Monumen Ketenangan Jiwa, Tempat Terbaik Menikmati Senja di Semarang

Tempat ini mungkin bukan tempat wisata yang terkenal di Semarang, namun tetap memiliki pesona tersendiri. Keindahan yang tampak berbeda membuatnya menjadi sesuatu yang berkesan dan berhasil mencuri perhatian saya.

SHARE :

Ditulis Oleh: Hanindyo N.P

Foto oleh Hanin

Di salah satu sudut penjara, ada kata-kata, “Hidup kemerdekaan Indonesia!”, yang ditulis oleh tentara Jepang dengan darahnya sebelum tewas.

Sebagai salah satu kota besar yang telah berusia ratusan tahun, Semarang memiliki banyak peninggalan sejarah dari berbagai suku dan bangsa. Tak terkecuali peninggalan dari negeri matahari terbit, Jepang, yakni berupa Monumen Ketenangan Jiwa atau dalam bahasa Jepang disebut Chinkon no Hi (鎮魂の碑).

Terletak di area Pantai Baruna, membuatnya menjadi peninggalan sejarah yang terasa berbeda.

Jalan masuk ke area pantai ini terletak di jalan Arteri Pelabuhan – Bandara, tepat di sebelah kiri perempatan pertama setelah perempatan puri Anjasmoro. Jalan masuk ke pantai masih jalan tanah yang cukup menyusahkan. Pantai akan susah untuk dimasuki sehabis hujan, karena jalan tanah akan berubah menjadi lumpur yang akan menghambat kendaraan.

Sesuai dengan namanya, suasana yang sangat tenang menyambut saya ketika berkunjung ke sini. Sejenak melepas rasa penat hiruk pikuk dan panasnya perkotaan. Sepi dan sunyi, hanya ada hembusan angin dan sayup-sayup suara deburan ombak di kejauhan yang terasa menenangkan.

Sensasi bertualang ala game RPG

Untuk mencapai lokasi monumen ini, kamu akan merasakan sensasi seperti sebuah misi bertualang ala game RPG. Hal ini karena jalannya yang masih berupa tanah dan banyak terdapat padang rumput/semak-semak di sekitarnya. Jalannya pun berbelok-belok yang bisa membuat tersesat jika salah ambil belokan. Selain itu, adanya bangunan yang mirip guild semakin menambah kesan sedang berada dalam game RPG. Jika beruntung, mungkin kamu bisa mendapatkan item langka untuk misi di sini.

Menikmati senja, warna yang indah, namun terasa sendu

Foto oleh Hanin

Area ini berupa kombinasi padang rumput luas, pantai berbatu, sisa-sisa reruntuhan dermaga, langit biru, serta kumpulan awan, mengingatkan saya pada pemandangan indah di film animasi Kumo no Mukou, Yakusoku no Basho karya Shinkai Makoto. Suatu kombinasi yang bagus untuk melakukan sesi pemotretan, cosplay photo session misalnya. Saya memilih sesi pemotretan dengan salah satu koleksi figurine yang saya bawa. Area yang luas membuat ingin mengambil banyak foto dengan latar berbeda-beda.

Di tempat ini pertama kalinya saya merasa melihat matahari senja yang indah di Semarang.

Semburat warna jingga bertemu dengan berbagai warna yang ada pada lanskap wilayah pantai menciptakan suatu perpaduan warna yang apik. Terasa ada nuansa nostalgic yang tidak bisa dijabarkan lebih lanjut. Saya menyebutnya: senja menggila.

Mengetahui sejarah dari sudut pandang yang berbeda

Foto oleh Hanin

Suatu sudut pandang sejarah mengenai Pertempuran Lima Hari di Semarang yang agak berbeda, ditulis dari pihak Jepang, saya dapatkan di sini melalui sebuah deskripsi singkat yang terpahat di monumen. Tidak tertulis banyak, tetapi cukup menjadi wawasan baru yang tidak akan kau dapatkan di buku pelajaran sekolah.

Pasca Indonesia merdeka, pihak tentara Jepang dilarang oleh pihak Sekutu untuk menyerahkan persenjataan ke pihak Indonesia. Namun, pihak Indonesia merasa perlu mengambil persenjataan Jepang. Karena itulah meletus Pertempuran Lima Hari di Semarang. Ratusan tentara Jepang (di monumen ditulis ratusan orang tak berdosa dan rindu kampung halaman) diserang dan dipenjara di Penjara Bulu. Sekitar 150 orang tentara Jepang akhirnya tewas di Penjara Bulu. Di salah satu sudut penjara, ada kata-kata, “Hidup kemerdekaan Indonesia!”, yang ditulis oleh tentara Jepang dengan darahnya sebelum tewas.

Saya menangkapnya sebagai sejarah Pertempuran Lima Hari dari sudut pandang pihak Jepang yang tak ada di buku pelajaran sekolah Indonesia, dimana menurut mereka sebenarnya mereka pun tidak ingin terjadi pertempuran dengan kubu Indonesia karena hanya menimbulkan kematian.

Menuju monumen ini: masuk sampai mentok ketemu pertemuan Banjirkanal Barat dan Laut Jawa, terus belok kiri (ke selatan) sekitar 100 meter, monumen persis di pinggir Banjirkanal. Satu-satunya yang pavingan di situ

***

Tempat ini mungkin bukan tempat wisata yang terkenal, namun tetap memiliki pesona tersendiri. Keindahan yang tampak berbeda membuatnya menjadi sesuatu yang berkesan dan berhasil mencuri perhatian saya.

SHARE :



REKOMENDASI




ARTIKEL KEREN PALING BARU