Idhan Dhanvantary Lubis dan Kisah Pendakian Terakhirnya Bersama Gie di Semeru

Meski kalah tenar dari Soe Hok Gie, pendaki wajib tahu sosok Idhan Dhanvantary Lubis. Pendaki yang meninggal bersama Gie di Gunung Semeru dengan segala prinsip pendakiannya yang menginspirasi. Jangan mendaki untuk menaklukkan gunung!

Ditulis Oleh Rizqi Y

Idhan lubis.

Soe Hok Gie tak bisa dipisahkan dari sesosok pendaki legendaris yang menjadi inspirasi bagi para pegiat alam masa kini. Gie meninggal dalam dekapan Gunung Semeru bersama sahabatnya, Idhan Dhanvantary Lubis pada 16 Desember 1969. Selama ini sosok Idhan memang jarang dibahas karena nama Gie jauh lebih fenomenal kala itu.

Aku tidak pernah berniat menaklukkan gunung! Mendaki gunung hanyalah bagian kecil dari pengabdian. Pengabdianku kepada YANG MAHA KUASA! – Idhan Lubis

Itulah salah satu perkataan Idhan Lubis yang masih terngiang hingga kini. Sebuah petuah sekaligus nasehat bagi para pegiat atau pencinta alam agar tak menjadikan dirinya lebih agung dari Sang Maha Pencipta. Merasa bisa menaklukkan gunung, yang sesungguhnya tak pernah bisa ditaklukkan oleh manusia manapun.

Baca juga : Meniru Soe Hok Gie, Naik Gunung Demi Kebaikan Negeri

Kisah di balik pendakian Gunung Semeru Idhan Dhanvantary Lubis

Idhan Dhanvantary Lubis

Idhan Dhanvantary Lubis saat pendakian di Gunung Semeru. Sumber

Sebuah eposide terakhir dalam Hikayat Mahabaratha ternyata menjadi api penyulut obsesi Idhan Dhanvantary Lubis untuk mendaki ke Gunung Semeru. Hikayat Mahabaratha ini menceritakan tentang Pandawa Lima yang pulang ke Swarga Loka melalui Arcopodo. Sebuah tempat di Gunung Semeru yang konon dikawal Dewa Kembar, sebuah pintu masuk ke surga langit Mahameru.

Pertengahan tahun 1968, Idhan Lubis mengenal dan bersahabat dengan Herman O Lantang. Seorang anggota Mapala Universitas Indonesia. Herman O Lantang lantas menjadikan obsesi Idhan Dhanvantary Lubis menjadi nyata. Dia mengajak Idhan mendaki Gunung Semeru pada tahun 1969 bersama teman-teman Mapala UI lainnya, termasuk Soe Hok Gie. Tepatnya tanggal 12 Desember 1969, rombongan mereka berangkat dari Stasiun Kereta Api Gambir menuju Malang, tempat bertenggernya Semeru.

Pendakian ini benar-benar mengantar Idhan Lubis pada gerbang surga langit Mahameru. Tanggal 16 Desember 1969, Idhan Lubis yang kala itu masih berusia 20 tahun dan masih aktif sebagai mahasiswa Universitas Tarumanegara meninggal dalam dekapan Semeru bersama Soe Hok Gie.

Sebuah firasat akan perjalanan terakhir Idhan Dhanvantary Lubis

Idhan Dhanvantary Lubis

Sosok Idhan Dhanvantary Lubis yang meninggal di Semeru bersama Soe Hok Gie. Sumber

Sebuah firasat itu mungkin datang pada Idhan Lubis sesaat sebelum dirinya pergi mendaki ke Gunung Semeru. Idhan Lubis sempat memutuskan untuk datang ke Bandung dan berpamitan pada seluruh keluarganya yang ada di sana. Satu hal yang tak pernah dilakukan Idhan Lubis pada pendakian sebelum-sebelumnya. Bahkan Idhan Lubis pun jarang memberi tahu orang tuanya jika pergi mendaki.

Beberapa hari menjelang keberangkatan ke Jawa Timur, Idhan Lubis bahkan terus menulis dan mencoretkan nama “Mahameru” dan “Puncak Semeru”. Idhan Lubis menulisnya di setiap tempat yang memungkinkan, kapan saja dan di mana saja.

Baca juga : 7 Orang Ini yang Telah Menginspirasi Para Pendaki Indonesia dari Dulu Hingga Kini

Dalam tidur pun Idhan Lubis kerap mengigau tentang Gunung Semeru. Dirinya mengigau hingga menyebut-nyebut nama Arcopodo. Sebuah tempat dalam kisah Mahabaratha yang menjadi gerbang surga langit Mahameru tersebut. Tingkah-tingkah aneh inipun membuat saudaranya merasa heran, namun tak punya firasat apapun tentang Idhan.

Benar saja, tepat tanggal 16 Desember 1969 Idhan Lubis melakukan perjalanan terakhirnya menuju Mahameru, tempat yang selalu menjadi impiannya.

Idhan Dhanvantary Lubis dan puisi-puisinya

Idhan Dhanvantary Lubis

Sebuah firasat Idhan Lubis sebelum pergi selamanya. Sumber

Firasat Idhan Lubis ternyata tak hanya disampaikan pada keluarganya, namun juga pada sahabatnya Herman O Lantang. Tanggal 8 Desember 1969, Idhan Dhanvantary Lubis menulis sebuah sajak berjudul “Djika Berpisah”.

Puisi tersebut ditulisnya saat petang di rumahnya yang berada di Polonia. Berikut adalah kutipan puisi Idhan Lubis.

Pro: Herman O. Lantang

Djika Berpisah

Di sini kita bertemu, satu irama
di antara wadjah2 perkasa…
tergores duka dan nestapa,
tiada putus asa
tudjuan esa puntjak mendjulang di sana
Bersama djatuh dan bangun
di bawah langit biru pusaka…
antara dua samudra…
Bersama harapanku djuga kau
satu nafas
kita jang terhempas
pengabdian… dan… kebebasan…
Bila kita berpisah
kemana kau aku tak tahu sahabat
atau turuti kelok2 djalan
atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan
hanja bila kau lupa
ingat…
Pernah aku dan kau
sama – sama daki gunung – gunung tinggi
hampir kaki kita patah – patah
nafas kita putus – putus
tudjuan esa, tudjuan satu:
Pengabdian dan pengabdian kepada….
…Jang Maha Kuasa …

Dari : Idhan Lubis
Polonia, 8 Desember 1969

Dapatkan ulasan menarik lainnya tentang TOKOH PENDAKI, tulisan lain Rizqi Y

Tag : , , , , ,



Berikan Komentar di Bawah

Airy Rooms
Next Post