backpacking-ke-luar-negeri

Renovasi tangga batu Caves, Selangor : Para Pekerja meminta bantuan pada wisatawan untuk membawa satu ember pasir ke atas. Foto merupakan dok. pribadi penulis

“Saya seorang yang manja, dan tumbuh sebagai pribadi yang selalu dipenuhi rasa takut.”

“Heran deh, ngapain ke luar negeri. Toh, Indonesia tak kalah kerennya. Lebih keren malah,” seloroh seorang teman saat tak sengaja menonton acara liputan seru jalan-jalan ke luar negeri di salah satu stasiun televisi swasta.

Saya menanggapi dengan senyum simpul. Terpaku pada layar televisi – berusaha mengabaikan kalimat teman tersebut. Saya mungkin bukan satu-satunya orang yang mendapatkan pernyataan yang sama. Pun di dunia sosial kerap dibahas tak perlu ke luar negeri jika di negara kita pun begitu mempesona.

Indonesia adalah surga keindahan alam yang tak terbantahkan. Saya tak bisa menampik hal tersebut, namun perjalanan bukan sekadar menjelajahi tiap jengkal bumi ini. Mengutip kalimat bijak dari Henry Miller, “One’s destination is never a place, but a new way of seeing things,” bagi saya, berusaha backpacking ke luar negeri -setidaknya minimal satu kali dalam setahun, menyadarkan peran saya sebagai manusia dalam hidup ini.

Belajar menaklukan rasa takut

Terlahir sebagai anak manja, saya tumbuh menjadi pribadi yang penuh ketakutan. Takut berbicara dengan orang asing dan takut mengambil resiko. Backpacking ke luar negeri tentu berisiko. Orang asing, tempat baru, suasana yang berbeda, dan bahasa yang terdengar aneh di telinga.

Ragam ketakutan menghantui saya ketika pertama kali menginjakkan kaki ke luar negeri. Mengobrol dengan masyarakat setempat pun saya tak berani. Namun pengalaman pertama itu menjadi pelajaran berharga bagi saya, bahwa tak ada yang perlu ditakutkan. Saya yakin pada dasarnya tiap manusia memiliki sisi baik.

Begitu juga dengan komunikasi, sejujurnya kemampuan bahasa Inggris saya standar, layaknya kemampuan bahasa Inggris sekolah dasar di kota besar seperti Jakarta. Namun, perjalanan keluar negeri menumbuhkan keberanian saya untuk mengasah kemampuan bahasa internasional tersebut.

Tak saja menaklukan ketakutan dalam berbagai hal, saya belajar mengatasi perasaan egois dalam diri sendiri. Menyadari bahwa hidup bukan soal saya seorang. Tapi juga tentang orang-orang sekitar.

Berdamai dengan keadaan

Meskipun tak senyaman kasur di rumah, setidaknya terdampar tidur di Bandara mampu mengembalikan tenaga untuk menjelajah keesok harinya. Foto merupakan dok. pribadi penulis

Meskipun tak senyaman kasur di rumah, setidaknya terdampar tidur di Bandara mampu mengembalikan tenaga untuk menjelajah keesok harinya. Foto merupakan dok. pribadi penulis

Saya berusaha memejamkan mata. Menyebut nama Tuhan dalam hati. Berusaha untuk tertidur. Mengabaikan kehebohan teman saya yang merasa terganggu dengan orang di sebelahnya yang mendengkur sangat keras. Saat itu kami ‘terjebak’ di situasi tak menyenangkan saat tidur di bandara Kuala Lumpur international Airport 2 (KLIA 2) sebelum memulai perjalanan esok pagi.

Hidup memang tak selalu menyenangkan seperti menikmati es kelapa muda di tengah teriknya matahari. Namun, akan lebih menyenangkan jika kita tak merusuhkan hal-hal yang tak menyenangkan tersebut.

Saat itu saya cuma bergumam kepada teman perjalanan saya. “Anggap saja kita sedang di-ninabobokan.”

Lebih menghargai perbedaan

Saya teringat pelajaran PPKN zaman sekolah dasar dulu tentang sikap menghargai. Sayangnya, pemahaman hanya sebatas teori saat ujian tertulis kenaikan kelas. Lewat backpacking ke luar negeri, saya memahami arti sesungguhnya dari sikap menghargai tersebut.

Melangkahkan kaki ke luar negeri, melihat dunia yang lebih luas dan berbeda, dan bertemu orang-orang dengan ragam kulit dan karakter menyadari saya bahwa dunia ini menyenangkan. Meskipun awalnya, saya suka membandingkan dengan negara saya yang saya anggap lebih baik, pada akhirnya rasa itu terkikis perlahan-lahan. Saya sadar bahwa sekecil apapun, kita punya peran dalam sistem masyarakat global.

Membentuk pribadi yang lebih berkarakter

Backpacking bukan sekadar melakukan perjalanan dengan biaya seminimal mungkin dan berusaha berbaur dengan masyarakat lokal. Bagi saya lebih dari itu, dalam perjalanan kerapkali kita dihadapkan dengan pilihan. Di sinilah di asah jiwa kepekaan dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab pada pilihan tersebut.

Tak sekadar mengasah kemandirian, backpacking ke luar negeri juga mengasah pikiran untuk menjadi pribadi yang kreatif. Ketika menghadapi masalah-masalah yang ditemui dalam perjalanan mau tak mau menuntut kita untuk berpikir bukan menangis.

Saya teringat situasi di mana teman saya bermasalah dengan ATM card miliknya yang tak bisa digunakan dengan mesin ATM negara setempat. Padahal uang yang tersisa tinggal sedikit, sementara itu kami ingin melanjutkan perjalanan ke Singapura. Saya pun mengambil keputusan untuk tak melanjutkan perjalanan yang berisiko dengan uang seadanya. Memberi saran untuk melanjutkan perjalanan ke Malaka. Menelusuri jejak sejarah perdagangan Portugis di tempat tersebut. Sebuah keputusan yang tepat menurut saya saat itu.

Belajar mensyukuri hidup

backpacking-ke-luar-negeri-3

Perjalanan mengajarkan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kaki berpijak. Foto merupakan dok. pribadi penulis

Pernah suatu ketika, kapal yang membawa saya menikmati keindahan Laut Andaman terombang-ambing tak karuan. Beberapa kali ombak menghempas ke badan kapal. Air laut pun sempat membanjiri lantai kapal. Ragam ekspresi takut terpancar di wajah peserta tur termasuk saya.

Pengalaman mengerikan itu tak mungkin saya lupakan, tapi bukan berarti menjadi trauma tersendiri bagi saya. Saya bersyukur Tuhan masih menyelamatkan saat itu dan masih memberi saya kesempatan untuk menikmati keindahan alam lainnya. “Masih banyak sudut bumi ini yang harus saya jelajahi,” pikir saya usai menikmati adrenalin melewati badai di tengah laut.

Ada juga kisah saat suatu siang dalam perjalanan ke Pattaya, Thailand, saya bertemu dengan salah satu orang keturunan Indonesia namun berkewarganegaraan Thailand. Banyak hal yang ceritakan tentu saja tentang kehidupan. Diam-diam saya bersyukur pada kehidupan yang saya jalankan. Pun ketika mendengar curahan hati seorang tour guide saat saya berada di Shenzen, China, ia memiliki keinginan untuk punya anak lebih dari satu. Sayangnya, peraturan negaranya tentu saja melarang hal tersebut, jika pun harus dilanggar ia harus membayar lebih mahal.

Diam –diam saya bersyukur terlahir menjadi Indonesia. Dalam perenungan di atas ribuan kaki permukaan laut, dari jendela pesawat saya menyelipkan rasa syukur terhadap garis kehidupan yang telah ditentukan oleh Tuhan pada saya. Perjalanan ini telah mengajarkan untuk tak banyak mengeluh pada hidup.

Mendekatkan diri pada Sang Pencipta

Percayalah ada ragam emosi yang sulit kamu pahami ketika melakukan perjalanan ke negeri lain. Perjalanan yang mengajarkan saya untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ya, saya sangat percaya bahwa dalam setiap langkah ini terwujud karena atas izin-Nya. Misal, saat Dia mempertemukan saya dengan orang baik saat tersesat di Bangkok ketika mencari makanan halal, dan tak kalah menyenangkan ketika saya berjumpa dengan orang Indonesia yang secara tiba-tiba membayarkan makanan saya – setidaknya menghemat anggaran backpacking saya.

When I let go of what I am , I become what I might be”- Lao Tzu –


Tinggalkan Komentar

Komentar