14 Hal yang Membuat Travelingmu ke Banyuwangi Lebih Berkesan

Banyuwangi "Sunrise of Java" menyimpan banyak hal menakjubkan. Wajib masuk daftar kunjung.

Shabara Wicaksono • February 13, 2015


Sebuah pesona dari “Sunrise of Java”

1. Memanjakan lidah dengan cita rasa dari sajian yang melegenda, Rujak Soto

Kesegaran kangkung, kubis, kacang panjang, ditambah potongan tahu dan tempe goreng, dibalut lumuran bumbu kacang kecoklatan yang kental dan terakhir kuah soto babat berisi usus, potongan daging sapi dengan uap panas yang mengebul, lengkap berpadu menciptakan cita rasa Rujak Soto Banyuwangi yang legendaris.

Aroma perpaduan bumbu kacang dengan kuah soto babat membangkitkan selera makan. Kelembutan daging sapi dan usus yang berpadu dengan kesegaran sayur mayur yang dibalut gurihnya bumbu kacang terasa unik di rongga mulut. Pedasnya tak membuat perut panas.

Dua kuliner beda genre yang ditabrakan menciptakan cita rasa khas.

Seperti akhir dari lagu ‘Rujak Singgul’, Durung weruh rasane mageh arane, nganeh anehi yang artinya, belum tahu rasanya, masih namanya saja sudah aneh

 

2. Menikmati keindahan Pantai G-Land

Ombak setinggi pohon kelapa menggulung, berlomba mencapai daratan. Seorang peselancar dengan papan hijau menyala-sangat mencolok- menari lihai diatasnya. Ombak yang disebut sebagai salah satu dari 7 ombak paling spektakuler di dunia.

Pantainya seperti kue lapis aneka warna karena saat dipandang dari laut, pantai G-land memiliki kombinasi warna putih, hijau dan biru. Keindahannya memanjakan mata.

Bali dan Hawaii juga memiliki pantai-pantai indah. Bedanya, latar belakang keindahan pantai Bali dan Hawaii adalah gedung-gedung pencakar langit, di G-land, hutan tropis menghijau sebagai latar belakangnya.

Cahaya matahari terbenam menghangat di wajah, beberapa wisatawan duduk bersantai sambil bercengkrama. Suasana begitu tenang, hembusan angin pantai dan debur ombak bagai sebuah irama lagu yang menenangkan hati. Sebuah karya musikal Sang Pencipta.

 

3. Petualangan menyusuri hutan Taman Nasional Alas Purwo

Taman-Nasional-Alas-Purwo-2

photo from indoturs.com

Pepohonan besar berusia ratusan tahun berdiri gagah menyambut begitu memasuki kawasan Alas Purwo. Cuitan burung bersahutan. Suasananya membawa imajinasi terbang ke suasana film silat zaman dulu ketika si pendekar bertualang di tengah hutan.

Hal yang bisa dilakukan disini? Menyatu dengan alam tentunya.

 

4. Caving di gua para petapa, Gua Istana

Kisah yang mengiringi suatu tempat selalu memengaruhi pola pikir kita saat mengunjungi tempat tersebut.

Gua ini sekilas tak jauh berbeda dengan gua-gua lain yang ada di Indonesia, suhu dingin, remang-remang, stalaktit dan stalakmit dimana-mana, hanya saja  kisah-kisah mistis dari penduduk setempat membuat pikiran ini terprogam bahwa gua ini keramat, angker.

Sesekali terdengar kepak sayap kelelawar. Suasana dalam gua benar-benar gelap gulita. Senter mengitari sekeliling gua. Sebuah kursi dari kayu yang nampak kusam, diam membeku di tengah gua. Kursi tersebut biasa digunakan bermeditasi oleh umat Hindu.

 

5. Menyusuri hutan mangrove dengan perahu gondang-gandung

Dua perahu panjang beratap terpal dengan kursi-kursi kayu didalamnya, diikat kencang. Inilah gondang-gandung. Lantai kayunya berderak saat kaki melangkah untuk mengabadikan momen.

Tempat ini membuat bayangan sebuah adegan dalam film Anaconda saat para tokohnya menyusuri sungai di tengah hutan menggunakan perahu muncul di pikiran. Begitulah suasana tempat ini.

Hutan mangrove tumbuh lebat di sisi kanan dan kiri. Sungai Segoro Anakan mengalir tenang, menghanyutkan diri dalam panorama hutan mangrove yang menakjubkan.

 

6. Menyaksikan keindahan “Dragon Sunset” Pantai Pulau Merah

Tanahnya merah pucat. Basah ditelapak kaki. Surutnya laut menjadi peluang menjejakan kaki di pulau ini. Kejernihan air lalutnya memikat, bagai sebuah kristal.

Rebahkan sejenak punggung yang kaku setelah seminggu bekerja diatas kursi pantai putih dengan payung merah diatasnya. Angin pantai berhembus santai. Sesekali terlihat beberapa peselancar asik melaju di atas ombak. Pejamkan mata sejenak di surga dunia.

Momen sunset pantai ini salah satu yang terbaik di Indonesia. Cahaya merah dari balik awan saat senja menyajikan panorama memikat. Orang-orang menyebutnya, “Dragon Sunset”.

 

7. Menyesap kehangatan kopi dari tester kopi kelas dunia di Sanggar Genjah Arum

“One brew, We bro” atau “Sekali Seduh, Kita Bersaudara”

Alunan indah angklung paglak mengiringi saat kaki melangkah memasuki kawasan sanggar di Desa Kemiren. Pak Iwan, seorang tester kopi yang disegani bahkan di dunia internasional tersenyum ramah menyambut. Suasana begitu homie.

Secangkir kopi yang disangrai dan diracik oleh tangan terampil Pak Iwan tersaji. Aromanya begitu wangi. Tak ada bau gosong seperti kopi buatan tangan pada umumnya.

Sesapan pertama memenuhi langit-langit mulut. Rasanya ringan, sangat khas. Meninggalkan jejak rasa di ujung lidah. Sebuah cita rasa internasional.

 

8. Menikmati warna-warni Banyuwangi Ethno Carnival

BEC

photo from tempo.co

Ide bagus untuk berkunjung ke Banyuwangi pada rentang September – November.

Para peserta menari mengikuti iringan musik. Masyarakat menyemut di sisi jalan protokol Banyuwangi, sibuk mengabadikan aksi para model.

Kostum berwarna-warni membungkus mereka. Seorang model mengenakan kostum berwarna merah cerah menarik perhatian. Tampil mencolok. Bagian belakang kostumnya terdapat ekor buatan setinggi tubuhnya dengan corak kedaerahan. Bagai tarian seekor burung merak, sang model berlenggok ria memamerkan kostumnya.

Sepintas mirip Jember Fashion Carnaval, hanya saja Banyuwangi Ethno Carnival nampaknya berfokus pada tema yang bersumber pada kearifan lokal Banyuwangi.

 

9. Backpacker?  Menginap di dormitory Jalan Ahmad Yani menjadi ide bagus

dormitory-backpacker

photo from antarajatim.com

Suasananya hangat dan menyenangkan. Taman kecil dengan tanaman-tanaman hijaunya menyegarkan mata.

Kamarnya praktis. Berjejer rapi tempat tidur tingkat dengan sprei berwarna-warni. Cocok sebagai tempat berisitirahat sebelum menuju Kawah Ijen, Pantai Sukamade ataupun perkebunan kopi.  Lukisan keindahan alam Banyuwangi menghiasi dinding-dindingya. Karpet bulu abu-abu dilantai nampak manis.  Pen-desain interior dormitory ini layak diacungi jempol.

Kuliner dan souvenir khas Banyuwangi yang tersedia di gerai depan dormitory seolah melambai manja. Harga sangat terjangkau, cocok untuk kantong para backpacker.

Hal paling menyenangkan tentu bercengkrama hangat dengan backpacker lain. Saling lempar canda seolah mengobrol dengan sahabat lama.

Teman yang ditemui saat perjalanan adalah teman seumur hidup

 

10. Menjelajah Kawah Ijen, tempat bersemayamnya sang api biru

kawah-ijen

photo from boston.com

Api biru menyala terang diselimuti kabut tipis, pemandangan luar biasa bagai berada di dunia lain. Bau belerang menyengat tajam memaksa masuk melalui lubang hidung. Jaket dan masker tebal menjadi peralatan wajib ditempat ini.

Keindahan yang hanya bisa dirasakan setelah melihat penampakannya secara langsung. Keindahan yang membuat para penulis veteranpun kesulitan memilih kata untuk menggambarkannya.

Konon, di dunia hanya ada 2 tempat sejenis kawah ijen. Beruntungnya Indonesia.

 

11. Pengalaman luar biasa memerah sapi dengan tangan sendiri

Suasana Argo Resort Margo Utomo cukup tenang. Angin sejuk sesekali berhembus.

Jantung berdebar, was-was si sapi terganggu dan menyepakkan kaki kokohnya.

Cukup alot. Hanya beberapa tetes yang keluar. Tak selancar para pria pekerja pemerah didepan sana. Nampak sangat mudah memenuhi wadah penampung susu.

Susu yang tertampung pada wadah penampung nampak segar, menggoda untuk dicicip. Sayangnya, susu tersebut masih haru dolah untuk kemudian dapat dikonsumsi.

 

12. Merasakan sensasi body rafting (tubing) di Kali Badeng

Arus sungai mengalir deras. Ban dalam truk yang digunakan saat tubing meliuk mengikuti arus.  Panorama hijau disisi kanan kiri menjadi hiburan. Pohon pinus berjejer rapi menyapa para penggila petualangan.

Teriakan lepas para peserta selalu menghiasi setiap sesi tubing. Teriakan pelepas stres dan beban.

Sensasi terhebat  saat meluncur kencang di jeram dam setinggi 3 meter. Sensasi mendebarkan serasa jantung ingin meloncat dari tempatnya. Muka pucat peserta bermunculan setelah jeram ini.

Kali Badeng mengukir kenangan tak terlupa tentang Banyuwangi bagi para pelancong.

 

13. Menyelami surga bawah laut Banyuwangi di Pulau Tabuhan

Kejernihan air laut berwarna hijau tosca menyambut. Sayang, burung maleo yang menjadikan Pulau Tabuhan sebagai markasnya tak menampakan batang hidungnya.

Tak perlu menyelam terlalu dalam, cahaya matahari yang menyelinap masuk karena saking jernihnya air laut membuat menyelam dengan kedalaman 2 meter pun cukup untuk mendapatkan pemandangan surga bawah laut yang memikat.

Atraksi para pencari ikan hias tradisional menjadi hiburan tersendiri bagi para penyelam.Tangan-tangan kokoh mereka cekatan menangkap beberapa ikan hias dengan tangan kosong.

 

14. Icip-icip segarnya sensasi pedas Nasi Tempong

Sekilas mirip nasi putih biasa dengan lauk tahu, tempe, ikan asin ataupun ayam.

Keajaiban nasi tempong ada pada sambal mentahnya.

Campuran cabai, terasi dan gula yang digunakan sebagai bahan utama sambalnya sangat pas. Bahan rahasianya adalah “ranti”- sebutan dari warga lokal-. Bentuknya bulat kecil, menyerupai tomat.

Kepedasan sambal dengan ranti sebagai andalan ini berbeda dengan sambal instan dalam botol. Meski pedasnya sangat menyengat namun benar-benar terasa segar. Perut tak terasa panas meski mulut terbakar.

Nasi panas dengan lauk sederhana pun terasa sangat lezat berpadu pedasnya sambal mentah.


Sering bingung mencari ide menulis? Simak bagaimana cara Windy Ariestanty mencari ide kreatif


Tinggalkan Komentar