facebook pixel

Traveling Itu Seperti Candu, Jadi Jalan-jalanlah Semampumu

Karena Kamu satu-satunya orang yang berhak memutuskan seberapa jauh kakimu melangkah.


Traveling itu seperti candu, kalau Kamu nggak bisa menggunakannya dengan bijak, maka dia akan membunuhmu

ironi traveling

Karena Kamu adalah satu-satunya orang yang berhak memutuskan kemana kakimu akan melangkah. Foto berasal dari sini

Belakangan, trend traveling memang semakin ramai. Mereka anak generasi millennial dengan lantang menyerukan, hidup cuma sekali, traveling yuk sebelum mati.

Saya pun bagian dari mereka. Ikut menyuarakan serunya jalan-jalan. Salah satu caranya dengan memposting foto dan video perjalanan di instagram.

Gunung, laut, pantai, kota, candi, tempat ibadah, bahkan padang ilalang yang bukan objek wisata pun saya singgahi. Destinasi manapun yang tampak cantik nggak luput dari ambisi pribadi untuk dikunjungi.

Semakin ke sini, saya makin bimbang, sebenarnya apa sih yang saya cari dari jalan-jalan? Menghilangkan penat atau ambisi mencentang lebih banyak destinasi perjalanan? Atau hanya sekadar ingin dapatkan symbol “love” di instagram?

Traveling itu bisa bikin lebih bahagia. Bisa ngobati patah hati juga

Entahlah, apa sebenarnya tujuan traveling buat saya. Yang saya tahu, saat hati mulai nggak tenang, itulah tandanya saya harus mengemas barang dan meninggalkan kehidupan nyata. Dan nyatanya jalan-jalan memang seperti obat yang bisa sembuhkan banyak masalah.

Masalah hati yang nggak kunjung hilang, nyatanya bisa sembuh setelah saya sering lakukan perjalanan. Bertemu dengan banyak orang yang jauh lebih nggak beruntung telah membuka pikiran kalau perihal hati bukanlah suatu hal yang harus terus diratapi. 

Yap, karena sejatinya, jalan-jalan bisa membuat siapapun jadi lebih bahagia. Persis seperti apa yang udah diungkapkan Thomas Gilovichseorang peneliti dari Cornell University. Dia menyebutkan bahwa orang yang sering jalan-jalan relatif hidup lebih bahagia. 

Pengalaman-pengalaman yang membekas di hati saat jalan-jalan, akan menimbulkan kebahagiaan yang bisa bertahan lebih lama katanya. Saya sendiri merasakannya. Hingga sekarang, saya masih suka tertawa kalau menceritakan ulang momen nggak terlupakan saat jalan-jalan. Meskipun berulang kali diceritakan, namun rasa yang muncul tetap sama. Menyenangkan. 

Selain itu, traveling adalah sekolah pengembangan diri terbaik bagi siapapun yang melakukannya dengan baik 

Jauh sebelum kenal kebebasan traveling, saya adalah sosok yang sangat pemalu dan penakut. Hanya berjalan di depan gang rumah saja, saya harus menundukkan kepala saking malunya. Atau saat di bangku SMA, untuk minta izin ke toilet saja, saya butuh berkali-kali bulatkan tekad dan beranikan diri menghadap ibu guru. Kalau teman bangku sekolah saya dulu membaca tulisan ini, mungkin mereka masih nggak nyangka, saya yang sekarang sudah berani jalan-jalan sendirian.

Menjadi berani adalah satu dari sekian banyak manfaat traveling bagi saya. Maka, saya pun dengan lantang mengatakan “traveling adalah sekolah terbaik untuk mengembangkan diri”.

Tapi, pada akhirnya, traveling itu adalah candu. Jika tidak digunakan sesuai dosis yang tepat, dia bisa saja membunuhmu

Seperti yang selalu disampaikan banyak orang. Pasti ada sisi positif dan negatif dari suatu hal. Jika traveling dilakukan dengan bijaksana dan dengan perhitungan yang tepat, akan ada banyak manfaat yang bisa diambilnya. 

Yang sangat disayangkan, ketika racun traveling pada akhirnya “membunuh” orang-orang yang kurang bijak bertindak. Alih-alih keluar dari zona nyaman dan hasilkan uang untuk mencukupi kehidupan selayaknya traveler sukses di Indonesia seperti Trinity, Pergi Dulu, atau pun Lostpacker, mereka malah menyoretkan tinta merah di kehidupannya demi jalan-jalan.

Kamu masih ingat si Sispai? Seorang cewek cantik yang hebohkan twitter karena hutangnya yang banyak buat jalan-jalan? Kasus ini menjadi ramai setelah seorang teman yang dirugikan berkicau di twiter. Dia menyebutkan cewek cantik ini rela hutang puluhan juta dan nggak dibayar-bayar demi dapatkan kemewahan traveling.

Kalau belum baca kisahnya, Kamu bisa baca di sini.

Lalu, ada Marieta Safitri, sama-sama berparas cantik, cewek ini pun nekat buka agen perjalanan abal-abal. Entah sudah berapa banyak korbannya. Yang jelas, tindakan Marieta ini pun merugikan banyak orang.

Dan, ironi candu traveling seperti ini pun nggak hanya terjadi di Indonesia. Di luar sana, sempat ramai diberitakan para backpacker yang berasal dari benua biru malah ngamen, menjual barang, dan mengemis sumbangan buat biaya perjalanan. Saat di Indonesia banyak orang yang meminta-minta untuk menyambung hidup, mereka malah mengemis sumbangan demi rasakan mewahnya traveling. 

Miris dan ironis. Demi bisa jalan-jalan, mereka merugikan orang lain. Demi bisa bisa kunjungi di banyak destinasi, mereka mempermalukan diri sendiri. Kalau sudah begini, apa yang bisa dibanggakan? Sampai kapan pun, nama mereka akan dikenal sebagai traveler dengan label buruk.

Jadi? Travelinglah semampumu 

Saya memang nggak seberani dan sehebat mereka yang nekat lakukan apapun demi wujudkan ambisi jalan-jalan ke destinasi-destinasi keren di dunia. Saya hanya berani berjalan di jalur yang aman. Liburan pun hanya saat akhir pekan, libur panjang, atau ambil cuti dari pekerjaan. Kalau ada uang lebih dan waktu yang cukup, syukur-syukur bisa liburan ke destinasi impian.

Tapi saya bersyukur. Keterbatasan waktu libur dan sulitnya izin cuti jadi realitas pembatas yang mengamankan saya dari bahaya traveling yang mematikan. Beruntung, saya masih waras. Masih bisa membedakan antara realitas dengan ambisi di luar nalar. 

Jadi, jalan-jalanlah semampumu. Toh yang dicari dari perjalanan bukan seberapa jauh destinasi yang dituju, tapi seberapa banyak pengalaman yang bisa diciptakan kan?  

***

banner experience