7 Orang yang Membuat Saya Menjadi Traveler yang Lebih Bijak

Orang-orang ini menunjukan pelajaran berharga padaku. NIkmati hidup dan Menjadi Traveler yang lebih baik.

Ditulis Oleh Shabara Wicaksono

1. Ayahku yang Rajin Menggendongku Diatas Pundaknya Sewaktu Aku Kecil

Mungkin kalian lupa, orang tualah yang pertama mengajarkan kita betapa menyenangkannya traveling. Waktu kecil aku masih cukup ingat sering diajak ayah bepergian ke tempat-tempat baru seperti taman dekat rumah hingga ke kebun binatang kota.

Aku ingat selalu dipanggul di atas pundaknya sewaktu jalan-jalan. Tempat-tempat tujuan kami memang tak begitu jauh. Sewaktu dewasa aku terpikir ayah mungkin hanya ingin menunjukan bahwa banyak tempat menarik di luar rumah. Sebuah ilmu dasar dari traveling.

Dulu, beliau selalu ramah saat berkenalan dengan orang-orang baru yang ditemui di taman. Bayangan-bayangan kala itu masih cukup segar. Sifat yang coba tetap kupertahankan saat aku bepergian kemanapun. Aku tak akan menjadi traveler yang baik tanpa dirinya.

2. Pak Listyo, Petani Ikan Ambarawa dengan Topi Safari Lusuh dan Rokok Mati di Mulutnya

Topi safari lusuh dan rokok mati yang menempel menjadi ciri khasnya. Beberapa kali mengambil gambar di Rawa pening aku sering berjumpa dengannya. Awalnya aku sempat ragu untuk mengawali pembicaraan dengan Pak Listyo.

Tampilan sangarnya membuatku mengira dirinya bukan tipe orang yang suka mengobrol basa-basi dengan orang yang tak dikenalnya. Di luar dugaan dirinya sangat jenaka. Gurauan-gurauan cerdas sering dilontarkan saat kami mengobrol. Umurnya sekitar 70-an tahun.

Beliau bercerita saat muda dirinya sangat suka bepergian.

“Apa itu traveling mas? Saya ndak lulus sekolah jadi ndak paham” tanyanya lugu saat kutanya pernah traveling kemana saja.

Dulu Pak Listyo sering berjalan jauh ke tempat-tempat yang tak pernah dia kunjungi. Terkadang baru kembali setelah 1 minggu lebih. Tempat paling jauh yang pernah dia kunjungi sambil berjalan kaki adalah Cilacap.

Dulu berjalan ke tempat jauh masih aman dan memungkinkan. Tak ada kendaraan ugal-ugalan di jalanan. Suasana juga sangat kondusif. Tak perlu khawatir pada rampok. Semua orang masih ramah ketika ditanya.

“Sekarang ndak berani saya Mas, bisa-bisa pulang tinggal nama” Pak Listyo terkekeh.

Aku dibuat takjub oleh Pak Listyo.

“Sampeyan mumpung masih muda harus berani Mas, lha kalau udah tua seperti saya apa bisa kamu pergi-pergi?” Pak Listyo memberikan wejangan-wejangannya.

3. Penambang-Penambang Tradisional Kawah Ijen Banyuwangi dengan Bahu yang Bengkak Mengeras

Tiap hari mereka berjalan membawa beban berat sekira 70 kg dalam sekali jalan untuk membawa potongan belerang ke kaki gunung. Nyawa menjadi taruhan. Medan yang dilalui cukup curam dan licin. Berjalan biasa saja susah. Hebatnya, langkah mereka nampak begitu ringan. Padahal saat kucoba mengangkat keranjang berisi bongkahan belerang tersebut aku harus mengerahkan seluruh tenaga. Itupun hanya terangkat sedikit. Aku bahkan nyaris terjerembab.

Untuk 1 kg belerang yang mereka bawa dihargai Rp 800,-.

“Ini jalan hidup saya mas, terima saja. Toh biarpun begini uang saya halal, anak istri masih bisa makan. Anak saya juga bisa kuliah. Yang penting tekun dan nrimo. Tiap orang punya rejekinya masing-masing.”

Aku malu pada diri sendiri yang masih sering mengeluh pada keadaan.

4. Ridd, Bule Australia yang Melempar “Batu” Padaku di Karimunjawa

“Jika aku diberi pilihan untuk mengelilingi dunia atau Indonesia, aku akan mengelilingi Indonesia”. Aku serasa ditimpa sebuah batu besar. Omongan yang keluar dari mulut Ridd seorang guru bahasa inggris asal Australia tersebut diucapkan dengan santai, namun aku benar-benar merasa tertohok.

“Kalian punya semua, kalian tak butuh dunia, dunialah yang butuh kalian.”

Mimpiku adalah mengelilingi dunia. Mimpi sejak sekolah menengah. Tak pernah terlintas ingin mengelilingi negara tercinta ini. Alasannya simpel, keliling dunia nampak lebih bergengsi.

Omongan seorang warga negara luar yang begitu memuja Indonesia membuatku malu. Aku sendiri tak se-“nasionalis” bule itu.

Ridd membuatku bertekad untuk menjelajah surga-surga tersembunyi di Indonesia dan mengenalkannya pada dunia luar.

5. Bapak Tukang Tambal Ban di Wonosobo dengan Tato Naga di Tangan

“Jangan melihat buku dari sampulnya”. Pepatah yang sering kudengar sejak kecil. Aku setuju.

Ban bocor di jalan menanjak Wonosobo pukul 5 pagi merupakan salah satu hal terburuk. Niat menyusul teman-temanku untuk menikmati sunrise Sikunir gagal sudah. Kanan kiri hanya ada pohon-pohon besar. Udara dingin yang menusuk, ditambah perut keroncongan karena belum sempat sarapan membuat penderitaanku lengkap.┬áBeruntung setelah setengah jam mendorong motor aku melihat sebuah ruko dengan plang bertuliskan “tambal ban”.

Di depan ruko nampak sesosok pria sedang santai duduk di sebuah kursi plastik. Melihatku, tiba-tiba dia berlari kecil mendekat.

“Wah bocor di mana mas?” Aku menunjuk jauh kearah belakang.
Pria tersebut membantu mendorong motorku hingga ke tempat tambal ban yang teryata adalah miliknya.

“Untung udah dekat rumah warga mas, kalau bocor tengah hutan bahaya, sering ada begal (rampok).” Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya. Pria ini bertubuh tinggi besar dan berambutnya gondrong. Tato naga di lengannya menambah kesan sangar. Umurnya sekitar 50-an tahun.

Ruko yang digunakan sebagai tempat tambal ban ini ternyata juga berfungsi sebagai rumah. Sembari menunggu bangku selesai di-press, dirinya masuk kedalam ruko. Setelah agak lama dirinya keluar.

“Silakan mas, nggak usah malu-malu.” Aku terkejut. Dirinya menawarkan semangkuk mi rebus panas dan segelas teh.

Tentu aku curiga. Apalagi kalau bukan karena penampilannya yang sangar.

“Keburu dingin lho mas mienya.”

Rasa lapar dan dingin mengalahkan semua. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan semua yang disajikan di depanku.

“Lapar to mas? makanya nggak usah malu-malu” pria itu tertawa keras.

Ketika kutanya perihal keluarganya, dirinya bercerita bahwa dia tinggal sendirian. Istri dan anaknya meninggal karena tipus. Tak adanya biaya membuat istri dan anaknya hanya dirawat seadanya di rumah sehingga tipus mereka makin parah dan tak tertolong.

“Dulu kerjaan saya cuma mabuk sama judi mas, saya khilaf.”

Dirinya mengaku selalu terngiang nasehat mendiang istrinya untuk bertobat. Penyesalannya karena dulu tak dapat menafkahi keluarga sebagaimana mestinya, dia tebus dengan rutin memberi makan anak-anak yatim sekitar daerahnya.

“Saya kasihan tadi lihat mas ngedorong motor, anak saya kalau masih hidup mungkin udah seumuran mas.”
Ketika akan kubayar dirinya menolak. Dia bahkan memberiku bekal beberapa bungkus roti kering.

“Buat bekal di jalan mas kalau lapar.”

Seorang berperawakan preman dan nampak mencurigakan ternyata memiliki sifat sangat baik. Kelakuannya sangat bertolak belakang dengan beberapa pejabat di atas sana yang berpenampilan necis, namun begitu bejat.

Tiap perjalanan mempunyai kisah tersendiri. Keyakinan akan bertemu berbagai orang dengan karakteristik menarik di luar sana membuatku tak pernah bosan bepergian.

6. Gadis dalam Bus dengan Rambut Berwarna Cokelat dan Kacamata Tebal

Traveling selalu memberi hal baru. Rasa bosan membuatku memberanikan mengobrol dengan seorang gadis yang duduk di sampingku. Sedari tadi kulihat dia hanya memandang keluar jendela. Aku yakin dia pun bosan.

“Ke rumah orang tua mas”. Begitu jawabnya ketika kutanya tempat tujuannya. Pertanyaan “kemana tempat tujuan” selalu berhasil sebagai basa-basi.

“Masnya?” Dia bertanya balik. Ketika kujelaskan aku hanya ingin mencoba naik bisa ke Jogja dirinya mengangkat alis. Aku dapat membaca pikirannya, dia pasti mengira aku seorang kurang kerjaan.
Penampilannya tomboy, rambut panjangnya digulung asal-asalan. Celana jeansnya berlubang di lutut.

“Masnya mau nyopet?” Dia bertanya dengan santainya. Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaannya.
“Itu melirik-lirik terus ke saya”. Baik, aku memang tak ahli memata-matai. Hanya beberapa detik dan dia langsung sadar aku mengamatinya.

“Masnya suka jalan-jalan? buat apa mas?” Lagi-lagi sebuah pertanyaan yang membuatku mengerutkan kening. Aku jalan-jalan untuk bersenang-senang, menghibur diri, tak pernah terpikir sebuah alasan untuk apa jalan-jalan. Aku menyukainya. Kurasa kalimat itu cukup.

” Nggak usah jalan-jalan kalau cuma mau bikin orang lain sakit mas.” Dirinya menunjuk sebuah puntung rokok yang tadi kubuang ketika bis akan berangkat. Saat bis masih berhenti aku memang sempat merokok beberapa isap dalam bus karena sayang rokok yang masih panjang kubuang.

Aku baru sadar ternyata dia begitu terganggu dengan asap rokokku. Aku hanya meminta maaf dan tak berani mengajaknya mengobrol lagi. Kata-kata sindiran yang terlontar dengan amat santai, namun sangat mengena.

Obrolan singkat yang memberi pelajaran berharga. Membuatku lebih peka pada orang lain.

7. Seorang Penulis Wanita Berambut Pendek

Aku hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisan di blog.

Dirinya tak pernah mau disebut sebagai traveler. “Saya penulis.” Demikian dirinya selalu memperkenalkan diri pada orang baru. Tulisan renyah, ringan dan membuatku serasa berada langsung di tempat tersebut.

Aku benar-benar pemula dan bodoh soal menulis, maksudku seorang pemula sepertiku pun dapat memahami bahwa gaya tulisannya begitu menarik. Ada yang beda dari tulisan-tulisannya.

Caranya bertutur membuat traveling terlihat jauh lebih menyenangkan. Inspiratif. Tulisannya membuatku ingin segera berkemas dan keluar rumah. Thanks, Windy Ariestanty.

Dapatkan ulasan menarik lainnya tentang AMBARAWA, tulisan lain Shabara Wicaksono

Gabung dengan Phinemo Community, kumpulkan poin dengan membagikan pengalaman jalan-jalan kamu dan tukarkan dengan reward dari Phinemo Partner. Gabung Sekarang ->
Next Post