5 Keunikan Tradisi Suku Osing Banyuwangi Yang Perlu Kamu Ketahui

Keunikan tradisi dari Suku Osing Banyuwangi ini akan membuat pengetahuanmu tentang kearifan lokal meningkat

Achmad Taufik • December 2, 2015

‘Wong Blambangan’ atau Suku Osing, penduduk  mayoritas yang menghuni dibeberapa kecamatan di Banyuwangi. Setiap suku unik, begitu pula dengan mereka. Inilah keunikan Suku Osing:

 

Suku Osing mempunyai Bahasa sendiri

Foto dari Siska Nurifah

Foto dari Siska Nurifah

Beda suku beda bahasa. Suku Osing pun mempunyai bahasa sendiri dalam kehidupan sehari-hari, yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa kuno seperti halnya di Bali. Ada dua jenis sistem bahasa yang digunakan dalam Bahasa Osing yaitu Bahasa Osing (bahasa sehari-hari) dan goko-krama. Uniknya sistem pengucapan (fonologi) dalam Bahasa Osing banyak menggunakan diftong “ai”contohnya saja kata “bengi” akan dibaca “bengai”.

 

Tumpeng sewu “ Pestanya Suku Osing”

Foto dari ceuceu

Foto dari ceuceu

Suku Using memiliki tradisi makan besar, namanya Tumpeng Sewu. Tradisi ini masih tetap dilestarikan oleh suku asli Banyuwangi hingga sekarang. Tradisi ini dilaksanakan pada bulan Haji. Masyarakat Osing percaya, dengan adanya pesta atau upacara ini, masyarakat Osing akan dijauhkan dari malapetaka. Upacara ini menjadi semacam tradisi tolak. Mereka memiliki kepercayaan, jika upacara tersebut tidak dilaksanakan musibah akan mendatangi mereka. Makanan yang menjadi tradisi dalam upacara tersebut adalah pecel phitik. yaitu ayam panggang yang diberi serutan kelapa dan bumbu khas Suku Osing.

 

Tradisi Koloan Selametan untuk anak Osing yang hendak khitan

Tradisi Koloan akan dilaksanakan ketika anak Suku Osing akan melakukan sunatan (khitan). Filosofi dibalik tradisi ini adalah menggembleng anak Suku Osing agar memiliki mental mantap dan siap untuk di khitan. Tradisi ini dilakukan dengan cara meneteskan darah ayam di kepala anak yang akan di sunat dengan cara disembelih. Ayam yang digunakan dalam ritual, bukan sembarang ayam. Melainkan ayam jago berwarna merah yang masih perjaka.

 

Nginang favorit emak – emak  Suku Osing

Tradisi nginang atau ngunyah pinang sebenarnya tidak hanya ada di Suku Osing. Bahan yang digunakan untuk nginang terdiri dari pinang, gambir, kapur sirih yang kemudian digulung menjati satu pada daun sirih. Tradisi nginang tempo dulu makin ditinggalkan. Tapi tidak bagi masyarakat Suku Osing. Mereka tetap melestraikan tradisi tersebut. Salah satu bentuk pelestarian tersebut  oleh masyarakat adalah dengan mengadakan lomba nginang.

 

Tradisi ‘mape kasur‘ oleh Suku Osing

Foto dari Banyuwangi

Foto dari Banyuwangi

‘Mepe kasur’ (jemur kasur), banyak orang mulai meninggalkan aktivitas ini. Mepe kasur mungkin akan dilakukan ketika basah. Bagi masyarakat Osing, ini adalah tradisi yang tak dapat dipisahkan. Mepe kasur dilakukan pada bulan Dzulhijjah bersamaan dengan acara selamatan desa.

Dari tradisi ini, masyarakat Osing bisa menjaga kerukunan dan semangat bekerja dalam rumah tangga. Biasanya pada hari itu, seluruh masyarakat Osing mepe kasur secara bersamaan. Kerukunan mereka pun terlihat dari warna kasur yang mereka gunakan, dengan warna merah dan hitam yang melambangkan tolak ba;a dan kelanggengan keluarga.

 

***

Berinteraksi dengan mereka-masyarakat Osing- menjadi hal yang akan membuat perjalananmu memiliki banyak cerita. Untuk bertemu dengan Suku Osing, kamu bisa berkunjung ke desa adat Kemiren di kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Pun mereka tersebar di Kabupaten Banyuwangi. Mereka bukan tipe suku yang menutup diri. Mereka selalu ramah kepada tamu.

Rekomendasi