Saat Bahasa Menjadi Kendala di Perjalanan

Foto oleh sfubiz.ca

aiesec

Foto oleh sfubiz.ca

Dapatkah kamu mengulanginya?’ ini kali ketiga pria paruh baya berkacamata bingkai tebal yang duduk di samping saya meminta saya untuk mengulang pertanyaan saya.

Saya mulai sungkan dan merasa tak enak untuk mengulang pertanyaan saya. Namun pria tersebut memberi isyarat pada saya agar segera mengulang pertanyaan saya.

Saya tersesat dan bermaksud menanyakan letak hotel saya. Yang saya ingat, hotel tempat saya menginap terletak di sebelah perpustakaan. Saya mencoba memakai bahasa isyarat, gerakan orang membaca buku, menggambar bangunan di buku kecil saya, karena menurut saya menggambarkan perpustakaan lebih mudah daripada menggambarkan hotel, toh jika saya bisa menemukan perpustakaan saya bisa menemukan hotel.

Saya senang bukan kepalang saat pria itu mengacungkan jempol tanda mengerti dan langsung menggambarkan peta di buku saya menuju perpustakaan.

Komunikasi itu butuh kesabaran

Di Jepang, meski kondisi saat ini anak mudanya mulai banyak yang menguasai bahasa Inggris, namun tetap banyak generasi lanjut (orang-orang tua) yang tak dapat berbahasa Inggris. Hal ini cukup menyulitkan saat berkomunikasi.

Hal yang cukup memalukan seperti saat saya harus menanyakan,’apakah ada lobak di kios ini?’ menggunakan bahasa isyarat pada seorang nenek penjual sayur di dekat penginapan saya. Beberapa orang yang lewat tertawa kecil melihat adegan saya memperagakan sayur lobak menggunakan 2 tangan seperti menggenggam sesuatu. Beruntung si nenek cepat tanggap, dia menarik saya ke dalam kiosnya dan menyuruh saya melihat sendiri stok sayuran yang dia punya. Akhirnya saya berhasil menemukan lobak dan menyerahkannya pada si nenek.

Meski hanya tinggal selama 1 minggu di Jepang, cukup memberi saya banyak sudut pandang baru tentang “komunikasi”. Saat awal berangkat saya sangat khawatir tentang masalah bahasa. Apakah saya dapat berkomunikasi di sana? Haruskah saya menggunakan bahasa isyarat di jalan umum? Apakah mereka mengerti yang saya maksud? Bagaimana jika mereka tak juga paham? Hal yang saya pelajari selama di Jepang, manusia seperti punya “sesuatu” untuk saling  memahami apa yang disampaikan, meski hanya dengan bahasa isyarat sekalipun. Hal yang membuat saya salut dari kebiasaan orang di luar negeri, mereka sangat sabar dan tak sungkan untuk mengulangi saat kita memang benar-benar tak paham. Jangan pura-pura paham dan kita sendiri pun jangan sungkan mengulangi pertanyaan kita karena hal tersebut akan merugikan diri kita sendiri, apalagi jika hal itu berkaitan dengan arah.

Meski berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat kemungkinan salah paham cukup besar, hal itu bisa diatasi asal kita sabar.

Jangankan di negara dengan pemahaman bahasa Inggris yang minim seperti Jepang, berbincang dengan orang dari negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari pun masih sangat mungkin terjadi salah paham.

Seorang kawan yang bekerja paruh waktu sebagai instruktur selam di Karimun jawa, bercerita bahwa ternyata pengucapan bahasa Inggris masing-masing negara berbeda. Dia memberi perhatian khusus pada hal ini karena salah komunikasi dalam memberi instruksi penyelaman bisa berdampak pada keselamatan.

Ada orang dari Afrika, bilang “three” seperti “free”, “water” terdengar seperti “huatah”, dan lagi mereka kalau ngomong sangat cepat. Saya lebih suka pengucapan orang-orang Belanda atau Tiongkok, pelafalannya jelas, bahkan daripada orang Inggris itu sendiri. Orang Inggris kalau ngomong agak sengau.’

Nekat

Seorang teman pernah berkata alasannya malas pergi ke luar negeri adalah karena kendala bahasa. Dia merasa tak terlalu pintar berbahasa Inggris.

Bahasa bukan kendala.

Hal tersebut bukan alasan, asalkan ada niat semua bisa teratasi. Cukup menjadi seorang yang nekat dan “muka tembok”. Jangan malu mengucapkan apa yang ingin kita sampaikan, meski kita tak yakin itu benar. Ucapkan saja, tak usah pikirkan apakah harus menggunakan present tense, past tense, future tense, apalagi tentang grammar. Jika orang dapat membalas apa yang kita ucapkan, itu berarti mereka paham dengan maksud kita. Dan kalaupun salah, hal tersebut tak memalukan.  Jika mereka baik hati, mereka akan mengoreksi pengucapan kita. Beruntung, kita mendapat pelatihan bahasa Inggris gratis.

Seperti seorang bayi, dia bisa berbicara karena terbiasa mendengar orang-orang disekitarnya bicara menggunakan bahasa tersebut. Faktor pekerjaan yang membuat saya harus sering berurusan dengan orang dari berbagai negara bahkan membuat saya dapat menerka asal negara mereka dari aksen Inggrisnya. Misal, orang Jerman lebih tegas aksennya, orang Amerika berbicara dengan intonasi yang lebih tinggi atau orang Prancis yang khas dengan sengau-sengaunya -bahasa Inggris orang Prancis agak sulit dipahami jika tak terbiasa.

***

Bahasa hanya alat untuk berkomunikasi. Manusia memiliki kemampuan khusus menggunakan bahasa universal, kemampuan untuk saling berkomunikasi meski dengan bahasa berbeda. Tak perlu takut ke luar negeri hanya karena kendala bahasa. Sering-sering mencoba dan tak perlu takut salah. Ingat, pengalaman adalah guru terbaik.

Dapatkan ulasan menarik tentang dan tulisan Lain dari Faiz Jazuli

Tags: ,

Paket Produk Penawaran

Pajang Paket Perjalanan Anda Disini. Klik Untuk Daftar