Semua Orang Bisa Jadi Guru Saat Traveling, Termasuk Kamu

Bercangkrama dengan penduduk lokal, tak sekedar menikmati alam dan ilmu baru yang didapat, tapi kita juga bisa bertukar ilmu yang kita miliki untuk mereka

SHARE :

Ditulis Oleh: Prameswari Mahendrati

photo by Frontierofficial

Guru paling berharga adalah pengalaman, katanya, dan traveling adalah bagian dari sebuah pengalaman yang banyak mengajarkan banyak hal. Setuju dengan perkataan yang sedemikian banyaknya saya temukan di berbagai blog traveling.

menikmati destinasi, dinasehati penduduk lokal dan dilempar batu oleh seorang bule, lalu pulang dengan oleh-oleh sebuah kisah yang lama-kelamaan akan menjadi kenangan klasik tersendiri.

Pelajaran baru yang tak dijumpai dibangku kuliah, itulah yang selalu saya peroleh setiap kali berkunjung ke berbagai sudut destinasi. Lalu apa bedanya saya seperti mahasiswa lain, hanya selalu dicekoki pelajaran ini dan itu. Jika di Suku A aturannya B, jika di Tana C aturannya D.

Traveling seperti sebuah praktikum, menerapkan teori packing, itinerary, manajemen keuangan yang telah dipersiapkan sebelumnya, setelah itu terjun ke lapangan dan memperoleh realitas yang berbeda dari ekspektasi. Menerima pelajaran ilmu budaya yang tak pernah dijelaskan dibuku atau mesin pencari pintar, Google.

Saya memang bukan travel addict, informasi yang saya cari tak melulu identik dengan traveling, itinerary, dan promo tiket. Beberapa hal menarik juga bisa menjadi perhatian, salah satunya yang berhubungan dengan masalah dan isu sosial.

Menikmati secangkir teh hijau sambil memandang layar laptop sebagai jendela dunia masa kini. Sebuah link yang muncul di timeline sosial media dengan headline “Indonesia Mengajar” berhasil menarik perhatian.

Betapa hebatnya mereka, menjamah pelosok negeri bukan hanya untuk menikmati naturalnya alam dan desa tradisional. Lebih dari sekedar itu, petualangan dengan memberikan bekal ilmu pengetahuan untuk mencerdaskan gereasi penerus.

Imajinasi liar saya mulai lepas, flashback dengan kegiatan traveling yang telah saya lakukan. Berbagai pertanyaan pun berdatangan di kepala. Sudah berapa banyak desa terpencul yang telah dijamah? Apa yang sudah saya berikan untuk penduduk lokal? dan Apa yang didapat setelah traveling?

Kulihat foto yang terpajang di ruang tamu, ada tiga deret foto lawas dengan warna memudar. Satu foto bertuliskan Wonosalam, Jombang, foto lainnya bertuliskan Bromo dan Pantai Buyutan, Pacitan.

Teringat cerita klasik beliau tentang pengalaman di ketiga tempat dalam foto itu. Bukan foto atau destinasi yang membuat saya terinspirasi untuk melakukan traveling selanjutnya, tapi motiv terselubung yang ada di balik kata traveling.

“Mengajar dan belajar” dua kata yang menjadi motiv bagi seorang pengajar dengan passion traveling. Sebuah tujuan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di dalam benak saya.

Jangan mengaku sebagai traveler kalau belum menjadi duta wisata, minimal di negerimu dan jangan mengaku sebagai makhluk sosial jika belum memberi pengaruh balik dengan orang-orang yang kamu jumpai

Begitulah pesan seorang ibu, namun saya lebih nyaman menyebutnya pengajar untuk saat ini. Traveling bermotiv mendidik, “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”, sembari menikmati destinasi, sekaligus berbagi ilmu untuk anak-anak warga lokal.

Toh, berita-berita di media yang menghakimi bahwa Indonesia masih memiliki kualitas pendidikan yang rendah bukan sekedar kabar burung. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun masih ada yang belum melek huruf. Paling tidak itulah yang dialami oleh ibu saya ketika berkunjung ke Wonosalam, Jombang.

Saat itu, tingkat melek huruf masih cukup rendah. Remaja yang tak dapat membaca apalagi menulis jumlahnya cukup mencengangkan. Perjalanan Jombang-Malang pun terhenti di desa kecil untuk berbagi ilmu.

“give meaning not money” sebuah slogan yang menyadarkan saya betapa pentingnya makna yang kita berikan ketimbang selembar uang. Menyenangkan warga lokal di desa terpencil dengan berbagi cerita tentang dunia luar, mengajarkan bahasa asing, atau sekedar membaca dan berhitung.

Percayalah, hal sepele bagimu, tentu akan menjadi berarti bagi mereka jika disampaikan dengan cara yang bersahabat.

Cobalah sesekali berperan sebagai volunteer dalam sisi lain travelingmu. Saling belajar dan saling mengisi satu sama lain, maka perjalananmu akan lebih bermakna.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU