Windy Ariestanty dan Kisah Perjalanannya yang Menginspirasi

Setelah bukunya yang berjudul Life Traveler berhasil menginspirasi banyak orang, Windy Ariestanty dan timnya kini tengah fokus mengembangkan sebuah platform agregator perjalanan bernama IWasHere.

SHARE :

Ditulis Oleh: Rizqi Y

Bagi para pelancong di Indonesia, sosok Windy Ariestanty mungkin sudah tak asing lagi. Namanya mulai dikenal sejak bukunya yang berjudul Life Traveler beredar di pasaran. Tulisan Windy mampu membawa pembaca ikut merasakan suasana perjalanan dirinya, seolah berada di tempat yang sama dalam cerita tersebut.

Tapi pernahkah terpikir, siapa yang menginspirasi setiap perjalanan Windy? Atau mengapa dia begitu senang berbagi cerita pada banyak orang?

Windy Ariestanty memiliki banyak sumber inspirasi dalam setiap perjalanannya.

Perjalanan Windy Ariestanty bermula ketika dirinya diharuskan berpindah tempat sewaktu kecil

Windy Ariestanty saat di Portugal. Foto dari ig @windy_ariestanty

Baca juga : Mengenang Norman Edwin, Pelopor Ekspedisi Seven Summits Pertama di Indonesia

Windy Ariestanty memulai perjalanan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ayahnya yang bekerja sebagai pegawai negeri dan harus pindah ke beberapa tempat, membuat Windy harus ikut pindah.

Setiap kali liburan sekolah, Windy sekeluarga kerap mengunjungi neneknya yang tinggal di Sumatera, Jakarta dan kota lainnya. Ketika harus berkunjung ke Jakarta dan Palembang dari Sulawesi, mereka memilih menaiki transportasi kapal laut, kereta api dan mobil. Keluarganya jarang menggunakan pesawat. Alasan ayahnya cukup menarik.

“Karena bokap selalu bilang, kalau naik pesawat kamu nggak bisa ngerasain sensasi perjalanan. Dan kamu juga nggak bisa melihat lebih banyak hal. Padahal mungkin kamu bakal sulit atau nggak pernah bisa kembali ke tempat ini,” cerita Windy.

Saat kelas 6 SD, Windy melakukan perjalanan seorang diri. Ia berangkat dari Blitar menuju Palembang dengan menaiki bus ekonomi Tasima selama dua hari dua malam. Perjalanan inilah yang lantas menjadi salah satu perjalanan yang membentuk karakternya sekarang.

Kisah perjalanan paling mengesankan bagi Windy Ariestanty

Perjalanan paling mengesankan bagi Windy Ariestanty. Foto dari ig @windy_ariestanty

Bagi Windy, semua perjalanan selalu memiliki kesan yang berbeda, satu dengan yang lainnya. Satu pengalaman yang paling diingatnya adalah ketika solo traveling pertama kali dari Blitar ke Palembang. Dalam perjalanan ini, Windy, seorang anak kelas 6 SD harus menjadi saksi kepolisian atas tragedi kecelakaan bus yang dinaikinya.

Kala itu Windy duduk tepat di belakang kursi supir dan satu-satunya penumpang yang terjaga saat kecelakaan terjadi. Windy, dengan kepercayaan dan dukungan sang ayah melalui telepon dia pun memberi kesaksian dengan penuh tanggung jawab.

Perjalanan lain yang juga tak kalah berkesan adalah ketika Windy melakukan perjalanan seorang diri ke Amerika Serikat. Saat hendak kembali ke Indonesia, ia harus tinggal selama 24 jam di Bandara Chicago. Di sini ia justru bertemu dengan seorang nenek yang bekerja di sebuah restoran chinese di bandara tersebut. Lewat perbincangan dengan nenek tersebut, Windy justru mendapat pelajaran tentang arti “pulang”. Inilah yang menjadi cikal bakal inspirasinya menulis buku Life Traveler.

Semua tempat memiliki karakter masing-masing

Semua tempat punya keunikan dan karakter sendiri-sendiri. Foto dari ig @windy_ariestanty

“Jalan-jalan ke luar negeri atau ke Indonesia itu sama sekali nggak bisa dibandingkan. Semua tempat itu punya keunikan dan karakter sendiri-sendiri. Kalau kita ngebandingin satu tempat dengan tempat yang lain, berarti kita udah berlaku nggak adil,” jelas Windy.

Bagi Windy, semua tempat selalu punya ceritanya sendiri. Dan seharusnya tak perlu membandingkan antara tempat yang satu dengan yang lain, termasuk luar negeri vs Indonesia. Baginya, saat melakukan perjalanan, harusnya kita hanya perlu menikmati perjalanan itu. Kita tinggalkan semua yang kita tahu agar kita bisa berhenti membanding-bandingkan. Seperti yang dikatakannya, membandingkan satu tempat dengan tempat lain itu tak adil.

“Di mana kalian berada, di sanalah seharusnya kamu bisa melihat tempat itu sebagai tempat kamu berada saat ini,” kata Windy.

Mungkin sedikit perbedaan traveling di Indonesia dan di luar negeri, Eropa misalnya terletak pada sensasinya. Di Eropa semua sudah sudah tertata rapi dan informasi mudah didapat. Berbeda dengan di Indonesia yang kadang informasi tak bisa didapat dari internet. Ini mengapa traveling di Indonesia justru lebih menimbulkan tantangan.

Harus banyak bertanya dan berinteraksi dengan warga lokal, itulah yang disukai Windy selama berjalan ke banyak tempat di Indonesia. Namun faktanya, Windy juga lebih memilih menyimpan gawainya saat melakukan perjalanan di luar negeri dan tetap memilih untuk bertanya. Karena bagi Windy, hanya dengan cara itu dia bisa berinteraksi dan memulai percakapan dengan orang di sekitarnya.

Baca juga : Christopher McCandless, Sosok yang Dianggap Sebagai Petualang Sejati Bagi Pemujanya

Inspirasi untuk menuangkan cerita dalam sebuah buku berjudul Life Traveler

Orang-orang yang menginspirasi Windy Ariestanty. Foto dari ig @windy_ariestanty

Pengalamannya selama melakukan perjalanan dan cerita-cerita dari orang yang ditemuinya di perjalanan membawa Windy pada sebuah karya berjudul Life Traveler. Buku tersebut berisi pengalaman Windy, juga inspirasi dari banyak orang selama perjalanan yang dia lakukan.

Buku Life Traveler mengajarkan tentang arti penting berinteraksi dengan lingkungan sekitar saat traveling. Karena cerita, sebetulnya sudah terkumpul di tempat yang dituju, hanya saja bagaimana kita mengumpulkan cerita itu. Juga, tentunya berbagi tentang pentingnya menghargai momen.

Berbagi lebih banyak lewat IWasHere

Berbagi lebih banyak lewat IWasHere. Foto dari ig @windy_ariestanty

Tak hanya berbagi cerita lewat buku, Windy Ariestanty juga mengajak lebih banyak orang untuk membagikan cerita mereka lewat IWasHere.

“IWasHere bisa dibilang agregator perjalanan. Di mana orang nggak perlu pusing browsing kanan kiri, tapi cukup punya aplikasi ini orang udah bisa mendapat banyak konten perjalanan di sini sesuai minat masing-masing,” jelas Windy.

IWasHere sendiri dideklarasikan Windy sejak Desember 2016 lalu bersama Murni, Pramitra dan beberapa rekan lain. Platform pertama yang digunakan adalah sosial media Instagram, lalu melalui bantuan beberapa teman, IWasHere mulai merambah ke aplikasi dan website.

Tulisan naratif adalah salah satu genre tulisan yang diperjuangkan di IWasHere. Windy berharap lewat cerita dari banyak orang, makin banyak juga orang yang terinspirasi.

Selain itu, IWasHere juga terbuka untuk konten tulisan berupa panduan atau tips.

“Kami merayakan semua jenis tulisan. Karena kembali lagi, setiap perjalanan pasti punya cerita yang berbeda dari orang yang berbeda pula,” cerita Windy.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU