kita dipaksa untuk membawa semua barang menuju Wae Rebo dengan berjalan kaki selama 4 jam dengan medan yang tak bisa dibilang mudah.

Memang untuk menuju ke Wae Rebo kita perlu menyewa pemandu warga lokal Manggarai sebagai penunjuk jalan dan bisa diminta tolong merangkap sebagai porter, tapi demi alasan kepraktisan dan kenyamanan perjalanan, ransel tetap menjadi satu-satunya pilihan tas perjalanan.

Saran saya jika tidak memungkinkan hanya membawa sebuah ransel karena akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain (snorkeling di Pink Beach, misalnya) dapat menitipkan koper di penginapan di Denge atau Dintor. Saya memang memilih untuk bermalam di Dintor sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo sehingga sisa bawaan saya yang tidak dibutuhkan di Wae Rebo saya titipkan disini dan diambil kembali ketika kembali dari Wae Rebo.

2. Sepatu hiking yang “menggigit”

Alas kaki yang tepat menjadi hal penting dalam perjalanan kali ini mengingat medan yang akan ditempuh. Tidak disarankan menggunakan sandal gunung, karena jika pada musim hujan jalanan menjadi becek dan itu membuat tidak nyaman jika air masuk kedalam sandal. Selain itu, ancaman lintah juga menghantui selama perjalanan. Saya yang menggunakan sepatu dan kaos kaki saja tidak luput dari serangan lintah. Sepatu juga sebaiknya dipilih yang memiliki sol yang “mengigit” tanah dengan baik karena di beberapa bagian terdapat medan berpasir yang cukup licin.

3. Jaket dan kaos kaki untuk tidur

Suhu di Wae Rebo pada malam hari cukup dingin karena letak geografis Wae Rebo yang berada di dataran tinggi. Meskipun untuk bermalam di Mbaru Niang Wae Rebo telah disiapkan alas tidur dan selimut tebal, namun percayalah, jaket dan kaos kaki bersih akan menjadi dewa penolong Anda di malam hari.

Cukup bawa jaket hangat untuk malam hari saja, sedangkan jaket untuk trekking tidak terlalu diperlukan karena sepanjang perjalanan ke Wae Rebo kita terlindungi dari sinar matahari oleh rimbunnya pohon.

4. Ambil uang tunai di Labuan Bajo

Setelah meninggalkan Labuan Bajo sudah tidak ditemukan ATM, sehingga saran saya ambillah uang tunai secukupnya di Labuan Bajo untuk membayar penginapan, bensin mobil, sewa pemandu dan porter, serta uang lebih untuk membeli oleh-oleh khas Wae Rebo yang dijual oleh masyarakat di atas sana.

mbaru-niang-640

Cantiknya deretan rumah adat Mbaru Niang. Foto oleh Vivi Suciana

5. Buku Bacaan untuk anak-anak Wae Rebo

Selain buku bacaan untuk menemani selama perjalanan, jangan lupa juga membawa beberapa buku bacaan untuk anak Wae Rebo. Di sana, kemampuan anak-anak dalam berbahasa Indonesia masih terbatas, dalam sehari-hari mereka lebih banyak menggunakan bahasa Manggarai. Mereka baru akan meninggalkan kampung untuk bersekolah di Denge ketika sudah berusia sekolah dasar dan sebelum itu mereka kekurangan sarana belajar terutama dalam bahasa Indoensia. Di Wae Rebo terdapat satu perpustakaan yang dibangun untuk membantu masyarakat Wae Rebo untuk mendapat akses ilmu pengetahuan.

Bagi pengunjung yang datang, boleh menyumbangkan buku bacaan untuk perpusatakaan ini. Namun, sebaiknya buku-buku diserahkan langsung kepada bapak guru Wae Rebo atau orang dewasa lainnya bukan kepada anak-anak Wae Rebo.

Disini memang ada himbauan untuk tidak memberikan apapun ke anak-anak baik itu uang, permen, makanan kecil bahkan buku secara langsung kepada mereka untuk menghindari mental meminta-minta.

6. Baterai cadangan

Di Wae Rebo akses listrik sangat terbatas, listrik hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 10 malam saja, sehingga untuk memenuhi hasrat menggunakan alat elektronik disarankan membawa baterai cadangan.

Sebenarnya untuk baterai handphone tidak terlalu dibutuhkan karena sejak dari desa Denge pun sudah tidak ada sinyal ponsel. Selain itu, alangkah lebih baik untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal daripada terus menerus menatap layar ponsel kan?

7. Persiapan fisik!

Terkesan sepele, namun ini sangat penting! Trekking panjang menuju Wae Rebo membutuhkan fisik yang baik, usahakan sebelum memulai perjalanan tubuh dalam keadaan fit dan sehat. Jalan menanjak menguras banyak tenaga dan membuat seluruh otot paha dan betis terasa terbakar saking lelahnya. Sepanjang 8-9 kilometer perjalanan terdapat 3 pos pemberhentian untuk beristirahat sejenak. Jangan lupa membawa persediaan air minum dan makanan kecil selama diperjalanan. Perjalanan saya kali ini membutuhkan persiapan fisik yang ekstra ditambah dengan serba minimnya fasilitas yang ada.

***

Orang bilang, dalam traveling, jika semakin sulit perjalanan mencapai suatu tempat maka akan semakin indah tempat tersebut. Bagi saya, Wae Rebo tidak hanya indah namun memberikan saya suatu pandangan baru tentang hidup, budaya, dan nilai juang. Saya sangat berterima kasih pada masyarakat Wae Rebo yang memberikan saya rasa kekeluargaan yang hangat disana.

 

*Anda juga bisa membaca artikel ini di Malesbanget.com

Rekomendasi